Rabu, 23 Maret 2016

Terapi Holistik

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 06.44 1 komentar
Pengertian Terapi Holistik


Terapi pengobatan yang dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan keluhan fisik dan non fisiknya. 

Terapi Holistik


Agar terapi berjalan baik, pasien ada baiknya membawa rekam jejak dari dokter. Dengan begitu, terapis dapat mengetahui jenis terapi yang dibutuhkan pasien. Bila tidak ada, jangan khawatir. Ada banyak klinik terapi holistik yang menawarkan laboratorium untuk memeriksa darah. Jika penyakit ketahuan,

Terapi awal akan diarahkan pada kondisi jiwa dan psikologis pasien lebih dulu. Jika pasien siap, terapi berlanjut pada tahap selanjutnya, yakni akupunktur, akupresure, dan biasanya disertai dengan pengobatan herbal.

Ada banyak penyakit yang bisa diobati lewat terapi ini. Mulai dari asam urat, hipertensi, diabetes, ginjal, paru-paru, hingga jantung. Potensi penyembuhan akupunktur mencapai 60%.

Selain itu, pasien wajib menjalankan pola makan yang seimbang serta menjalani pantangan makanan sesuai penyakitnya. Biasanya pasien yang datang karena memiliki penyakit berkepanjangan.

Adapun Terapi pernafasan akupresur merupakan seni harmonisasi tubuh, jiwa, dan pikiran yang menggunakan sentuhan tangan ringan. Sentuhan tangan ringan akan bekerja layaknya jarum-jarum dalam terapi akupuntur.

Terapis akan menghilangkan penyakit fisik, mental dan emosional yang disebabkan sikap hati. Ada lima sikap hati yang menyebabkan penyakit, yakni rasa kuatir, takut, marah, sedih, dan kepura-puraan.

Adapun terapi dengan sentuhan lembut untuk mengharmoniskan sistem fisiologis tubuh, seperti otak, saraf tulang belakang, dsb. Dengan terapi ini, saraf pusat dapat berfungsi kembali menyelaraskan fungsi organ tubuh.


Teknik Psikologi Holistik


Psikologi Holistik mencakup berbagai teknik dan prosedur yang mendekati kondisi. Hal ini diyakini bahwa penerapan perspektif holistik akan lebih efisien dan menyebabkan bentuk pengobatan yang lebih baik dari pada cara Psikologi yang dipraktekkan saat ini.  Pendekatan holistik punya keyakinan bahwa kesejahteraan seseorang bergantung bukan hanya pada apa yang terjadi pada fisik tubuh saja. Lebih daripada itu, kondisi psikologis, emosional, sosial dan bahkan spiritual dan keadaan alam masing-masing negara berpengaruh kuat terhadap kesehatan seseorang. Faktor-faktor tersebutlah yang kemudian dikelola dan digali sedemikian rupa, sehingga pemeriksaan terhadap seseorang bisa dikatan, dilakukan sepenuhnya.


Daftar Pustaka :
http://pemurniandiri.blogspot.co.id/p/penyembuhan-holistik.html

Selasa, 22 Maret 2016

Client Centered Therapy

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 07.49 0 komentar
Pengertian Client Centered Therapy

Carl  Rogers

Menurut Carl Ransom Rogers yang dikutip oleh Gerald Corey menyebutkan bahwa: terapi client centered merupakan  teknik konseling dimana yang paling berperan adalah klien sendiri, klien  dibiarkan untuk menemukan solusi mereka sendiri terhadap masalah yang tengah mereka hadapi. Hal ini memberikan pengertian bahwa klien dipandang sebagai partner dan konselor hanya sebagai pendorong dan pencipta situasi yang memungkinkan klien untuk bisa berkembang sendiri.

Asal Mula Client Centered Therapy

Client Centered Therapy dikembangkan oleh Carl Rogers pada tahun 1940 dan 1950-an. Ini adalah pendekatan non directive untuk terapi, “directive”. Disini berarti setiap perilau terapis yang dengan sengaja mengarahkan klien dengan berbagai cara. Dengan cara mengajukan pertanyaan, menawarkan pertolongan, dan membuat interpretasi dan diagnosis.

Terapi


Menurut Boy dan Pine (1981) jika dilihat dari apa yang dilakukan konselor dapat di buat dua tahap.
Tahap pertama, tahap membangun hubungan terapeutik, menciptakan kondisi fasilitatif dan hubungan yang subtantif seperti empati, kejujuran, ketulusan, penghargaan dan positif jtanpa syarat.
Tahap Kedua, tahap kelanjutan yang disesuaikan dengan efektifitas hubungan disesuaikan dengan kebutuhan klien. 
Sedangkan jika dilihat dari segi pengalaman klien dalam proses hubungan konseling dapat di jabarkan bahwa proses konseling dapat di bagi menjadi empat tahap, yaitu:
1. Klien datang ke konselor dalam kondisi tidak kongruensi, mengalami kecemasan, atau kondisi penyesuaian diri tidak baik.
2. Saat klien menjumpai konselor dengan penuh harapan dapat memperoleh bantuan, jawaban atas permasalahan yang hsedang dialami, dan menemukan jalan atas kesulitan- kesulitannya.
3. Pada awal konseling klien menunjukkan perilaku, sikap, dan perasaannya yang kaku. Dia menyatakan permasalahan yang dialami kepada konselor secara permukaan dan belum menyatakan pribadi yang dalam.
4. Klien mulai menghilangkan sikap dan perilaku yang kaku, membuka diri terhadap pengalamannya, dan belajar untuk bersikap lebih matang dan lebih teraktualisasi, dengan jalan menghilangkaln pengalaman yang dialaminya.

Teknik


Secara garis besar teknik terapi Client- Centered yakni:
a) Konselor menciptakan suasana komunikasi antar pribadi yang  merealisasikan segala kondisi.
b) Konselor menjadi seorang pendengar yang sabar dan peka, yang menyakinkan konseli dia diterima dan dipahami.
c) Konselor memungkinkan konseli untuk mengungkapkan seluruh  perasaannya secara jujur, lebih memahami diri sendiri dan  mengembangkan suatu tujuan perubahan dalam diri sendiri dan  perilakunya.

Daftar Pustaka :
C, Gerald. (2009).Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : Refika Aditama.
F, Muhammad. (2014).Teknik Terapi yang Simpel dan Efektif untuk mengubah perilaku buruk. Bandung : Spasi Media.
Prayitno. & A,Erman. (2004). Dasar- Dasar Bimbingan Dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Pihasniwati. (2008). Psikologi Konseling.  Yogyakarta : Teras.

Selasa, 15 Maret 2016

Terapi Transpersonal

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 08.58 0 komentar
Pengertian Psikologi Transpersonal

Psikologi transpersonal menurut Friedman dan Pappas : 

Friedman dan Pappas (2006) berpendapat bahwa psikologi transpersonal dibangun dari perspektif psikologis yang berbeda, yang pada umumnya memandangpsikologi sebagai sesuatu yang berguna namun tidak lengkap dan terbatas. Bahkan,termasuk pula pendekatan psikologi yang lain, seperti kearifan beragam budaya berkaitan dengan psikopatologi dan kesehatan mental, serta beragam keadaan kesadaran (states of consciousness).Psikologi transpersonal bukanlah seperangkat kepercayaan, dogma, atau agama, namun merupakan suatu upaya untuk membawa tingkatan pengalaman manusia sepenuhnya menuju wacana dalam psikologi.

Berdasarkan 202 definisi, Lajoie dan Shapiro (1992) yang dikutip dari Friedman dan Pappas (2006) menyimpulkan psikologi transpersonal sebagai:
“Psikologi transpersonal mencakup kajian tentang potensi tertinggi umat manusia, dan dengan mengenali, memahami, serta realisasi dari penyatuan spiritual, dan melebihi keadaan kesadaran (states of consciousness).”


Dalam buku berjudul Introduction to Transpersonal Psychology, California State University, Northridge, 1797, John Peter Sarchio berpendapat bahwa psikologi transpersonal adalah suatu cabang psikologi yang memberi perhatian pada studi terhadap keadaan dan proses pengalaman manusia yang lebih dalam dan luas. Atau, suatu sensasi yang lebih besar dari koneksitas terhadap orang lain dan alam semesta, atau merupakan dimensi spiritual.

Asal Mula Terapi Transpersonal 

William James, yang sering disebut psikolog Amerika pertama yang mengkaji
pengalaman mistis sebagai sesuatu yang lebih bersifat psikologis jika dibandingkan dengan fenomena religius. Dalam bukunya ”In The Varieties of Religious Experience”, James (1902-1958) menyatakan bahwa pengalaman mistis merupakan akar dari semua religi di dunia dan menyajikan impuls yang sehat dan natural (Daniels, 2005). James juga membuat kajian khusus tentang kebebasan berkehendak, dan menyimpulkan dua hal: mengakui bahwa pilihan kita sendiri adalah kreatif dan mengakui bahwa kadang-kadang kita pasrah tehadap kehendak kita. James juga memperkenalkan bahwa eksistensi dari spiritual self adalah sama dengan material self dan social self. Sementara self yang lebih tinggi (higher self) menurut James adalah transpersonal self (Rowan, 1993).
William James 

Selain James, Carl Gustav Jung adalah tokoh yang penting dalam psikologi transpersonal. Dalam tulisannya tentang ketidaksadaran kolektif, Jung menyatakan bahwa ketidaksadaran kolektif dialami oleh semua orang, dan melalui hal tersebut manusia dihubungkan satu sama lain dalam cara yang sangat mendasar. Archetype sebagaimana self, shadow, sisi baik dan buruk, semuanya mewakili isi ketidaksadaran kolektif dan merupakan dasar dari pengalaman transpersonal. Ketika seseorang dapat mengalami Archetype secara tidak langsung melalui mimpi, upacara ritual dan berbagai simbol, serta pengalaman mistik, menurut Jung hal itu merupakan pengalaman Archetype yang langsung. Jung juga menyatakan bahwa pengalaman spiritual sebagai tanda kesehatan mental, yang akhirnya dapat membebaskan seseorang dari gangguan jiwa (Daniels,2005).
Carl Gustav Jung 

Tokoh yang menjuluki psikologi transpersonal sebagai ’kekuatan keempat dalam psikologi’, yang melengkapi tiga aliran besar yang telah ada sebelumnya: psikoanalisis, behavioristik, dan psikologi humanistik, adalah Abraham Maslow. Maslow menemukan bahwa beberapa orang yang mencari aktualisasi diri mengalami pengalaman puncak (peak experience). Pada tahun 1968, Maslow menulis: ”Saya memandang humanistik, kekuatan psikologi ketiga menjadi transisi, persiapan menuju ke arah yang lebih tinggi, kekuatan keempat psikologi yaitu transpersonal, transhuman, yang lebih terpusat pada kosmos, bukan pada kebutuhan dan minat manusia, yang berlangsung melapaui batas-batas kemanusiaan, identitas, aktualisasi diri, dan keinginan-keinginan”. Maslow menemukan bahwa beberapa orang yang mencari aktualisasi diri mengalami pengalaman puncak (peak experience) atau pengalaman transenden, sedangkan yang lainnya tidak mengalaminya. Dapat dikatakan bahwa terdapat dua hal penting yang membedakan antara self actualisation dan self transcendence, sehingga hal ini merupakan titik perpindahan dari psikologi humanistik ke arah psikologi transpersonal.
Abraham Maslow

Roberto Assagioli adalah yang pertama kali menggunakan istilah transpersonal dalam psikoterapi. Ia memperkenalkan sistem psikosintesis yang men-dapatkan pengaruh dari Jung. Ia juga memperkenalkan diagram telur (Rowan, 1993).
 
Roberto Assagioli
Carl Rogers memasukkan kekuatan transendensi spiritual dalam daftar karakteristik orang yang berfungsi secara penuh. Fritz Perls, penemu terapi Gestalt menghabiskan banyak waktunya di biara Zen (Daniels, 2005).
Carl Rogers 

Terapi

Ada beberapa tipe terapi yang dapat dilakukan pada Transpersonal Therapy, diantaranya:
1. Membuat narasi dengan cara menghipnotis klien
Misalnya: kawan-kawan marilah kita menutup mata dan terbang bersama-sama ke langit lalu bayangkan betapa tingginya posisi kita. mari sejenak kita membuka mata melihat ke bawah dan lihatlah betapa kecilnya orang-orang yang berada di bawah, sama sekali semuanya terlihat sama... dan seterusnya. buatlah narasi yang dapat
dideskripsikan dengan mudah oleh klien.

2. Refleksi warna
Misalnya: berilah satu warna pada setiap klien. Ajaklah klien untuk mendefiniskan warna dengan kehidupan nyata. Contoh kecil seorang klien diberi warna merah bisa saja ia mendefiniskan merah dengan keberanian yang biasa ia lakukan ketika mencuri. Hal ini memancing pengalaman klien di masa dahulu. Setelah itu berilah klien tersebut saran dari anggota kelompok lain untuk here-now-after.

3. Refleksi  simbol
Misalnya: ajak klien untuk memilih salah satu benda yang ada di ruangan terapi. suruhlah ia untuk menyimbolkan benda tersebut dengan sesuatu, kemudian dibuat dalam bentuk kalimat, dan terakhir buatlah suatu komitmen dari sesuatu tersebut. contoh kecil: "aku suka whiteboard di depan kelas terlihat suci" - "orang yang selalu suci akan disayangi oleh Tuhan" - "mulai saat ini saya akan rajin mandi dan membersihkan kamar agar disayang Tuhan"

3. Unsent letter
Unsent letter secara bahasa memiliki arti surat yang tidak dikirim. Surat ini berisi peristiwa di masa lalu yang masih belum bisa dilupakan dan dimaafkan. Teknik  Unsent Letter mula-mula dibimbing oleh seorang terapis yang membentuk sebuah lingkaran menjadi satu kelompok. Dalam lingkaran tersebut terdiri dari beberapa anggota. Pada teknik awal terapis akan memberikan sebuah kertas kosong kepada setiap anggota kelompok. Selanjutnya anggota kelompok akan diinstruksikan untuk menuliskan peristiwa di masa lampau yang masih tersimpan, belum bisa dimaafkan dan belum bisa menerima kejadian yang dialami.
Selesai menuliskan isi luapan dalam hati, seluruh anggota kelompok memberikan kertas tadi kepada terapis. Terapis akan melakukan pengocokan kertas dan membagikannya kembali kepada anggota kelompok dengan syarat tidak boleh ada seorang pun yang mengetahui pemilik surat tersebut. Jikalau surat yang dibagikan adalah milik dirinya sendiri berpura-puralah untuk tidak mengetahui dan mengatakannya. Hal ini diharapkan dapat mengurangi rasa malu dan menghindari cemoohan dari anggota kelompok yang lain.
Surat selesei dibagikan kemudian terapis menginstruksikan kepada anggota kelompok untuk membacakan isi surat dengan cara bergilir. Dari pengutaraan isi surat, anggota kelompok yang lain berhak untuk berkomentar dan memberikan saran kepada penulis surat tersembunyi.

4. Refleksi personal (lebih kepada pengandaian sifat)

5. Pictures of us (pengandain sebuah gambar)
Misalnya: suruhlah anggota setiap kelompok mengutarakan cita-cita mereka melalui gambar. permulaan mengucapkan salam, kemudian presentasikan gambar yang telah dibuat oleh masing-masing anggota dari kelompok yang menjadi satu cerita, koreksi, dan buat kata-kata yang mengartikan gambar dari tiap-tiap kelompok untuk dijadikan komitmen.


Teknik

Menurut Davis (2005) psikoterapi transpersonal adalah betul-betul eklektik, penggambaran dari teknik-teknik dan pemahaman dari variasi psikologi yang luas dan sumber-sumber spiritual. Psikoterapi transpersonal berhadapan dengan permasalahan psikologis dengan cakupan yang luas dan penggunaan teknik-teknik yang luas pula, di antaranya adalah modifikasi perilaku, restrukturisasi kognitif, praktek Gestalt, psikodinamika, dream-work, terapi musik dan seni, serta meditasi. Dengan berbagai kombinasi teknik-teknik kesadaran, maka sangat berpeluang untuk dibangunnya hal-hal baru. Beberapa terapis transpersonal berikut membuktikan anggapan ini.

Segall (2005) mengeksplorasi konsep dan teknik mindfulness (meditasi dari Budhisme) bagi pengembangan diri dalam psikoterapi pada konteks psikologi klinis Barat.

Judith Blackstone (2006) mengembangkan dan teknik intersubjektif nondualitas (nonduality) dalam hubungan psikoterapeutik.

Blackstone mengembangkan metode Proses Realisasi (Realization Process) untuk membantu klien dalam mengalami kesadaran nondual dalam seting klinis.
Asha Clinton (2006) memperkenalkan metode Seemorg Matrix Work sebagai psikoterapi transpersonal energi baru. Baik secara teoritis maupun metodologis, dasar dari Seemorg adalah sintesa dari pendekatan spiritualitas Timur, psikologi Barat, dan psikoneuroimunologi. Seemorg diperoleh dari konsepsi ketuhanan manusia yang merupakan inti dari ajaran Hinduisme, gagasan realitas archetypal dan struktur psyche (dari psikologi analitik), filsafat Platonik, serta aplikasi interrelasi antara semua bagian dan tingkatan manusia baik dari psikoneuroimunologi maupun Buddhisme.

Zimberoff dan Hartman (2003) menggunakan istilah letting go sebagai teknik untuk menghadirkan kembali hal-hal yang tidak disadari agar dapat diakses. Beberapa teknik yang dapat digunakan antara lain adalah asosiasi bebas, psikodrama, mimpi, hipnosais dan breathwork.



Daftar Pustaka :
Friedman, H. & Pappas, J. (2006). Self-Expansiveness and Self-Contraction:
Complementary Processes of Transcendence and Immanence. The Journal
Of transpersonal Psychology, 38,(1).
Fachri, H. (2010). Tarot Psikologi : Menemukan Jati Diri, Konseling dan Hipnosis    Terapan. Jakarta Selatan : Gagas Media
Prabowo,H. (2007). Mengembangkan Model Psikoterapi Transpersonal”. Jurnal Psikologi, 2



 

Hasna putri anggraini Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos