Pengertian Psikologi Transpersonal
Psikologi transpersonal menurut Friedman dan Pappas :
Friedman dan Pappas (2006)
berpendapat bahwa psikologi transpersonal dibangun dari perspektif psikologis
yang berbeda, yang pada umumnya memandangpsikologi sebagai sesuatu yang berguna
namun tidak lengkap dan terbatas. Bahkan,termasuk pula pendekatan psikologi
yang lain, seperti kearifan beragam budaya berkaitan dengan psikopatologi dan
kesehatan mental, serta beragam keadaan kesadaran (states of consciousness).Psikologi
transpersonal bukanlah seperangkat kepercayaan, dogma, atau agama, namun
merupakan suatu upaya untuk membawa tingkatan pengalaman manusia sepenuhnya
menuju wacana dalam psikologi.
Berdasarkan 202 definisi,
Lajoie dan Shapiro (1992) yang dikutip dari Friedman dan Pappas (2006)
menyimpulkan psikologi transpersonal sebagai:
“Psikologi transpersonal
mencakup kajian tentang potensi tertinggi umat manusia, dan dengan mengenali,
memahami, serta realisasi dari penyatuan spiritual, dan melebihi keadaan
kesadaran (states of consciousness).”
Dalam buku berjudul Introduction
to Transpersonal Psychology, California State University, Northridge, 1797,
John Peter Sarchio berpendapat bahwa psikologi transpersonal adalah suatu
cabang psikologi yang memberi perhatian pada studi terhadap keadaan dan proses
pengalaman manusia yang lebih dalam dan luas. Atau, suatu sensasi yang lebih
besar dari koneksitas terhadap orang lain dan alam semesta, atau merupakan
dimensi spiritual.
Asal Mula Terapi Transpersonal
William James, yang sering disebut psikolog Amerika pertama
yang mengkaji
pengalaman mistis sebagai sesuatu yang lebih bersifat
psikologis jika dibandingkan dengan fenomena religius. Dalam bukunya ”In The
Varieties of Religious Experience”, James (1902-1958) menyatakan bahwa
pengalaman mistis merupakan akar dari semua religi di dunia dan menyajikan
impuls yang sehat dan natural (Daniels, 2005). James juga membuat kajian khusus
tentang kebebasan berkehendak, dan menyimpulkan dua hal: mengakui bahwa pilihan
kita sendiri adalah kreatif dan mengakui bahwa kadang-kadang kita pasrah
tehadap kehendak kita. James juga memperkenalkan bahwa eksistensi dari
spiritual self adalah sama dengan material self dan social self. Sementara self yang lebih tinggi (higher self) menurut James
adalah transpersonal self (Rowan, 1993).
 |
| William James |
Selain James,
Carl Gustav Jung adalah tokoh yang penting dalam psikologi transpersonal. Dalam
tulisannya tentang ketidaksadaran kolektif, Jung menyatakan bahwa
ketidaksadaran kolektif dialami oleh semua orang, dan melalui hal tersebut
manusia dihubungkan satu sama lain dalam cara yang sangat mendasar. Archetype
sebagaimana self, shadow, sisi baik dan buruk, semuanya mewakili isi
ketidaksadaran kolektif dan merupakan dasar dari pengalaman transpersonal.
Ketika seseorang dapat mengalami Archetype secara tidak langsung melalui mimpi,
upacara ritual dan berbagai simbol, serta pengalaman mistik, menurut Jung hal
itu merupakan pengalaman Archetype yang langsung. Jung juga menyatakan bahwa
pengalaman spiritual sebagai tanda kesehatan mental, yang akhirnya dapat
membebaskan seseorang dari gangguan jiwa (Daniels,2005).
 |
| Carl Gustav Jung |
Tokoh yang
menjuluki psikologi transpersonal sebagai ’kekuatan keempat dalam psikologi’,
yang melengkapi tiga aliran besar yang telah ada sebelumnya: psikoanalisis, behavioristik,
dan psikologi humanistik, adalah Abraham Maslow. Maslow menemukan bahwa
beberapa orang yang mencari aktualisasi diri mengalami pengalaman puncak (peak
experience). Pada tahun 1968,
Maslow menulis: ”Saya memandang humanistik, kekuatan psikologi ketiga menjadi
transisi, persiapan menuju ke arah yang lebih tinggi, kekuatan keempat
psikologi yaitu transpersonal, transhuman, yang lebih terpusat pada kosmos, bukan
pada kebutuhan dan minat manusia, yang berlangsung melapaui batas-batas kemanusiaan,
identitas, aktualisasi diri, dan keinginan-keinginan”. Maslow menemukan bahwa
beberapa orang yang mencari aktualisasi diri mengalami pengalaman puncak (peak
experience) atau pengalaman transenden, sedangkan yang lainnya tidak
mengalaminya. Dapat dikatakan bahwa terdapat dua hal penting yang
membedakan antara self actualisation dan self transcendence, sehingga hal ini
merupakan titik perpindahan dari psikologi humanistik ke arah psikologi transpersonal.
 |
| Abraham Maslow |
Roberto Assagioli
adalah yang pertama kali menggunakan istilah transpersonal dalam psikoterapi.
Ia memperkenalkan sistem psikosintesis yang men-dapatkan pengaruh dari Jung. Ia
juga memperkenalkan diagram telur (Rowan, 1993).
 |
| Roberto Assagioli |
Carl Rogers
memasukkan kekuatan transendensi spiritual dalam daftar karakteristik orang
yang berfungsi secara penuh. Fritz Perls, penemu terapi Gestalt menghabiskan
banyak waktunya di biara Zen (Daniels, 2005).
 |
| Carl Rogers |
Terapi
Ada beberapa tipe
terapi yang dapat dilakukan pada Transpersonal Therapy, diantaranya:
1. Membuat narasi dengan cara menghipnotis klien
Misalnya:
kawan-kawan marilah kita menutup mata dan terbang bersama-sama ke langit lalu
bayangkan betapa tingginya posisi kita. mari sejenak kita membuka mata melihat
ke bawah dan lihatlah betapa kecilnya orang-orang yang berada di bawah, sama
sekali semuanya terlihat sama... dan seterusnya. buatlah narasi yang dapat
dideskripsikan
dengan mudah oleh klien.
2. Refleksi warna
Misalnya: berilah
satu warna pada setiap klien. Ajaklah klien untuk mendefiniskan warna dengan
kehidupan nyata. Contoh kecil seorang klien diberi warna merah bisa saja ia
mendefiniskan merah dengan keberanian yang biasa ia lakukan ketika mencuri. Hal
ini memancing pengalaman klien di masa dahulu. Setelah itu berilah klien
tersebut saran dari anggota kelompok lain untuk here-now-after.
3. Refleksi simbol
Misalnya: ajak
klien untuk memilih salah satu benda yang ada di ruangan terapi. suruhlah ia
untuk menyimbolkan benda tersebut dengan sesuatu, kemudian dibuat dalam bentuk
kalimat, dan terakhir buatlah suatu komitmen dari sesuatu tersebut. contoh
kecil: "aku suka whiteboard di depan kelas terlihat suci" -
"orang yang selalu suci akan disayangi oleh Tuhan" - "mulai saat
ini saya akan rajin mandi dan membersihkan kamar agar disayang Tuhan"
3. Unsent letter
Unsent letter
secara bahasa memiliki arti surat yang tidak dikirim. Surat ini berisi peristiwa
di masa lalu yang masih belum bisa dilupakan dan dimaafkan.
Teknik Unsent Letter mula-mula dibimbing oleh seorang terapis
yang membentuk sebuah lingkaran menjadi satu kelompok. Dalam lingkaran tersebut
terdiri dari beberapa anggota. Pada teknik awal terapis akan memberikan sebuah
kertas kosong kepada setiap anggota kelompok. Selanjutnya anggota kelompok akan
diinstruksikan untuk menuliskan peristiwa di masa lampau yang masih tersimpan,
belum bisa dimaafkan dan belum bisa menerima kejadian yang dialami.
Selesai menuliskan isi luapan dalam hati, seluruh anggota kelompok memberikan
kertas tadi kepada terapis. Terapis akan melakukan pengocokan kertas dan
membagikannya kembali kepada anggota kelompok dengan syarat tidak boleh ada
seorang pun yang mengetahui pemilik surat tersebut. Jikalau surat yang
dibagikan adalah milik dirinya sendiri berpura-puralah untuk tidak mengetahui
dan mengatakannya. Hal ini diharapkan dapat mengurangi rasa malu dan
menghindari cemoohan dari anggota kelompok yang lain.
Surat selesei dibagikan kemudian terapis menginstruksikan kepada anggota
kelompok untuk membacakan isi surat dengan cara bergilir. Dari pengutaraan isi
surat, anggota kelompok yang lain berhak untuk berkomentar dan memberikan saran
kepada penulis surat tersembunyi.
4. Refleksi personal (lebih kepada pengandaian sifat)
5. Pictures of us
(pengandain sebuah gambar)
Misalnya:
suruhlah anggota setiap kelompok mengutarakan cita-cita mereka melalui gambar.
permulaan mengucapkan salam, kemudian presentasikan gambar yang telah dibuat
oleh masing-masing anggota dari kelompok yang menjadi satu cerita, koreksi, dan
buat kata-kata yang mengartikan gambar dari tiap-tiap kelompok untuk dijadikan
komitmen.
Teknik
Menurut Davis (2005) psikoterapi
transpersonal adalah betul-betul eklektik, penggambaran dari teknik-teknik dan
pemahaman dari variasi psikologi yang luas dan sumber-sumber spiritual.
Psikoterapi transpersonal berhadapan dengan permasalahan psikologis dengan
cakupan yang luas dan penggunaan teknik-teknik yang luas pula, di antaranya
adalah modifikasi perilaku, restrukturisasi kognitif, praktek Gestalt,
psikodinamika, dream-work, terapi musik dan seni, serta meditasi. Dengan
berbagai kombinasi teknik-teknik kesadaran, maka sangat berpeluang untuk
dibangunnya hal-hal baru. Beberapa terapis transpersonal berikut membuktikan
anggapan ini.
Segall (2005) mengeksplorasi konsep dan
teknik mindfulness (meditasi dari Budhisme) bagi pengembangan diri dalam
psikoterapi pada konteks psikologi klinis Barat.
Judith Blackstone (2006) mengembangkan
dan teknik intersubjektif nondualitas (nonduality) dalam hubungan
psikoterapeutik.
Blackstone mengembangkan metode Proses
Realisasi (Realization Process) untuk membantu klien dalam mengalami
kesadaran nondual dalam seting klinis.
Asha Clinton (2006) memperkenalkan metode Seemorg Matrix
Work sebagai psikoterapi transpersonal energi baru. Baik secara teoritis
maupun metodologis, dasar dari Seemorg adalah sintesa dari pendekatan
spiritualitas Timur, psikologi Barat, dan psikoneuroimunologi. Seemorg diperoleh
dari konsepsi ketuhanan manusia yang merupakan inti dari ajaran Hinduisme,
gagasan realitas archetypal dan struktur psyche (dari psikologi
analitik), filsafat Platonik, serta aplikasi interrelasi antara semua bagian
dan tingkatan manusia baik dari psikoneuroimunologi maupun Buddhisme.
Zimberoff dan Hartman (2003) menggunakan istilah letting
go sebagai teknik untuk menghadirkan kembali hal-hal yang tidak disadari
agar dapat diakses. Beberapa teknik yang dapat digunakan antara lain adalah asosiasi
bebas, psikodrama, mimpi, hipnosais dan breathwork.
Daftar Pustaka :
Friedman, H.
& Pappas, J. (2006). Self-Expansiveness
and Self-Contraction:
Complementary Processes of Transcendence
and Immanence. The
Journal
Of
transpersonal Psychology, 38,(1).
Fachri, H. (2010). Tarot Psikologi : Menemukan Jati Diri,
Konseling dan Hipnosis Terapan.
Jakarta Selatan : Gagas Media
Prabowo,H. (2007). Mengembangkan
Model Psikoterapi Transpersonal”. Jurnal Psikologi, 2