Rabu, 06 April 2016

Terapi Behaviour

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 06.04
Pengertian Terapi Behaviour

Gerald Corey menjelaskan bahwa behavior adalah pendekatan­ pendekatan terhadap konseling dan psikoterapi yang berkaitan dengan pengubahan tingkah laku. Pendekatan, teknik dan prosedur yang dilakukan berakar pada berbagai teori tentang belajar.

Terapi behavior adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan­ kebutuhan hidup, yang dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Aktifitas inilah yang disebut sebagai belajar.

Sejarah Terapi Behaviour

Terapi behavior diawali pada tahun 1950-an dan awal 1960-an di Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan Inggris sebagai awal radikal menentang perspektif psikoanalisis yang dominan. Fokusnya adalah pada menunjukkan bahwa teknik pengkondisian perilaku yang efektif dan merupakan alternatif untuk terapi psikoanalitik.

Secara garis besar, sejarah perkembangan pendekatan behavior terdiri dari tiga trend utama, yaitu :

Gelombang 1  : Pada tahun 1960 Albert Bandura mengembangkan teori belajar sosial, yang dikombinasikan pengkondisian klasik dan operan kondisioning sdengan pembelajaran observasional. Bandura membuat kognisi fokus yang sah untuk terapi bahavior. Selama tahun 1960-an sejumlah pendekatan perilaku kognitif bermunculan, 
dan mereka masih memiliki dampak signifikan pada praktek terapi. Terapi behavior kontemporer muncul sebagai kekuatan utama dalam psikologi selama 1970-an, dan itu memiliki dampak signifikan pada pendidikan, psikologi, psikoterapi, psikiatri, dan pekerjaan sosial. Teknik behavior yang diperluas untuk memberikan solusi terhadap masalah bisnis, industri, dan membesarkan juga anak. Dikenal sebagai "gelombang pertama" di lapangan behavior, teknik terapi behavior dipandang sebagai pilihan perawatan untuk banyak  masalah psikologis.

Gelombang 2  : Tahun 1980-an yang ditandai dengan pencarian konsep dan metode baru yang melampaui teori belajar tradisional. Terapis behavior melakukan evaluasi terhadap metode yang mereka gunakan dan mempertimbangkan dampak dari praktek terapi pada klien mereka dan masyarakat yang lebih luas. Meningkatnya perhatian diberikan kepada peran emosi dalam perubahan terapi, serta peran faktor biologis dalam gangguan psikologis. Dua perkembangan yang paling signifikan adalah 
(1) munculnya terus terapi kognitif behavior sebagai kekuatan utama dan 
(2) penerapan teknik perilaku untuk pencegahan dan pengobatan  gangguan kesehatan terkait.
Pada akhir 1990-an Asotiation Behavior and Cognitive Therapi (ABCT) menyatakan keanggotaan dari sekitar 4.300. Gambaran saat ABCT adalah "sebuah organisasi keanggotaan lebih dari 4.500 profesional kesehatan mental dan mahasiswa yang tertarik dalam terapi bahavior berbasis empiris atau terapi behavior kognitif." Perubahan nama dan deskripsi mengungkapkan pemikiran saat ini mengintegrasikan terapi perilaku dan kognitif. Terapi kognitif dianggap sebagai “gelombang kedua” dari tradisi behavior.

Gelombang 3  : Pada awal 2000-an, "gelombang ketiga" dari tradisi perilaku muncul, memperbesar ruang lingkup penelitian dan praktek. Perkembangan terbaru termasuk terapi perilaku dialektis, kesadaran berbasis pengurangan stres, kesadaran berbasis terapi kognitif, dan penerimaan dan terapi komitmen.

Teknik Terapi Behaviour

Untuk mencapai tujuan dalam proses konseling diperlukan teknik­ teknik yang digunakan. Untuk pengubahan perilaku ada sejumlah teknik yang dapat dilakukan dalam terapi behavior, yaitu:

a. Desensitisasi Sistematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik relaksasi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya berupa kecemasan, dan mnyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan dengan cara memberikan stimulus yang berangsur dan santai.

b. Terapi Implosif Terapi Implosif dikembangkan atas dasar pandangan tentang seseorang yang secara berulang­ ulang dihadapkan pada situasi kecemasan dan konsekuensi­ konsekuensi yang menakutkan ternyata tidak muncul, maka kecemasan akan hilang. Atas dasar itu klien diminta untuk membayangkan stimulus­ stimulus yang menimbulkan kecemasan.

c. Latihan Perilaku Asertif Latihan perilaku asertif digunakan untuk melatih individu yang mengalami kesulitan untuk menyatakan dirinya bahwa tindakannya layak atau benar.

d. Pengkondisian Aversi
Teknik pengkondisian diri digunakan untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan, sehingga perilaku yang tidak dikehendaki tersebut terhambat kemunculannya.

e. Pembentukan Perilaku Model Perilaku model digunakan untuk membentuk perilaku baru pada
klien, memperkuat perilaku yang sudah terbentuk dengan menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, baik menggunakan model audio, model fisik atau lainnya yang dapat teramati dan dipahami jenis perilaku yang akan dicontoh.

f. Kontrak Perilaku
Kontrak perilaku adalah persetujuan antara dua orang atau lebih (konselor dan klien) untuk mengubah perilaku tertentu pada klien. Dalam terapi ini konselor memberikan ganjaran positif dipentingkan daripada memberikan hukuman jika kontrak tidak berhasil.

Langkah-Langkah Terapi Behaviour
Menurut Wingkel fase­fase dalam proses konseling dalam layanan konseling individualnya yaitu
a. Pembukaan, membagun hubungan pribadi antara konselor dan konseling.
1) Menyambut kedatangan konseli.
2)      Mengajak berbasabasi sebentar.
3)      Menjelaskan kekhususan dari berwawancara konseling.
4) Mempersilahkan konseli untuk mengemukakan hal yang ingin dibicarakan.

b. Penjelasan, menerima ungkapan konseli apa adanya serta mendengarkan dengan penuh perhatian. Berusaha menentukan jenis masalah dan pendekatan konseling yang sebaiknya diambil.

c. Penggalian latar belakang masalah, mengadakan analisa kasus, sesuai dengan pendekatan konseling yang dipilih.

d. Penyelesaian masalah, menyalurkan arus pemikiran konseli, sesuai dengan pendekatan konseling yang dipilih.

e. Penutup, megahiri hubungan pribadi dengan konseli.
1) Memberikan ringkasan jalannya pembicaraan.
2) Menegaskan kembali ketentuan / keputusan yang ingin diambil.
3) Memberikan semangat.
4) Menawarkan bantuannya bila kelak timbul persoalan baru.
5) Berpisah dengan konseli.

Dapus :
Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Winkel. (2010). Bimbingan dan Konseling Di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Hasna putri anggraini Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos