Senin, 28 Desember 2015

Analisis Jurnal Motivasi

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 02.24 0 komentar
Kelompok         :  Mawar
Nama Anggota : 

  • Anisa Alyela                       19513947 
  • Dima Septiana Putri            12513466 
  • Hasna Putri anggraini          13513977 
  • Nadya Laksmitha D.W        16513296 
  • Silvi Rahmadianti                18513486  






Kelas:   3PA02


Tugas Review Jurnal

Judul                           : Pengaruh Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja, dan Komitmen            
                                     Organisasional Terhadap Kinerja Pegawai
Jurnal                          : Jurnal PIO
Volume & Halaman    : Vol. 5 No. 1 Juli 2011: 75-86
Tahun                          : 2011
Penulis                         : Suwardi dan Joko Utomo

1.  Latar Belakang
            Menurut Deassler (1993 : 5), motivasi adalah keadaan dalam diri seseorang yang terdorong oleh keongonan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi menurut Hiejrahman dan Husnan (1992 : 37) adalah suatu proses untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita. Kartono (1981 : 257) mengatakan motivasi adalah sebab, alasan dasar, pikiran dasar, dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang selalu berpengaruh besar terhadap tingkah laku manusia. Morrison (1993) memberikan pengertian motivasi sebagai kecenderungan seseorang melibatkan diri dalam kegiatan yang mengarah sasaran. Jika perilaku tersebut mengarah pada suatu obyek atau sasarannya maka dengan motivasi tersebut akan diperoleh pencapaian target atau sasaran yang sebesar-besarnya sehingga pelaksanaan tugas dapat dikerjakan dengan sebaik-baiknya, sehingga efektivitas kerja dapat tercapai. Motivasi adalah salah satu karakteristik psikologis manusia yang memberikan kontribusi pada tingkat komitmen seseorang, termasuk didalamnya faktor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan menopang perilaku manusia pada sebuah arah tertentu yang dilakukan (Stoner, 1995). Motivasi sebagaimana didefinisikan Robbins merupakan kemauan untuk menggunakan usaha tingkat tinggi untuk tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan usaha untuk memenuhi beberapa kebutuhan individu (Robbins, 1998). Dalam definisi ini ada tiga elemen penting yaitu usaha, tujuan organisasi, dan kebutuhan.
            Kepuasan kerja mempunyai peran penting dalam rangka mendukung tercapainya tujuan instansi. Kepuasan kerja memberikan sumbangan yang besar terhadap keefektifan organisasi, serta merangsang semangat kerja dan loyalitas. Menurut Drs. Tjihno Windryanto, M.Si (2004 : 80) Kepuasan kerja atau job satisfaction pada dasarnya merupakan keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, dan para karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya dan ini nampak pada perilaku dan sikap pegawai dalam kehidupan sehari-hari, biasanya tijunjukkan dalam hal tanggapan yang positif dalam bekerja. Perlu disadari bahwa kepuasan kerja merupakan faktor yang mendorong pegawai/karyawan lebih giat bekerja dan sekaligus sebagai motivasi dalam bekerja. Kepuasan kerja sering kali disamakan dengan sikap seseorang terhadap pekerjaan (Miner , 1998). Sikap tersebut diartikan sebagai tingkat perasaan positif atau negatif yang dirasakan seseorang terhadap obyek tertentu seperti tempat, benda atau orang lain. Robbins (1996) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai sikap secara umum dan tingkat perasaan positif sesorang terhadap pekerjaannya.
            Komitmen organisasional membahas kedekatan karyawan terhadap organisasi dimana mereka berada (Laschinger, 2001 : 10). Konsep komitmen organisasional memiliki tiga aspek yaitu percaya dan menerima tujuan/nilai organisasi; rela berusaha mencapai tujuan organisasi; dan memiliki keinginan yang kuat untuk tetap menjadi anggota organisasi. Komitmen organisasional menurut Gibson (1997) adalah identifikasi rasa, keterlibatan loyalitas yang ditampakkan oleh pekerja terhadap organisasinya atau unit organisasi. Komitmen organisasional ditunjukkan dalam sikap penerimaan, keyakinan, yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan sebuah organisasi, begitu juga adanya dorongan yang kuat untuk mempertahankan kenggotaan dalam organisasi demi tercapainya tujuan organisasi.
            Meyer, Allen & Gellatly (dalam Greeberg & Baron, 1995) mengidentifikasi komitmen 79 Analisis Manajemen Vol. 5 No. 1 Juli 2011 organisasional dalam tiga kajian yaitu : Komitmen sebagai attachment untuk organisasi; Komitmen dengan pertimbangan biaya apabila meninggalkan organisasi dan; Komitmen sebagai suatu obligation untuk menetap di dalam organisasi. Mitchel (1982) memandang komitmen organisasional sebagai suatu orientasi nilai terhadap kerja yang menunjukkan individu sangat memikirkan pekerjaannya, sebab pekerjaan memberikan kepuasan hidup dan memberikan suatu status bagi individu. Konsep tentang komitmen organisasional, berkembang dari studi awal mengenai loyalitas pada pegawai yang diharapkan ada pada diri pegawai tersebut. Keterikatan kerja yang erat merupakan suatu kondisi yang dirasakan para pegawai yang dapat menimbulkan perilaku positif yang kuat terhadap organisasi yang dimiliki. Mowdey (1982) mendefinisikan komitmen kerja sebagai kekuatan relative dan identifikasi individu dan keterlibatan dengan organisasi kerja. Suatu telaah dari Mowdey menunjukkan bahwa komitmen kerja merupakan predictor turnover yang cukup reliabel, pegawai dengan komitmen tinggi biasanya lebih tahan bekerja serta produktif dan berorientasi kearah pencapaian tujuan organisasi yang bersangkutan.

2.  Tujuan
Penelitian dilakukan untuk menguji pengaruh variabel motivasi kerja (X1), kepuasan kerja (X2) dan komitmen organisasional (X3) terhadap kinerja pegawai (Y) dilingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati yang mencakup 9 bagian, dimana menurut data terakhir jumlah populasi sebanyak 312 orang. Sampel dilakukan secara Proporsional Random Sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan perbandingan. Peneliti memproporsionalkan jumlah populasi berdasarkan jumlah pegawai yang ada dimasing-masing Bagian dilingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati. Berdasarkan perhitungan dengan rumus Slovin jumlah sampel sebanyak 76 orang. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa hipotesis (H1) yang menyatakan bahwa motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja dan hipotesis (H2) yang menyatakan bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja serta hipotesis (H3) yang menyatakan komitmen organisasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, diterima. Demikian juga hipotesis (H4) yang menyatakan bahwa motivasi, kepuasan, dan komitmen organisasional secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, diterima. Hasil pengujian ini dapat dimaknai bahwa pegawai yang memiliki motivasi dan kepuasan kerja yang tinggi, maka akan cenderung mempunyai kinerja yang tinggi terhadap organisasi. Untuk mencapai kinerja yang tinggi, maka motivasi dan kepuasan kerja pegawai di Sekretariat Daerah Kabupaten Pati harus ditingkatkan.

3.  Metode
Setelah menidentifikasi variabel dalam suatu masalah dan mengembangkan kerangka teoritis, langkah berikutnya adalah mendesain data yang diperlukan dapat dikumpulkan dan dianalisis untuk sampai pada solusi (Uma Sekaran, 2001 : 152). Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang tengah berlangsung pada saat riset dilakukan dengan memeriksa sebab-sebab dari suatu permasalahan yang muncul ( Husein Umar, 2000 : 22 ). Selain itu, keputusan harus dibuat, misalnya mengenai jenis sampel yang digunakan (desain sampel), bagaimana data dikumpulkan (metode pengumpulan data), bagaimana variabel diukur (pengukur), dan bagaimana variabel dianalisis untuk menguji hipotesis (analisis data). (Uma Sekaran, 2001 : 152). Datadata yang diambil dalam penelitian ini adalah mengenai variabel leader member exchange, motivasi dan komitmen organisasional dan kinerja pegawai serta data-data / catatan-catatan lain yang mendukung variabel tersebut.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 1999 : 67). Dalam suatu penelitian, populasi yang dipilih berhubungan erat dengan masalah yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati yang berjumlah 312 orang. Karena keterbatasan yang ada, maka peneliti tidak menganalisis seluruh populasi. Sebagian dari jumlah populasi diambil sebagai sampel. Sampel penelitian dilakukan menggunakan metode Proportional Random Sampling yaitu didalam pengambilan sampel berdasarkan perbandingan (Wiyono, 1999 : 484). Peneliti memproporsionalkan jumlah populasi berdasarkan jumlah pegawai yang ada di masing-masing Bagian di Sekretariat Daerah Kabupaten Pati. Dari populasi karyawan Sekretariat Daerah Kabupaten Pati yang berjumlah 312 karyawan, sampel yang diambil sebanyak 76 (tujuh puluh enam) orang yaitu dengan cara proporsi dari jumlah pegawai yang ada di tiap-tiap Bagian Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Pada penelitian ini data primer diperoleh dari jawaban kuesioner yang dibagikan kepada responden. Kuesioner dibagikan kepada 76 (tujuh puluh enam) orang responden yang merupkan pegawai di Sekretariat Daerah Kabupaten Pati. Kuesioner tersebut merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui tanggapan responden terhadap motivasi kerja, kepuasan kerja, komitmen organisasional dan kinerja.
Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari buku-buku, laporan-laporan dan dokumen yang berhubungan dengan variabel yang diteliti. Data yang diambil guna mendukung penelitian adalah data kepegawaian dan data absensi pegawai di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.
Pengujian hipotesis pertama dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda karena faktor yang dikehendaki yaitu faktor motivasi kerja, kepuasan kerja dan komitmen organisasional. Dengan menggunakan analisis ini diperoleh hasil pengolahan data untuk menguji hipotesis pertama. Hipotesis pertama diuji dengan mengunakan uji t dan koefisien determinasi (R2) (Subiyakto, 1995, h. 187-124) untuk menentukan tingkat signifikan faktor-faktor motivasi kerja, kepuasan kerja dan komitmen organisasional terhadap kinerja pegawai di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pati sebagai berikut:
Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh suatu variabel penjelas/independent secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.
Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara variabel-variabel independent (X) terhadap variabel dependent (Y). Berdasarkan hasil pengolahan data jika F hitung untuk variabel dependent terhadap independent lebih besar dibandingkan dengan F tabel (F-hit > F-tab) maka hipotesis Ha diterima, artinya ada pengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama antara variabel independent terhadap variabel dependent.
Untuk mengetahui sejauh mana ketepatan atau kecocokan suatu garis regresi sampel dalam mencocokkan sekumpulan data, diperlukan suatu ukuran lazim yang dinamakan koefisien determinasi (R2 ). Dalam Gujarati (1991) bahwa koefisien determinasi (R2 ) merupakan ukuran seberapa baik garis regresi mencocokkan data (a measure of the goodness of fit). Secara verbal, koefisien determinasi mengukur proporsi atau persentase total variasi dalam variabel tak bebas yang dijelaskan oleh variabelvariabel bebas secara bersama-sama dalam model regresi.

4.  Hasil  
            Dari tabel ANOVA pada output SPSS, dapat disimpulkan bahwa dengan tingkat kepercayaan 95 persen model ini signifikan dengan nilai F sebesar 41,938 derajat bebas yang dimiliki adalah 3 dan 72, serta tingkat signifikansi adalah 0,000 lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti jika diuji secara bersamasama maka minimal ada satu dari ketiga variabel bebas yaitu: Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja. Dengan kata lain Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasional secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kinerja.
            Dari hasil pengujian dengan tingkat kepercayaan 95 persen ternyata variabel Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisaional yang memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap Kinerja. Sedangkan konstanta tidak signifikan terhadap Kinerja. Hal ini dapat dilihat dari probabilitas signifikansi untuk variabel Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasional sebesar 0,007; 0,006, dan 0,009 jauh di bawah 0,05. Sedangkan konstanta memiliki probabilitas signifikansi sebesar 0,410 jauh di atas 0,05. dari sini dapat disimpulkan bahwa variabel Kinerja dipengaruhi oleh Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasioanl.
            Dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95 persen, model yang diperoleh dapat digunakan untuk meramalkan besarnya skor Kinerja. Berdasarkan hasil output SPSS, terlihat bahwa nilai R2 yang diperoleh adalah 0,636. Hal ini berarti bahwa proporsi keragaman skor Kinerja yang dapat dijelaskan oleh ketiga variabel bebas yaitu Motivasi, Kepuasan, dan Komitmen Organisasional adalah sebesar 63,6 persen dan sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Pada regresi dengan dua atau lebih variabel bebas, digunakan Adjusted R2 (R2 yang disesuaikan) sebagai koefisien determinasi. Dari output SPSS diketahui besarnya Adjusted R2 adalah 0,621. Semakin besar R2 yang disesuaikan akan semakin baik bagi model regresi karena variabel bebas dapat menjelaskan variabel terikat lebih besar. Dalam menentukan interpretasi nilai adjusted R2, peneliti juga memperhatikan relevansi logis atau teoritis dari variabel yang menjelaskan dengan variabel terikat. Apabila dalam proses ini diperoleh adjusted R2 yang tinggi, maka hal yang bagus, akan tetapi adjusted R2 rendah tidak berarti model tersebut jelek. (Gujarati, 1995: 102)
            Berdasarkan output SPSS maka didapatkan persamaan model regresi linear adalah sebagai berikut:
Kinerja = 0,438 + 0,257 Mot + 0,321 Puas + 0,393 Kom
Persamaan di atas menunjukkan bahwa:
1. Variabel Motivasi memiliki korelasi positif dengan Kinerja. Koefisien regresi Motivasi sebesar 0,257 menyatakan bahwa secara signifikan kenaikan skor Motivasi sebesar satu satuan akan meningkatkan skor Kinerja sebesar 0,257 satuan dengan asumsi variabel lainnya tetap.
2. Variabel Kepuasan memiliki korelasi positif dengan Kinerja. Koefisien regresi Kepuasan sebesar 0,321 menyatakan bahwa secara signifikan kenaikan skor Kepuasan sebesar satu satuan akan meningkatkan skor Kinerja sebesar 0,321 satuan dengan asumsi variabel lainnya tetap.
3. Variabel Komitmen Organisasional memiliki korelasi positif dengan Kinerja. Koefisien regresi Komitmen Organisasional sebesar 0,393 menyatakan bahwa secara signifikan kenaikan skor
Komitmen Organisasional sebesar satu satuan akan meningkatkan skor Kinerja sebesar 0,393 satuan dengan asumsi variabel lainnya tetap.

5. Kesimpulan
            Dari analisis data yang dilakukan, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Variabel motivasi dengan dimensi usaha, tujuan organisasi, dan kebutuhan terbukti secara signifikan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati dengan item paling baik adalah tantangan pekerjaan dapat diartikan bahwa para pegawai merasa bahwa pekerjaan di Sekretariat Daerah Kabupaten Pati menantang dan menyenangkan. 
2. Variabel kepuasan kerja dengan dimensi rewards (penghargaan), hubungan kerja, dan aktualisasi diri terbukti secara signifikan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati dengan item paling baik adalah kemandirian kerja dapat diartikan bahwa pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan mandiri. 
3. Variabel komitmen organisasional dengan dimensi afektif, normative, dan continuence terbukti secara signifikan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati dengan item paling bagus adalah yang diperoleh dalam organisasi, yaitu pegawai merasa akan banyak memperoleh manfaat jika tetap bekerja di Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.
4. Secara bersama-sama variabel motivasi, kepuasan, dan komitmen organisasional terbukti secara signifikan memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pegawai Sekretariat Daerah Kabupaten Pati.

Selasa, 17 November 2015

Motivasi Dalam Film The Billionaire

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 04.14 0 komentar
Kelompok : Mawar
Nama Anggota :
Anisa Alyela                            19513947
·         Dima Septiana Putri                12513466 
·         Hasna Putri anggraini              13513977 
·         Nadya Laksmitha D.W             16513296 
·         Silvi Rahmadianti                     18513486  

Kelas:   3PA02





Review Film The Billionaire 


Top Secret (The Billionaire) Thai poster.jpg

Berkisah tentang kehidupan Tob-Aitthipat Kulapongvanich, yang diperankan oleh Pachara Chirathivat, dari yang bukan siapa-siapa hingga menjadi pemilik Tao Kae Noi Food and Marketing Co., Ltd. Di film ini diceritakan bagaimana Tob mulai bersentuhan dengan dunia bisnis. Berawal dari seorang pemain game online yang ingin membeli senjata game milik Tob dengan menawarkan imbalan 30 baht (mata uang Thailand, red). Sejak itu, di usianya yang ke 16, Tob berhasil menjual peralatan yang ada di dalam game online dan menghasilkan baht yang cukup banyak. Ia mampu membeli mobil dari hasil penjualannya itu.Orangtuanya tidak setuju dengan tindakan Tob ini. Mereka ingin agar Tob masuk universitas negeri dan bekerja seperti orang kebanyakan. Sayangnya, Tob tidak lulus universitas negeri dan membuat orangtuanya semakin kesal. Ia harus mencari dana untuk masuk universitas swasta demi menyenangkan orangtuanya. 

Tepat pada saat ia sangat membutuhkan uang banyak, akun game online-nya ditutup karena dianggap telah melanggar kebijakan game online tersebut, yang digunakan untuk tujuan komersil.Tob memang keras kepala. Tak mudah menyerah, Ia lalu mencoba berjualan DVD player yang dibelinya sebanyak 50 unit. Malangnya, DVD player itu rusak semua.Tob telah ditipu mentah-mentah. Ia lantas menjual kalung emasnya agar bisa masuk universitas swasta. Tetapi, karena di pikirannya hanya ada keinginan untuk mendapatkan uang lewat bisnis, ia pun sering bolos untuk mencari peluang usaha. Ia hanya menghadiri mata kuliah bisnis dan meninggalkan sebuah tape recorder untuk merekam ceramah dosennya.Tob melihat peluang baru saat berkunjung ke pameran makanan, yaitu berjualan kacang goreng. Ia menyewa mesin pembuat kacang goreng dan mencari lokasi berjualan yang tepat di mall. 

Pamannya lah yang selalu membantu dan mendukung usahanya untuk menjadi pengusaha. Ternyata berjualan kacang tidak semudah yang ia bayangkan. Hari pertama berjualan, Tob dan pamannya tidak berhasil menjual satu kacang pun. Tob lantas melakukan survey tempat dan cara bagaimana agar penjualannya meningkat. Ia masuk ke pasar dan melihat bagaimana orang berjualan, lalu mencatat hal-hal yang menurutnya bisa mendongkrak penjualannya. Setelah pindah lokasi, Tob dan pamannya berhasil mendapatkan banyak baht dari penjualan kacang goreng. Ia pun membuka beberapa cabang lokasi di mall.
Sayangnya, keberuntungan tidak selalu singgah di bisnis Tob. Beberapa hari kemudian, bisnis kacang gorengnya ditutup paksa oleh pihak mall karena asap gorengan dari mesin pembuat kacang itu telah mengotori atap mall.Suatu hari, rumah Tob disita karena ayahnya bangkrut dan memiliki utang 40 juta baht. Mereka terpaksa pindah ke Cina, tetapi Tob tidak mau ikut orangtuanya. Ia sangat terpukul dan bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi mencari uang untuk membantu ayahnya. 

Sampai suatu ketika pacarnya membawakan setoples camilan rumput laut yang rasanya enak sekali. Camilan sejenis itu belum ada di kotanya. Dari sanalah muncul ide Tob untuk mencoba peluang usaha camilan rumput laut. Bersama pamannya, Tob mulai mencoba menggoreng rumput laut satu demi satu, tapi rasanya sangat pahit. Berkardus-kardus rumput laut telah habis, namun mereka masih belum menemukan cara bagaimana menggoreng rumput laut agar tidak pahit.Pada suatu malam, paman Tob terjatuh dan kepalanya luka. Tob menemukan pamannya telah pingsan lalu membawanya ke rumah sakit. Beruntung bagi Tob, akibat kejadian itu, ia berhasil menemukan cara agar rumput lautnya tidak pahit saat digoreng. Secercah harapan muncul. Ia menamakan produknya “Tao Kae Noi” yang artinya pengusaha muda. Mereka berhasil menjual banyak camilan rumput laut dan menghasilkan banyak uang. Untuk menghasilkan uang lebih banyak, Tob berencana memasarkan produknya lewat 7-Eleven.

Kedatangannya pertama kali, produknya ditolak karena tidak layak jual. Tak menyerah begitu saja, Tob lalu mencoba mengubah kemasan camilannya menjadi lebih menarik. Ia datang lagi ke kantor 7-Eleven untuk menemui manajernya. Setelah menunggu lama, Tob tetap tidak berhasil bertemu sang manajer. Ia pun meninggalkan contoh produknya di lift. Dari sanalah cahaya harapan Tob mulai bersinar. Produknya ditemukan oleh manajer 7-Eleven dan berhasil memenuhi syarat layak jual.Perjuangan Tob belum selesai. Agar bisa masuk di 7-Eleven, Tob harus memenuhi jumlah produksi yang ditetapkan sebagai syarat masuk, yaitu 72.000 kemasan untuk dikirim ke 6000 cabang 7-Eleven. Artinya, Tob harus memiliki pabrik untuk mencapai angka tersebut. Terbentur modal, ia mengajukan kredit ke bank, namun ditolak. Tob hampir putus asa. Ia telah kehilangan semua yang dimilikinya termasuk mobil, komputer, bahkan keluarganya.

Definisi Motivasi

  • Motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Mr. Donald : 1950).
  • Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan / tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan / keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. (Drs. Moh. Uzer Usman : 2000)
  • Motivasi adalah kekuatan tersembunyi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas (Davies, Ivor K : 1986)
  • Motivasi adalah usaha – usaha untuk menyediakan kondisi – kondisi sehingga anak itu mau melakukan sesuatu (Prof. Drs. Nasution : 1995) 
  • Robbins dan Judge (2007) mendefinisikan motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan.
  • Samsudin (2005) memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan motivasi sebagai proses mempengaruhi atau mendorong dari luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar mereka mau melaksanakan sesuatu yang telah ditetapkan. 
  • Motivasi juga dapat diartikan sebagai dorongan (driving force) dimaksudkan sebagai desakan yang alami untuk memuaskan dan memperahankan kehidupan.
  • Mangkunegara (2005,61) menyatakan : “motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam menghadapi situasi kerja di perusahaan (situation). Motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan positif terhadap situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja maksimal”.

KESIMPULAN:
Perasaan yang timbul dari dalam diri untuk mencapai tujuan, yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan, yang membuat kita bertindak dengan cara khas, dan desakan yang alami untuk memuaskan dan memperahankan kehidupan.

Teory Motivasi:

Pull Teory (menarik/insentiv) Artinya sesuatu yang ada diluar individu yang membuatnya tertarik sehingga berperilaku tertentu. motivasi nampaknya lebih merupakan masalah insentif yang diharapkan seperti gaji, bonus Ex : di rumah panas, di mall lebih dingin dan dia ingin dingin maka dia akan pergi ke mall untuk mendapatkan kenyamanannya (suasana yang dingin dan intensiv).

Push Teory (mendorong/drive) Artinya apa yang ada di dalam dirinya sendiri yang mendorongnya untuk berperilaku. Yang banyak dipakai disini adalah ‘need’. Apabila dia butuh sosial yang tinggi dia akan sering bertemu dengan orang. Ingin berinteraksi dia berbuat tertentu untuk berprestasi. Perilaku di dorong ke arah tujuan oleh keadaan-keadaan yang mendorong dalam diri seseorang atau binatang.

Analisis Film Sesuai Teori

Pull Theory (menarik/insentiv)
Saat itu Tob berada di bangku sekolah, dan selepas pulang sekolah Tob selalu bermain game online. Sampai akhirnya Tob mendapati pedang di game online tersebut dihargai mahal oleh lawan mainnya, Tob tersadar bahwa game online ini manghasilkan banyak uang, akhirnya Tob membeli banyak komputer dan memainkan game online di setiap komputernya. Tob mendapatkan banyak uang sampai Top dapat membeli sebuah mobil, hingga suatu ketika game online tersebut mati secara mendadak dan sehingga Tob memilirkan lagi akan melakukan usaha apa. Tob akhirnya mencoba berjualan kacang goreng dan dapat ia pasarkan di dalam mall.

Push Teory (mendorong/drive)
Orang tua Tob mengalami kebangrutan, lalu orang tunya memutuskan pergi ke cina untuk menemui serta tinggal bersama kakak Tob yang berada disana. Tob tidak ingin ikut bersama orang tuanya karena dia percaya bahwa ia bisa menghasilkan uang dan memulangkan orang tuanya kembali ke Thailand. Hal tersebut membuat Top termotivasi dan berusaha keras untuk mencari uang dengan usaha mencoba peluang usaha camilan rumput laut. Bersama pamannya untuk dipasarkan Tob berusaha mencoba dan mecoba dalam kegagalannya dengan berbagai usaha hingga akhirnya produk rumput laut Tob di terima oleh perusahaan 7-Eleven.
                


 Trailler Film  Film The Billionaire



Daftar Pustaka:

Dwi Riyanti, B.P (1998). Psikologi Umum 2 Seri Diktat Kuliah. Depok: Universitas Gunadarma
Irianto, Anton. 2005. Born to Win Kunci sukses yg tak pernah gagal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama 

Selasa, 10 November 2015

Review dan Analisis Film tentang Leadership

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 03.37 0 komentar
Kelompok         :  Mawar
Nama Anggota : 

  • Anisa Alyela                       19513947 
  • Dima Septiana Putri            12513466 
  • Hasna Putri anggraini          13513977 
  • Nadya Laksmitha D.W        16513296 
  • Silvi Rahmadianti                18513486  
Kelas:   3PA02





Sinopsis Film Captain Phillips



pembajakan Kapal Cargo Maersk Alabama di tahun 2009 di perairan Samudera Hindia yang di Nahkodai oleh Kapten Richard Phillips, yang disutradarai oleh Paul Greengrass dan diperankan oleh aktor Tom Hanks sebagai [Richard Phillips].

Pada tanggal 28 Maret 2009 Captain Phillips mendapat tugas belayar dari pelabuhan Salalah Oman menuju Mombasa Kenyadengan melewati perairan Somalia yang dikenal dengan kandang bajak laut, untuk mengantisipasi pembajakan Captain Phillips menyiapkan segala pengaman pada kapal, di waktu yang sama para pembajak melakukan aktifitas rutinnya diperairan somalia  dengan cara memonitor dan mendengar percakapan melalui radio kapal yang berlayar untuk dijadikan target pembajakan yang diketuai oleh Abduwali Muse [Barkhad Abdi].

Memasuki perairan teluk aden Captain Phillips mendapat perintah untuk melakukan simulasi penyelamatan, simulasi tersebut dilakukan secara diam-diam untuk kesiagaan awak kapal dalam bentuk apapun, sesuai perintah Captain Phillips awak kapal menyiapkan segala persiapan termasuk pompa semprot air dengan tekanan tinggi yang dilengkapi disetiap sisi kapal untuk mencegah perahu mendekati kapal Maersk Alabama yang berbendera Amerika tersebut dengan 20 awak kapal.

Namun pada waktu yang sama Captain Phillips melihat pada radar layar monitor kapal di buntuti oleh dua buah perahu kecil dari arah belakang kapal, secara cepat memanggil Shane [Michael Chernus] sebagai wakilnya dalam pelayaran tersebut, Captain Phillips memerintahkan krunya dalam bentuk siaga yang membuat krunya kebingunan dari perintah sebelumnya hanya melakukan latihan. Untuk mencari tahu tujuan perahu kecil tersebut kapal diarahkan 5 derajat belok kekiri, melihat gelagat perahu yang terus mengikuti kapal Captain Phillips memrintahkan semua krunya untuk siap di pos masing-masing dalam mencegah pembajakan.


Kedua Perahu kecil tersebut semakin mendekati kapal walaupun kecepatan kapal 125 knot namun tidak membuat kedua perahu menyerah, sebelumnya Captain Phillips melapor kepangkalan terhadap pengejaran kedua perahu yang dianggap nelayan oleh pangkalan, dengan ide yang unik Captain Phillips berpura-pura menghubungi Kapal Perang koalisi 237 yang didengar oleh 8 pembajak melalui radio mereka miliki.

Kebohongan yang diciptakan Captain Phillips membuat satu perahu dengan 4 orang pembajak menyerah, hanya satu perahu sebanyak 4 pembajak yang terus mengikuti kapal melawan ombak yang diciptakan lewat baling-baling kapal yang dinahkodai Captain Phillips.

Suasana tegang yang di alami Captain Phillips tidak membuat pembajak menyerah menghadapi besi besar yang berlayar diatas air yang mereka kejar dengan mesin tempel. Muse sebagai ketua dalam pembajakan tersebut tidak mudah menyerah dalam mencari uang yang sudah didepan mata dengan ratusan Container yang dilayari oleh Maersk Alabama tersebut, berhasilkah Muse atau Captain Phillips dalam perairan Somalia tersebut? Saksikan saja kisah Captain Phillips dalam menahkodai Maersk Alabama 2013.

Review Film Captain Phillips 



Dari film ini kita bisa belajar tentang pentingnya sebuah Trust. Ada momen dimana para kru dalam kondisi down, Kapten Philips meyakinkan para kru bahwa mereka akan baik baik saja selama mengikuti arahannya. Philips juga mempercayakan ruang mesin kepada para kru nya agar sebisa mungkin tidak jatuh ke kekuasaan perompak. Ketika pemimpin dan anak buah sudah memiliki rasa saling percaya satu sama lain maka masalah seberat apapun bisa teratasi, hal ini dibuktikan dengan tidak jatuhnya ruang mesin ke tangan perompak. Sementara di pihak lain, para perompak tidak memiliki Trust satu sama lain, mereka saling curiga dan menganggap teman mereka sendiri sebagai musuh.
Di bagian akhir film Philips mengajarkan kita akan sebuah pengorbanan dan pengharapan. Ia rela menjadi sandera asalkan para krunya selamat. Namun dalam keadaan serba sulit menjadi tawanan perompak dan terombang ambing dalam sekoci sempit, ia tetap berharap bisa pulang dengan selamat, berkumpul kembali dengan keluarganya. Philips menunjukkan dirinya adalah seorang pahlawan yang jujur, penuh ​​keberanian yang terjebak di sebuah kondisi dimana keputusasaan bukanlah sebuah pilihan.Pemimpin yang baik memang harus rela berkorban bagi yang dipimpinnya, ia juga tak boleh putus asa dalam setiap keadaan sulit. Apalah artinya manusia tanpa harapan.
Analisis film Captain Phillips  menurut teori leadership.


  • Teori X & Y dari Douglas McGregor
Dalam teori X dan Y ini mengungkapkan bagaimana perilaku bawahan dalam be
kerja serta bagaimana gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh atasan dalam situasi lingkungan kerja yang berbeda baik lingkungan kerja tersebut  bersifat postitif atau negatif , termasuk bagaimana komunikasi antarpribadi (atasan dan bawahan) tersebut dikembangkan dalam lingkungan kerjanya. 

Analisis Film :
Kapten Phillips sebagai seorang pemimpin dapat memimpin kelompoknya dengan bijaksana, sesuai dengan adegan film, ketika pembajak datang untuk menguasai kapal, kapten Phillips menyuruh bawahannya untuk bersembunyi di ruang mesin, dan menunggu kode dari sang kapten hingga situasi aman. Bawahannya pun mengikuti arahan sang kapten dengan bersembunyi di ruang mesin. 
  • Teori Sistem 4 dari Sistem Likert
Dalam teori system 4 dari sistem likert mengungkapkan bahwa pemimpin selalu meminta saran atau nasihat dari bawahannya, pemimpin tipe ini tidak membatasi komunikasi antar bawahan dan atasannya, pemimpin tidak memiliki batasan pada bawahannya dalam membuat suatu keputusan. 

Analisis Film :
Saat datang para pembajak, bawahan memberikan saran kepada kapten Phillips untuk menyalakan selang air agar para pembajak susah untuk menaiki kapal, kapten pun mengikuti saran bawahannya tersebut.
  • Theory Of Leadership Pattern Choice (Tannenbaum dan Schmidt)
Kepemimpinan yang diidentifikasi oleh Tannenbaum dan Schmidt seorang bawahan memiliki wewenang yang sama dengan atasannya, bawahan dapat mengutarakan isi pikirannya secara bebas terhadap atasannya, bawahan juga dapat membuat keputusan atas suatu permasalahan. Jadi, bawahan memiliki hak untuk mengutarakan isi pikirannya, dan bawahan tidak sungkan-sungkan untuk mengutarakannya, karena atasannya tidak membatasinya. 

Analisis Film :
Saat kapten Phillips membawa pembajak menuju ruang mesin, bawahannya telah menyiapkan strategi untuk mengelabui para pembajak. Mereka pergi ke dapur dan mengambil air mineral serta makanan yang di letakkan di depan pintu. Ketika kapten tiba di dapur minuman dan makanan telah tersedia sehingga para pembajak tidak merasa curiga dengan strategi mereka. Saat para pembajak  tiba di ruang mesin, salah satu anggota dari pembajak tersebut terluka kakinya akibat pecahan beling yang di taruh oleh bawahannya. Hal tersebut dilakukan untuk mengelabui pembajak.
  • Modern Choice Approach to Participation (Vroom & Yetton)
keputusan dilakukan berdasarkan macam sebab. Salah satunya berdasarkan situasi saat itu dan bedasarkan cara pemimpin memutuskan masalah.

Analisis Film :
Saat  bawahan menyandera pimpinan Somalia (pembajak) ,  kapten Phillips memerintahkan bawahannya untuk melepaskan pemimpin pembajak tersebut. Kapten membuat keputusan tersebut agar masalahnya dapat terselesaikan. Akhirnya bawahan pun melepaskan pimpinan pembajak tersebut dan para pembajak untuk meninggalkan kapal dengan menggunakan sebuah skoci atas perintah kapten.
  • Contingency Theory of Leadership dari Fiedler
Menurut teori contingency theory of leadership dari fiedler kepemimpinan akan berhasil jika kelompok dapat bekerja dengan baik, kelompok dapat bekerja dengan baik jika kelompok tersebut di pimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan yang baik dan pemimpin dapat  dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan  bawahan tersebut mengikuti petunjuk pemimpin serta mereka dapat menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan berarti gaya kepemimpinan tersebut berjalan dengan baik. 

Analisis Film :
Saat Kapten Phillips berdiri di pinggir skoci dia memberi kode kepada kru kapal militer bahwa ia duduk di bangku nomor 15, akhirnya kru kapal militer tersebut menyusun strategi untuk melumpuhkan musuh sehingga dapat menyelamatkan kapten Phillips.

  • Konsep Path Goal Theory of Leadership
Konsep path goal theory of  leadership adalah bagaimana cara pimpinan ikut mengamati atau berpartisipasi dalam mengamati sikap bawahan seperti kepuasan kerja pada karyawan, penerimaan karyawan kepada atasannya dan agar hubungan antara bawahan dan atasannya dapat berlangsung dengan baik.

Analisis Film :
Kapten Phillips menasihati bawahannya untuk segera melakukan latihan keamanan, agar tidak ada pembajak yang masuk dan bawahannya mengikuti nasihat kapten Phillips.


Trailler Captain Phillips 


 

Hasna putri anggraini Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos