Kamis, 30 Juni 2016

Terapi keluarga dan terapi kelompok

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 07.03 0 komentar
TERAPI KELUARGA

Terapi keluarga adalah cara baru untuk mengetahui permasalahan seseorang, memahami perilaku, perkembangan simtom dan cara pemecahannya. Terapi keluarga dapat dilakukan sesama anggota keluarga dan tidak memerlukan orang lain, terapis keluarga mengusahakan supaya keadaan dapat menyesuaikan, terutama pada saat antara yang satu dengan yang lain berbeda

Tujuan konseling keluarga terutama adalah untuk mengerti keluarga penderita gangguan skizofrenia, konseling keluarga dianggap cara baru untuk mengerti dan menangani penderita gangguan mental. Kemudian konseling keluarga tidak hanya berguna untuk menangani individu dalam konteks keluarga, tetapi juga keluarga yang tidak berfungsi baik.

Model-model pendekatan-pendekatan baru yang dikembangkan dalam konseling keluarga yaitu:

1. Multiple Family Therapy
Keluarga-keluarga yang terpilih menemui konselor tiap minggu, dan pada waktu itu mereka menceritakan problem mereka masing-masing dan membantu sesama dalam pemecahan persoalan
2. Multiple impact Therapy
  Mencakup seluruh keluarga dalam sederetan interaksi yang berkelanjutan dengan konselorkonselor komunitas yang multidisipliner mungkin selama dua hari. Terapi ini mencakup pemberian konseling secara penuh selama dua hari atau lebih kepada satu keluarga.
3. Terapi jaringan (Network Therapy)
Berusaha memobilisasi sejumlah orang untuk berkumpul dalam suatu krisis untuk membentuk suatu kekuatan terapeutik. Tujuan ini adalah untuk memperkuat kekuatan dari jaringan yang dikumpulkan untuk memberi kesempatan untuk berubah di dalam sistem keluarga tersebut.




MODEL TERAPI DALAM KELUARGA

1. Experiential/Humanistic
            Tujuan dari terapi ini adalah insight, kematangan psikoseksual, penguatan fungsi ego, pengurangan gejala patologis, dan memuaskan lebih banyak relasi obyek. Kerangka umumnya adalah sejadian saat ini yaitu data terkini dan dari pengalaman yang di observasi secara langsung. Aturan dari proses ketidaksadaran adalah pilihan bebas dan kesadaran akan kemampuan diri lebih penting daripada motivasi yang tidak disadari.

Fungsi utama dari terapis adalah sebagai fasilitaor aktif pada potensi-potensi untuk pertumbuhan dan menyediakan keluarga pada pengalaman baru. Jenis-tenis terapi yang digunakan dalam pendekatan experiential/ humanistic adalah sebagai berikut:
a. Terapi pengalaman (Experiential or symbolic family therapy)
Menggunakan pendekatan non-teoritis dalam terapi tetapi lebih menekankan pada proses, yaitu sesuatu yang terjadi selama tahapan terapi keluarga dan bagaimana setiap orang mengalami perasaan-perasaan dan perubahan pada perilakunya.
b. Gestalt family therapy
Menekankan pada pengorganisasian diri secara menyeluruh. Focus utamanya adalah membantu individu melalui transisinya dari keadaan yang selalu dibantu oleh lingkungan ke keadaan mandiri (self support).
c. Humanistik
Terapis berperan dalam memperkaya pengalaman keluarga dan memperbesar kemungkinan setiap anggota keluarga untuk menyadari keunikan dan potensi mereka yang luar biasa.
d. Pendekatan proses/komunikasi
Terapis dan keluarga bekerjasama untuk menstimulasi proses healting-promoting. Pendekatan yang digunakan adalah mengklarifikasi adanya ketidaksesuaian dalam proses kemunikasi diantara anggota keluarga.

2. Bowenian
       Tujuan terapi adalah memaksimalkan diferensiasi diri pada masing-masing anggota keluarga. Kerangka umumnya dari Bowen adalah mengutamakan masa kini dan tetap memperhatikan latar belakang keluarga. Atauran dari ketidaksadaran adalah konsep terkini yang menyatakan konflik yang tidak disadari meskipun saat ini tampak pada masa interaktif. Fungsi utama dari terapis adalah langsung tapi tidak konfrontasi dan dilihat melalui penyatuan keluarga. Bowen mencoba menjembatani antara pendekatan yang berorientasi pada psikodinamika yang menekankan pada perkembangan diri, isu-isu antar generasi dan peran-peran masa laludengan pendekatan yang membatasi perhatian pada unit keluarga dan pengaruhnya dimasa kini.

Bowen menggunakan 8 konsep dalam dalam sistem hubungan emosional dalam keluarga yang digunakan Bowen untuk menganalisis kasus adalah sebagai berikut:
a. Pebedaan individu
b. Triangulasi
c. Sistem emosional keluarga
d. Proses proyeksi keluarga
e. Pemutusan emosional
f. Proses penularan multigenerasi
g. Posisi saudara kandung
h. Regenerasi masyarakat

3. Psikodinamika
Tujuan dari terapi psikodinamika ini adalah pertumbuhan, pemenuhan lebih banyak pada pola interaksi yang lebih. Psikodinamikan memandang keluarga sebagai sistem dari interaksi kepribadian, duimana setiap individu mempunyai usb-sistem yang penting dalam keluarga, sebagaimana keluarga sebagai sebuah sub-sistem dalam sebuah komunitas. Terapis menjadi fasilitator yang menolong keluarga untuk menentukan tujuannya sendiri dan bergerak kearah mereka sebagaimana sebuah kelompok. Kerangka umum adalah masa lalu, sejarah dari pengalaman terdekat yang perlu diungkap. Aturan dari ketidaksadaran adalah konflik dari masa lalu yang tidak terselesaikan akan Nampak pada perilaku sadar seseorang secara kontineu untuk mrnghadapi situasi dan obyek yang ada sekarang. Fungsi utama dari terapis bersikap netral artinya membuat intepretasi tehadap pola perilaku individu dan keluarga.
  
4. Behavioral
Tujuan dari terapi behavioral adalah merubah konsekuaensi perilaku anatar pribadi yang mengarah pada penghilangan perilaku maladaptif atau problemnya. Kerangka umum dari pendekatan behavioral adalah masa kini yang lebih memfokuskan pada lingkungan interpersonal yang terpelihara dan muncul terus dalam pola perilaku terkini. Fungsi utama dari terapis adalah direktif, mengarahkan,  membimbing atau model dari perilaku yang diinginkan dan negosiasi kontrak Jenis terapi keluarga yang biasa digunakan dalam pendekatan behavioral guna menyususn kembali sebuah keutuhan keluarga adalah:
a. Behavioral marital therapy 
b. Behavioral parent training

5. Struktural
Tujuan dari model pendekatan structural adalah perubahan pada konteks hubungan dalam rangka rekonstruksi organisasi keluarga dan merubah pola disfungsi transaksional. Kerangka umum pendekatan struktural adalah masa kini dan masa lalu yaitu struktur keluarga dipandang dari pola transaksioanal permulaan, dengan kata lain struktur keluatga masa kini dipengaruhi oleh pola-pola transaksional sebelumnya. Fungsi dari terapis adalah direktur panggung, yaitu memanipulasi struktur keluarga dalam rangka mengubah setting disfungsional. Pendekatan yang biasa digunakan dalam terapi struktural untuk memanipulasi struktur keluarga adalah:
a. Menyusun ulang kesatuan disfungsional
b. Teknik intervensi structural
6. Komunikasi
Tujuan pendekatan komunikasi adalah mengubah perilaku disfungsional dan rangkaian perilaku yang tidak diinginkan antara anggota keluarga serta memperbanyak sekuensi perilaku diantara anggota keluarga untuk mengurangi timbulnya masalah-masalah dan simptomsimptom kerangka umum dari pendekatan komunikasi adalah masa kini yaitu problem terkini atau perilaku yang sedang terjadi berulang secara konsisten atar individu. Fungsi dari terapis adalah aktif, manipulative, problem fokus, paradoksial dan memberikan petunjuk.

PERAN INTERVENSI BAGI KONSELOR KOMUNITAS

Peran dari konselor komunitas dalam membantu klien dalam menyelesaikan permasalahan dalam keluarga ada lima, peran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sebagai assessor atau penilai.
2. Pemberi informasi atau pendidikan
3. Pengembang sistem support
4. Memberikan tantangan bagi keluarga
5. Member fasilitas prevensi

PROSES KONSELING

Dalam konseling ada beberapa proses yang harus dijalankan sebagai pelaksanaan dari sebuah konseling. Ada empat langkah dalam proses konseling, proses tersebut adalah sebagai berikut:
a. Mengikutsertakan keluarga
b. Menilai masalah
c. Strateg-strategi khusus, dan
d. Follow-Up

TERAPI KELOMPOK

         Definisi Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama (Stuart et al, 2005). Terapi Kelompok adalah salah satu metoda Pekerjaan sosial yang menggunakan kelornpok sebagai rnedia dalam proses pertolongan profesionalnya. Dalam literature Pekeriaan Sosial metode ini sering disebut sebagai groupwork atau group theraphy. Praktik Pekerjaan Sosial dalam kelompok bukanlah fenomena baru. Di Amerika, misalnya, metode ini telah diterapkan lebih dari setengah abad yang lalu. Pada saat itu para Pekerja sosial meyakini bahwa intervensi yang berbasis pada kelornpok sangat efektif dan efisien dalam memecahkan rnasalah individu maupun masalah sosial. Terapi Kelompok mirip dengan masalah-masalah yang ditangani oleh Terapi lndividu seperti konseling. Yang membedakan dengan Terapi lndividu adalah pendekatannya. Terapi Kelompok tidak menggunakan pendekatan yang bersifat perseorangan, melainkan menggunakan kelompok sebagai media penyembuhan. lndividu-individu yang mengalami masalah sejenis disatukan dalam kelompok penyembuhan dan kemudian dilakukan terapi dengan dibimbing atau didampingi oleh seorang atau satu tim pekerja Sosial.

         Tujuan terapi kelompok Menurut Hartford dan Alissi metoda Terapi Kelompok digunakan untuk memelihara atau memperbaiki keberfungsian personal dan sosial para anggota kelompok dalam beragam tujuan, yakni
(1) tujuan korektif
(2) tujuan preventif
(3) tujuan pertumbuhan sosial norma
(4) tujuan peningkatan personal
(5) tujuan peningkatan partisipasi dari tanggungjawab masyarakat



         Menurut Suherman, 2013. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam terapi kelompok antara lain :
1. Membantu anggotanya menghadapi stress dalam kehidupan, berfokus pada disfungsi perasaan, pikiran dan perilaku.
2. Menawarkan dukungan kepada klien dari seorang terapis selama periode krisis, atau dekompensasi sementara, memulihkan, dan memperkuat pertahanan sementaraserta mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu
3. Mempertahankan homeostasis terhadap adanya perubahan yang tidak diperkirakan sebelumnya maupun kejadian yang terjadi secara bertahap.
4. Menurunkan rasa terisolasi, meningkatkan penyesuaian kembali dan juga hubungan bagi komunitas yang bermasalah serta meningkatkan kemampuan memecahkan masalah (Stuart et al, 2005)

Kelebihan dan kelemahan terapi kelompok
         Dalam proses dinamika kelompok terdapat faktor yang menghambat maupun memperlancar proses tersebut yang dapat berupa kelebihan maupun kekurangan dalam kelompok tersebut (Townsend, 2009).
Kelebihan Terapi Kelompok :
1. Keterbukaan antar anggota kelompok untuk member dan menerima informasi dan pendapat anggota lain.
2. Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan menekan kepentingan pribadi demi tercapainya tujuan kelompok.
3. Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan norma yang telah
disepakati oleh kelompok. (Townsend, 2009)

Kekurangan terapi kelompok
         Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak anggota kelompok yang berjauhan yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas pertemuan.(Townsend, 2009)
Komponen kelompok dalam terapi kelompok
1.     Struktur kelompok
Struktur kelompok menjelaskan batasan, komunikasi, proses pengambilan keputusan dan hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga stabilitas dan membantu pengaturan pola perilaku dan interaksi. Struktur dalam kelompok diatur dengan adanya pemimpin dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh pemimpin, sedangkan keputusan diambil secara bersama (Stuart et al, 2005).
2.     Besar kelompok
   Menurut Dr. Wartono (1976) dalam Yosep (2007), Jumlah ideal anggota kelompok 7-8 orang. Jumlah minimum anggota kelompok berkisar 4 orang dan jumlah maksimum 10 orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya tidak semua anggota mendapat kesempatan mengungkapkan perasaan, mengemukakan pendapat dan pengalamannya. Jika terlalu kecil maka tidak cukup variasi informasi dan interaksi yang terjadi (Stuart et al, 2005).

  Lamanya sesi Waktu optimal untuk satu sesi adalah 20 – 40 menit untuk fungsi terapi rendah, dan 60 – 120 menit untuk fungsi kelompok yang tinggi. Biasanya dimulai dengan orientasi, kemudian tahap kerja dan terminasi. Frekuensi pertemuan dapat disesuaikan dengan tujuan kelompok, dapat satu kali atau dua kali per minggu atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan (Stuart et al, 2005).
3.  Komunikasi
  Salah satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting adalah mengobsevasi dan menganalisis pola komunikasi dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik untuk memberikan kesadaran pada anggota kelompok terhadap dinamika yang terjadi. Pemimpin kelompok dapat mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik interpersonal, tingkat kompetisi, dan seberapa jauh anggota kelompok mengerti serta melaksanakan kegiatan.
4.     Peran kelompok Pemimpin (leader)
  Harus memiliki kemampuan dalam proses yang terjadi pada kelompok, seperti adanya interupsi, peningkatan intonasi suara, sikap menghakimi antar anggota kelompok selama interaksi berlangsung. Dengan kata lain pemimpin harus peka terhadap adanya konflik yang mungkin terjadi di dalam kelompok. Pemimpin juga harus memiliki kemampuan pengetahuan menyeluruh terhadap kelompok, pengetahuan tentang topic atau isu yang sedang didiskusikan dalam kelompok. Selain itu juga pemimpin harus memiliki kemampuan mempresentasikan topic dengan bahasa yang dapat di mengerti oleh anggota kelompok (Stuart et al, 2005).
5.     Kekuatan kelompok

  Kekuatan kelompok adalah kemampuan anggota kelompok dalam mempengaruhi jalannya kegiatan kelompok. Untuk menetapkan kekuatan kelompok yang bervariasi diperlukan kajian siapa yang paling banyak mendengar dan siapa yang membuat keputusan dalam kelompok (Stuart et al, 2005).

DAFTAR PUSTAKA

David, H Olson, dkk, 2000 Empowering Couples; Buliding or your strengths

Goldenberg, Irene & Goldenberg, Herbert. 1985. Family Therapy: An Overview

Hershenson, David B, Power, Paul W, Waldo Michael. 1996. Community Conseling, Boston: Allyn and Bacon.

Howard, A.L, dkk, 2001. Family Psychology. Sciencebased intervention, APA; Woshington DC.

Rabu, 06 April 2016

Terapi Behaviour

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 06.04 0 komentar
Pengertian Terapi Behaviour

Gerald Corey menjelaskan bahwa behavior adalah pendekatan­ pendekatan terhadap konseling dan psikoterapi yang berkaitan dengan pengubahan tingkah laku. Pendekatan, teknik dan prosedur yang dilakukan berakar pada berbagai teori tentang belajar.

Terapi behavior adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan­ kebutuhan hidup, yang dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Aktifitas inilah yang disebut sebagai belajar.

Sejarah Terapi Behaviour

Terapi behavior diawali pada tahun 1950-an dan awal 1960-an di Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan Inggris sebagai awal radikal menentang perspektif psikoanalisis yang dominan. Fokusnya adalah pada menunjukkan bahwa teknik pengkondisian perilaku yang efektif dan merupakan alternatif untuk terapi psikoanalitik.

Secara garis besar, sejarah perkembangan pendekatan behavior terdiri dari tiga trend utama, yaitu :

Gelombang 1  : Pada tahun 1960 Albert Bandura mengembangkan teori belajar sosial, yang dikombinasikan pengkondisian klasik dan operan kondisioning sdengan pembelajaran observasional. Bandura membuat kognisi fokus yang sah untuk terapi bahavior. Selama tahun 1960-an sejumlah pendekatan perilaku kognitif bermunculan, 
dan mereka masih memiliki dampak signifikan pada praktek terapi. Terapi behavior kontemporer muncul sebagai kekuatan utama dalam psikologi selama 1970-an, dan itu memiliki dampak signifikan pada pendidikan, psikologi, psikoterapi, psikiatri, dan pekerjaan sosial. Teknik behavior yang diperluas untuk memberikan solusi terhadap masalah bisnis, industri, dan membesarkan juga anak. Dikenal sebagai "gelombang pertama" di lapangan behavior, teknik terapi behavior dipandang sebagai pilihan perawatan untuk banyak  masalah psikologis.

Gelombang 2  : Tahun 1980-an yang ditandai dengan pencarian konsep dan metode baru yang melampaui teori belajar tradisional. Terapis behavior melakukan evaluasi terhadap metode yang mereka gunakan dan mempertimbangkan dampak dari praktek terapi pada klien mereka dan masyarakat yang lebih luas. Meningkatnya perhatian diberikan kepada peran emosi dalam perubahan terapi, serta peran faktor biologis dalam gangguan psikologis. Dua perkembangan yang paling signifikan adalah 
(1) munculnya terus terapi kognitif behavior sebagai kekuatan utama dan 
(2) penerapan teknik perilaku untuk pencegahan dan pengobatan  gangguan kesehatan terkait.
Pada akhir 1990-an Asotiation Behavior and Cognitive Therapi (ABCT) menyatakan keanggotaan dari sekitar 4.300. Gambaran saat ABCT adalah "sebuah organisasi keanggotaan lebih dari 4.500 profesional kesehatan mental dan mahasiswa yang tertarik dalam terapi bahavior berbasis empiris atau terapi behavior kognitif." Perubahan nama dan deskripsi mengungkapkan pemikiran saat ini mengintegrasikan terapi perilaku dan kognitif. Terapi kognitif dianggap sebagai “gelombang kedua” dari tradisi behavior.

Gelombang 3  : Pada awal 2000-an, "gelombang ketiga" dari tradisi perilaku muncul, memperbesar ruang lingkup penelitian dan praktek. Perkembangan terbaru termasuk terapi perilaku dialektis, kesadaran berbasis pengurangan stres, kesadaran berbasis terapi kognitif, dan penerimaan dan terapi komitmen.

Teknik Terapi Behaviour

Untuk mencapai tujuan dalam proses konseling diperlukan teknik­ teknik yang digunakan. Untuk pengubahan perilaku ada sejumlah teknik yang dapat dilakukan dalam terapi behavior, yaitu:

a. Desensitisasi Sistematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik relaksasi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya berupa kecemasan, dan mnyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan dengan cara memberikan stimulus yang berangsur dan santai.

b. Terapi Implosif Terapi Implosif dikembangkan atas dasar pandangan tentang seseorang yang secara berulang­ ulang dihadapkan pada situasi kecemasan dan konsekuensi­ konsekuensi yang menakutkan ternyata tidak muncul, maka kecemasan akan hilang. Atas dasar itu klien diminta untuk membayangkan stimulus­ stimulus yang menimbulkan kecemasan.

c. Latihan Perilaku Asertif Latihan perilaku asertif digunakan untuk melatih individu yang mengalami kesulitan untuk menyatakan dirinya bahwa tindakannya layak atau benar.

d. Pengkondisian Aversi
Teknik pengkondisian diri digunakan untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan, sehingga perilaku yang tidak dikehendaki tersebut terhambat kemunculannya.

e. Pembentukan Perilaku Model Perilaku model digunakan untuk membentuk perilaku baru pada
klien, memperkuat perilaku yang sudah terbentuk dengan menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, baik menggunakan model audio, model fisik atau lainnya yang dapat teramati dan dipahami jenis perilaku yang akan dicontoh.

f. Kontrak Perilaku
Kontrak perilaku adalah persetujuan antara dua orang atau lebih (konselor dan klien) untuk mengubah perilaku tertentu pada klien. Dalam terapi ini konselor memberikan ganjaran positif dipentingkan daripada memberikan hukuman jika kontrak tidak berhasil.

Langkah-Langkah Terapi Behaviour
Menurut Wingkel fase­fase dalam proses konseling dalam layanan konseling individualnya yaitu
a. Pembukaan, membagun hubungan pribadi antara konselor dan konseling.
1) Menyambut kedatangan konseli.
2)      Mengajak berbasabasi sebentar.
3)      Menjelaskan kekhususan dari berwawancara konseling.
4) Mempersilahkan konseli untuk mengemukakan hal yang ingin dibicarakan.

b. Penjelasan, menerima ungkapan konseli apa adanya serta mendengarkan dengan penuh perhatian. Berusaha menentukan jenis masalah dan pendekatan konseling yang sebaiknya diambil.

c. Penggalian latar belakang masalah, mengadakan analisa kasus, sesuai dengan pendekatan konseling yang dipilih.

d. Penyelesaian masalah, menyalurkan arus pemikiran konseli, sesuai dengan pendekatan konseling yang dipilih.

e. Penutup, megahiri hubungan pribadi dengan konseli.
1) Memberikan ringkasan jalannya pembicaraan.
2) Menegaskan kembali ketentuan / keputusan yang ingin diambil.
3) Memberikan semangat.
4) Menawarkan bantuannya bila kelak timbul persoalan baru.
5) Berpisah dengan konseli.

Dapus :
Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Winkel. (2010). Bimbingan dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.
 

Hasna putri anggraini Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos