Selasa, 17 November 2015

Motivasi Dalam Film The Billionaire

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 04.14 0 komentar
Kelompok : Mawar
Nama Anggota :
Anisa Alyela                            19513947
·         Dima Septiana Putri                12513466 
·         Hasna Putri anggraini              13513977 
·         Nadya Laksmitha D.W             16513296 
·         Silvi Rahmadianti                     18513486  

Kelas:   3PA02





Review Film The Billionaire 


Top Secret (The Billionaire) Thai poster.jpg

Berkisah tentang kehidupan Tob-Aitthipat Kulapongvanich, yang diperankan oleh Pachara Chirathivat, dari yang bukan siapa-siapa hingga menjadi pemilik Tao Kae Noi Food and Marketing Co., Ltd. Di film ini diceritakan bagaimana Tob mulai bersentuhan dengan dunia bisnis. Berawal dari seorang pemain game online yang ingin membeli senjata game milik Tob dengan menawarkan imbalan 30 baht (mata uang Thailand, red). Sejak itu, di usianya yang ke 16, Tob berhasil menjual peralatan yang ada di dalam game online dan menghasilkan baht yang cukup banyak. Ia mampu membeli mobil dari hasil penjualannya itu.Orangtuanya tidak setuju dengan tindakan Tob ini. Mereka ingin agar Tob masuk universitas negeri dan bekerja seperti orang kebanyakan. Sayangnya, Tob tidak lulus universitas negeri dan membuat orangtuanya semakin kesal. Ia harus mencari dana untuk masuk universitas swasta demi menyenangkan orangtuanya. 

Tepat pada saat ia sangat membutuhkan uang banyak, akun game online-nya ditutup karena dianggap telah melanggar kebijakan game online tersebut, yang digunakan untuk tujuan komersil.Tob memang keras kepala. Tak mudah menyerah, Ia lalu mencoba berjualan DVD player yang dibelinya sebanyak 50 unit. Malangnya, DVD player itu rusak semua.Tob telah ditipu mentah-mentah. Ia lantas menjual kalung emasnya agar bisa masuk universitas swasta. Tetapi, karena di pikirannya hanya ada keinginan untuk mendapatkan uang lewat bisnis, ia pun sering bolos untuk mencari peluang usaha. Ia hanya menghadiri mata kuliah bisnis dan meninggalkan sebuah tape recorder untuk merekam ceramah dosennya.Tob melihat peluang baru saat berkunjung ke pameran makanan, yaitu berjualan kacang goreng. Ia menyewa mesin pembuat kacang goreng dan mencari lokasi berjualan yang tepat di mall. 

Pamannya lah yang selalu membantu dan mendukung usahanya untuk menjadi pengusaha. Ternyata berjualan kacang tidak semudah yang ia bayangkan. Hari pertama berjualan, Tob dan pamannya tidak berhasil menjual satu kacang pun. Tob lantas melakukan survey tempat dan cara bagaimana agar penjualannya meningkat. Ia masuk ke pasar dan melihat bagaimana orang berjualan, lalu mencatat hal-hal yang menurutnya bisa mendongkrak penjualannya. Setelah pindah lokasi, Tob dan pamannya berhasil mendapatkan banyak baht dari penjualan kacang goreng. Ia pun membuka beberapa cabang lokasi di mall.
Sayangnya, keberuntungan tidak selalu singgah di bisnis Tob. Beberapa hari kemudian, bisnis kacang gorengnya ditutup paksa oleh pihak mall karena asap gorengan dari mesin pembuat kacang itu telah mengotori atap mall.Suatu hari, rumah Tob disita karena ayahnya bangkrut dan memiliki utang 40 juta baht. Mereka terpaksa pindah ke Cina, tetapi Tob tidak mau ikut orangtuanya. Ia sangat terpukul dan bingung. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi mencari uang untuk membantu ayahnya. 

Sampai suatu ketika pacarnya membawakan setoples camilan rumput laut yang rasanya enak sekali. Camilan sejenis itu belum ada di kotanya. Dari sanalah muncul ide Tob untuk mencoba peluang usaha camilan rumput laut. Bersama pamannya, Tob mulai mencoba menggoreng rumput laut satu demi satu, tapi rasanya sangat pahit. Berkardus-kardus rumput laut telah habis, namun mereka masih belum menemukan cara bagaimana menggoreng rumput laut agar tidak pahit.Pada suatu malam, paman Tob terjatuh dan kepalanya luka. Tob menemukan pamannya telah pingsan lalu membawanya ke rumah sakit. Beruntung bagi Tob, akibat kejadian itu, ia berhasil menemukan cara agar rumput lautnya tidak pahit saat digoreng. Secercah harapan muncul. Ia menamakan produknya “Tao Kae Noi” yang artinya pengusaha muda. Mereka berhasil menjual banyak camilan rumput laut dan menghasilkan banyak uang. Untuk menghasilkan uang lebih banyak, Tob berencana memasarkan produknya lewat 7-Eleven.

Kedatangannya pertama kali, produknya ditolak karena tidak layak jual. Tak menyerah begitu saja, Tob lalu mencoba mengubah kemasan camilannya menjadi lebih menarik. Ia datang lagi ke kantor 7-Eleven untuk menemui manajernya. Setelah menunggu lama, Tob tetap tidak berhasil bertemu sang manajer. Ia pun meninggalkan contoh produknya di lift. Dari sanalah cahaya harapan Tob mulai bersinar. Produknya ditemukan oleh manajer 7-Eleven dan berhasil memenuhi syarat layak jual.Perjuangan Tob belum selesai. Agar bisa masuk di 7-Eleven, Tob harus memenuhi jumlah produksi yang ditetapkan sebagai syarat masuk, yaitu 72.000 kemasan untuk dikirim ke 6000 cabang 7-Eleven. Artinya, Tob harus memiliki pabrik untuk mencapai angka tersebut. Terbentur modal, ia mengajukan kredit ke bank, namun ditolak. Tob hampir putus asa. Ia telah kehilangan semua yang dimilikinya termasuk mobil, komputer, bahkan keluarganya.

Definisi Motivasi

  • Motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. (Mr. Donald : 1950).
  • Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan / tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan / keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. (Drs. Moh. Uzer Usman : 2000)
  • Motivasi adalah kekuatan tersembunyi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas (Davies, Ivor K : 1986)
  • Motivasi adalah usaha – usaha untuk menyediakan kondisi – kondisi sehingga anak itu mau melakukan sesuatu (Prof. Drs. Nasution : 1995) 
  • Robbins dan Judge (2007) mendefinisikan motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan.
  • Samsudin (2005) memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan motivasi sebagai proses mempengaruhi atau mendorong dari luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar mereka mau melaksanakan sesuatu yang telah ditetapkan. 
  • Motivasi juga dapat diartikan sebagai dorongan (driving force) dimaksudkan sebagai desakan yang alami untuk memuaskan dan memperahankan kehidupan.
  • Mangkunegara (2005,61) menyatakan : “motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam menghadapi situasi kerja di perusahaan (situation). Motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan positif terhadap situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja maksimal”.

KESIMPULAN:
Perasaan yang timbul dari dalam diri untuk mencapai tujuan, yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan, yang membuat kita bertindak dengan cara khas, dan desakan yang alami untuk memuaskan dan memperahankan kehidupan.

Teory Motivasi:

Pull Teory (menarik/insentiv) Artinya sesuatu yang ada diluar individu yang membuatnya tertarik sehingga berperilaku tertentu. motivasi nampaknya lebih merupakan masalah insentif yang diharapkan seperti gaji, bonus Ex : di rumah panas, di mall lebih dingin dan dia ingin dingin maka dia akan pergi ke mall untuk mendapatkan kenyamanannya (suasana yang dingin dan intensiv).

Push Teory (mendorong/drive) Artinya apa yang ada di dalam dirinya sendiri yang mendorongnya untuk berperilaku. Yang banyak dipakai disini adalah ‘need’. Apabila dia butuh sosial yang tinggi dia akan sering bertemu dengan orang. Ingin berinteraksi dia berbuat tertentu untuk berprestasi. Perilaku di dorong ke arah tujuan oleh keadaan-keadaan yang mendorong dalam diri seseorang atau binatang.

Analisis Film Sesuai Teori

Pull Theory (menarik/insentiv)
Saat itu Tob berada di bangku sekolah, dan selepas pulang sekolah Tob selalu bermain game online. Sampai akhirnya Tob mendapati pedang di game online tersebut dihargai mahal oleh lawan mainnya, Tob tersadar bahwa game online ini manghasilkan banyak uang, akhirnya Tob membeli banyak komputer dan memainkan game online di setiap komputernya. Tob mendapatkan banyak uang sampai Top dapat membeli sebuah mobil, hingga suatu ketika game online tersebut mati secara mendadak dan sehingga Tob memilirkan lagi akan melakukan usaha apa. Tob akhirnya mencoba berjualan kacang goreng dan dapat ia pasarkan di dalam mall.

Push Teory (mendorong/drive)
Orang tua Tob mengalami kebangrutan, lalu orang tunya memutuskan pergi ke cina untuk menemui serta tinggal bersama kakak Tob yang berada disana. Tob tidak ingin ikut bersama orang tuanya karena dia percaya bahwa ia bisa menghasilkan uang dan memulangkan orang tuanya kembali ke Thailand. Hal tersebut membuat Top termotivasi dan berusaha keras untuk mencari uang dengan usaha mencoba peluang usaha camilan rumput laut. Bersama pamannya untuk dipasarkan Tob berusaha mencoba dan mecoba dalam kegagalannya dengan berbagai usaha hingga akhirnya produk rumput laut Tob di terima oleh perusahaan 7-Eleven.
                


 Trailler Film  Film The Billionaire



Daftar Pustaka:

Dwi Riyanti, B.P (1998). Psikologi Umum 2 Seri Diktat Kuliah. Depok: Universitas Gunadarma
Irianto, Anton. 2005. Born to Win Kunci sukses yg tak pernah gagal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama 

Selasa, 10 November 2015

Review dan Analisis Film tentang Leadership

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 03.37 0 komentar
Kelompok         :  Mawar
Nama Anggota : 

  • Anisa Alyela                       19513947 
  • Dima Septiana Putri            12513466 
  • Hasna Putri anggraini          13513977 
  • Nadya Laksmitha D.W        16513296 
  • Silvi Rahmadianti                18513486  
Kelas:   3PA02





Sinopsis Film Captain Phillips



pembajakan Kapal Cargo Maersk Alabama di tahun 2009 di perairan Samudera Hindia yang di Nahkodai oleh Kapten Richard Phillips, yang disutradarai oleh Paul Greengrass dan diperankan oleh aktor Tom Hanks sebagai [Richard Phillips].

Pada tanggal 28 Maret 2009 Captain Phillips mendapat tugas belayar dari pelabuhan Salalah Oman menuju Mombasa Kenyadengan melewati perairan Somalia yang dikenal dengan kandang bajak laut, untuk mengantisipasi pembajakan Captain Phillips menyiapkan segala pengaman pada kapal, di waktu yang sama para pembajak melakukan aktifitas rutinnya diperairan somalia  dengan cara memonitor dan mendengar percakapan melalui radio kapal yang berlayar untuk dijadikan target pembajakan yang diketuai oleh Abduwali Muse [Barkhad Abdi].

Memasuki perairan teluk aden Captain Phillips mendapat perintah untuk melakukan simulasi penyelamatan, simulasi tersebut dilakukan secara diam-diam untuk kesiagaan awak kapal dalam bentuk apapun, sesuai perintah Captain Phillips awak kapal menyiapkan segala persiapan termasuk pompa semprot air dengan tekanan tinggi yang dilengkapi disetiap sisi kapal untuk mencegah perahu mendekati kapal Maersk Alabama yang berbendera Amerika tersebut dengan 20 awak kapal.

Namun pada waktu yang sama Captain Phillips melihat pada radar layar monitor kapal di buntuti oleh dua buah perahu kecil dari arah belakang kapal, secara cepat memanggil Shane [Michael Chernus] sebagai wakilnya dalam pelayaran tersebut, Captain Phillips memerintahkan krunya dalam bentuk siaga yang membuat krunya kebingunan dari perintah sebelumnya hanya melakukan latihan. Untuk mencari tahu tujuan perahu kecil tersebut kapal diarahkan 5 derajat belok kekiri, melihat gelagat perahu yang terus mengikuti kapal Captain Phillips memrintahkan semua krunya untuk siap di pos masing-masing dalam mencegah pembajakan.


Kedua Perahu kecil tersebut semakin mendekati kapal walaupun kecepatan kapal 125 knot namun tidak membuat kedua perahu menyerah, sebelumnya Captain Phillips melapor kepangkalan terhadap pengejaran kedua perahu yang dianggap nelayan oleh pangkalan, dengan ide yang unik Captain Phillips berpura-pura menghubungi Kapal Perang koalisi 237 yang didengar oleh 8 pembajak melalui radio mereka miliki.

Kebohongan yang diciptakan Captain Phillips membuat satu perahu dengan 4 orang pembajak menyerah, hanya satu perahu sebanyak 4 pembajak yang terus mengikuti kapal melawan ombak yang diciptakan lewat baling-baling kapal yang dinahkodai Captain Phillips.

Suasana tegang yang di alami Captain Phillips tidak membuat pembajak menyerah menghadapi besi besar yang berlayar diatas air yang mereka kejar dengan mesin tempel. Muse sebagai ketua dalam pembajakan tersebut tidak mudah menyerah dalam mencari uang yang sudah didepan mata dengan ratusan Container yang dilayari oleh Maersk Alabama tersebut, berhasilkah Muse atau Captain Phillips dalam perairan Somalia tersebut? Saksikan saja kisah Captain Phillips dalam menahkodai Maersk Alabama 2013.

Review Film Captain Phillips 



Dari film ini kita bisa belajar tentang pentingnya sebuah Trust. Ada momen dimana para kru dalam kondisi down, Kapten Philips meyakinkan para kru bahwa mereka akan baik baik saja selama mengikuti arahannya. Philips juga mempercayakan ruang mesin kepada para kru nya agar sebisa mungkin tidak jatuh ke kekuasaan perompak. Ketika pemimpin dan anak buah sudah memiliki rasa saling percaya satu sama lain maka masalah seberat apapun bisa teratasi, hal ini dibuktikan dengan tidak jatuhnya ruang mesin ke tangan perompak. Sementara di pihak lain, para perompak tidak memiliki Trust satu sama lain, mereka saling curiga dan menganggap teman mereka sendiri sebagai musuh.
Di bagian akhir film Philips mengajarkan kita akan sebuah pengorbanan dan pengharapan. Ia rela menjadi sandera asalkan para krunya selamat. Namun dalam keadaan serba sulit menjadi tawanan perompak dan terombang ambing dalam sekoci sempit, ia tetap berharap bisa pulang dengan selamat, berkumpul kembali dengan keluarganya. Philips menunjukkan dirinya adalah seorang pahlawan yang jujur, penuh ​​keberanian yang terjebak di sebuah kondisi dimana keputusasaan bukanlah sebuah pilihan.Pemimpin yang baik memang harus rela berkorban bagi yang dipimpinnya, ia juga tak boleh putus asa dalam setiap keadaan sulit. Apalah artinya manusia tanpa harapan.
Analisis film Captain Phillips  menurut teori leadership.


  • Teori X & Y dari Douglas McGregor
Dalam teori X dan Y ini mengungkapkan bagaimana perilaku bawahan dalam be
kerja serta bagaimana gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh atasan dalam situasi lingkungan kerja yang berbeda baik lingkungan kerja tersebut  bersifat postitif atau negatif , termasuk bagaimana komunikasi antarpribadi (atasan dan bawahan) tersebut dikembangkan dalam lingkungan kerjanya. 

Analisis Film :
Kapten Phillips sebagai seorang pemimpin dapat memimpin kelompoknya dengan bijaksana, sesuai dengan adegan film, ketika pembajak datang untuk menguasai kapal, kapten Phillips menyuruh bawahannya untuk bersembunyi di ruang mesin, dan menunggu kode dari sang kapten hingga situasi aman. Bawahannya pun mengikuti arahan sang kapten dengan bersembunyi di ruang mesin. 
  • Teori Sistem 4 dari Sistem Likert
Dalam teori system 4 dari sistem likert mengungkapkan bahwa pemimpin selalu meminta saran atau nasihat dari bawahannya, pemimpin tipe ini tidak membatasi komunikasi antar bawahan dan atasannya, pemimpin tidak memiliki batasan pada bawahannya dalam membuat suatu keputusan. 

Analisis Film :
Saat datang para pembajak, bawahan memberikan saran kepada kapten Phillips untuk menyalakan selang air agar para pembajak susah untuk menaiki kapal, kapten pun mengikuti saran bawahannya tersebut.
  • Theory Of Leadership Pattern Choice (Tannenbaum dan Schmidt)
Kepemimpinan yang diidentifikasi oleh Tannenbaum dan Schmidt seorang bawahan memiliki wewenang yang sama dengan atasannya, bawahan dapat mengutarakan isi pikirannya secara bebas terhadap atasannya, bawahan juga dapat membuat keputusan atas suatu permasalahan. Jadi, bawahan memiliki hak untuk mengutarakan isi pikirannya, dan bawahan tidak sungkan-sungkan untuk mengutarakannya, karena atasannya tidak membatasinya. 

Analisis Film :
Saat kapten Phillips membawa pembajak menuju ruang mesin, bawahannya telah menyiapkan strategi untuk mengelabui para pembajak. Mereka pergi ke dapur dan mengambil air mineral serta makanan yang di letakkan di depan pintu. Ketika kapten tiba di dapur minuman dan makanan telah tersedia sehingga para pembajak tidak merasa curiga dengan strategi mereka. Saat para pembajak  tiba di ruang mesin, salah satu anggota dari pembajak tersebut terluka kakinya akibat pecahan beling yang di taruh oleh bawahannya. Hal tersebut dilakukan untuk mengelabui pembajak.
  • Modern Choice Approach to Participation (Vroom & Yetton)
keputusan dilakukan berdasarkan macam sebab. Salah satunya berdasarkan situasi saat itu dan bedasarkan cara pemimpin memutuskan masalah.

Analisis Film :
Saat  bawahan menyandera pimpinan Somalia (pembajak) ,  kapten Phillips memerintahkan bawahannya untuk melepaskan pemimpin pembajak tersebut. Kapten membuat keputusan tersebut agar masalahnya dapat terselesaikan. Akhirnya bawahan pun melepaskan pimpinan pembajak tersebut dan para pembajak untuk meninggalkan kapal dengan menggunakan sebuah skoci atas perintah kapten.
  • Contingency Theory of Leadership dari Fiedler
Menurut teori contingency theory of leadership dari fiedler kepemimpinan akan berhasil jika kelompok dapat bekerja dengan baik, kelompok dapat bekerja dengan baik jika kelompok tersebut di pimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan yang baik dan pemimpin dapat  dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan  bawahan tersebut mengikuti petunjuk pemimpin serta mereka dapat menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan berarti gaya kepemimpinan tersebut berjalan dengan baik. 

Analisis Film :
Saat Kapten Phillips berdiri di pinggir skoci dia memberi kode kepada kru kapal militer bahwa ia duduk di bangku nomor 15, akhirnya kru kapal militer tersebut menyusun strategi untuk melumpuhkan musuh sehingga dapat menyelamatkan kapten Phillips.

  • Konsep Path Goal Theory of Leadership
Konsep path goal theory of  leadership adalah bagaimana cara pimpinan ikut mengamati atau berpartisipasi dalam mengamati sikap bawahan seperti kepuasan kerja pada karyawan, penerimaan karyawan kepada atasannya dan agar hubungan antara bawahan dan atasannya dapat berlangsung dengan baik.

Analisis Film :
Kapten Phillips menasihati bawahannya untuk segera melakukan latihan keamanan, agar tidak ada pembajak yang masuk dan bawahannya mengikuti nasihat kapten Phillips.


Trailler Captain Phillips 


Senin, 02 November 2015

Leadership

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 07.39 0 komentar
Nama Anggota : 

  • Anisa Alyela                            19513947 
  • Dima Septiana Putri                12513466 
  • Hasna Putri anggraini              13513977 
  • Nadya Laksmitha D.W            16513296 
  • Silvi Rahmadianti                    18513486  
Kelas:   3PA02




I. LEADERSHIP


1. DEFINISI LEADERSHIP (KEPEMIMPINAN)
  • Ralph M. Stogdill dalam Sutarto (1998) memberikan pengertian kepemimpinan sebagai suatu proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan sekelompok orang yang terorganisasi dalam usaha mereka menetapkan dan mencapai tujuan.
  • Menurut Hemphill and Coons (1957) bahwa kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang akan dicapai bersama.
  • Menurut Janda (1960) kepemimpinan adalah suatu jenis hubungan kekeuasaan yang ditandai oleh persepsi anggota kelompok bahwa anggota kelompok yang lain mempunyai hak untuk merumuskan pola perilaku dari anggota yang pertama dalam hubungannya dengan kegiatannya sebagai anggota kelompok.
  • Menurut Rauch and Behling (1984) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasikan kearah pencapaian tujuan.
  • Menurut Jacobs and Jacques (1990) kepemimpinan adalah interaksi antarmanusia dimana salah satunya menyajikan suatu jenis informasi tertentu sedemikian rupa sehingga yang lain yakin bahwa hasilnya akan lebih baik jika ia berperilaku sesuai dengan cara-cara yang dianjurkan atau diharapkan.
  • Sedangkan Sutarto (1998) mendefinisikan kepemimpian sebagai rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses, perilaku atau hubungan yang menyebabkan suatu kelompok dapat bertindak secara bersama-sama atau secara bekerja sama atau sesuai dengan aturan atau sesuai dengan tujuan bersama.

2. TEORI KEPEMIMPINAN PARTISIPATIF
Kepemimpinan partisipatif adalah pemimpin meminta dan menggunakan saran-saran bawahannya, tetapi tetap berperan dalam pengambilan dan pembuatan keputusan.

A. Teori X & Y dari Douglas McGregor


Asumsi yang dikembangkan dalam teori X pada dasarnya cenderung negatif dan gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam suatu organisasi adalah gaya kepemimpinan petunjuk (derective leadership style). Sementara itu, asumsi yang dikembangkan dalam teori Y pada dasarnya cenderung positif dan gaya kepemimpinan yang diterapkan adalah gaya kepemimpinan partisipatif (participative leadership style).
Dalam teori X dan Y Douglas McGregor berusaha mengungkapkan bagaimana perilaku karyawan dalam bekerja dan sekaligus bagaimana gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam situasi lingkungan kerja yang berbeda, termasuk bagaimana komunikasi antarpribadi (manajer dan bawahan) tersebut dikembangkan dalam libgkungan kerjanya.

B. Teori Sistem 4 dari Sistem Likert


  • Sistem Otokratis Eksploitif

Pada sistem Otokratis Eksploitif ini, pemimpin membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja dan memerintah para bawahan untuk melaksanakannya. Standar dan metode pelaksanaan juga secara kaku ditetapkan oleh pemimpin. Pemimpin tipe ini sangat otoriter, mempunyai kepercayaan yang rendah terhadap bawahannya, memotivasi bawahan melalui ancaman atau hukuman. Komunikasi yang dilakukan satu arah ke bawah .
  • Sistem Otokratis Paternalistic

Pada sistem ini, Pemimpin tetap menentukan perintah-perintah, tetapi memberi bawahan kebebasan untuk memberikan komentar terhadap perintah-perintah tersebut. Berbagai fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam batas-batas dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan. Pemimpin mempercayai bawahan sampai tingkat tertentu, memotivasi bawahan dengan ancaman atau hukuman tetapi tidak selalu dan memperbolehkan komunikasi ke atas. Pemimpin memperhatikan ide bawahan dan mendelegasikan wewenang, meskipun dalam pengambilan keputusan masih melakukan pengawasan yang ketat.
  • Sistem Konsultatif

Pada sistem ini, Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan dan memberikan perintah-perintah setelah hal-hal itu didiskusikan dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat keputusan–keputusan mereka sendiri tentang cara pelaksanaan tugas. Penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman.Pemimpin mempunyai kekuasaan terhadap bawahan yang cukup besar. Pemimpin menggunakan balasan (insentif) untuk memotivasi bawahan dan kadang-kadang menggunakan ancaman atau hukuman. Komunikasi dua arah dan menerima keputusan spesifik yang dibuat oleh bawahan.
  • Sistem Partisipatif

Sistem partisipatif adalah sistem yang paling ideal menurut Likert tentang cara bagaimana organisasi seharusnya berjalan. Tujuan-tujuan ditetapkan dan keputusan-keputusan kerja dibuat oleh kelompok. Bila pemimpin secara formal yang membuat keputusan, mereka melakukan setelah mempertimbangkan saran dan pendapat dari para anggota kelompok. Untuk memotivasi bawahan, pemimpin tidak hanya mempergunakan penghargaan-penghargaan ekonomis tetapi juga mencoba memberikan kepada bawahan perasaan yang dibutuhkan dan penting. Pemimpin mempunyai kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahan, menggunakan insentif ekonomi untuk memotivasi bawahan. Komunikasi dua arah dan menjadikan bawahan sebagai kelompok kerja.

Kesimpulan :
Menurut kelompok kami ada empat sistem kepemimpinan menurut likert :
  • Otokratis eksploitif pemimpin ini memerintah bawahan, pemimpin ini kepercayaannya rendah terhadap bawahannya, memotivasi bawahan dengan ancaman dan hukuman.
  • Otokratis Paternalistic pemimpin ini bekerja menurut prosedur dan memberikan kebebasan kepada bawahannya. Memperbolehkan bawahan berkomunikasi langsung dengan atasan. Pemimpin memperhatikan ide bawahan dan mendelegasikan wewenang.
  • System Konsultatif pemimpin ini mendiskusikan setiap perintah yang akan diberikan kebawahannya, Penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman. Disini lebih mementingkan komunikasi dua arah antara pemimpin dan bawahan.
  • System konsultatif pemimpin  disini memberikan hak kepada bawahan untuk membuat keputusan, penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan.
Jadi, pemimpin selalu meminta saran atau nasihat dari bawahannya, pemimpin tipe ini tidak membatasi komunikasi antar bawahan dan atasannya, pemimpin tidak memiliki batasan pada bawahannya dalam membuat suatu keputusan. 


C. Theory Of Leadership Pattern Choice (Tannenbaum dan Schmidt)

Tujuh “pola kepemimpinan” yang diidentifikasi oleh Tannenbaum dan Schmidt. Demokrasi (hubungan berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang oleh bawahan. Otoriter (tugas berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang oleh pemimpin.Perhatikan bahwa sebagai penggunaan kekuasaan oleh bawahan meningkat (gaya demokratis) penggunaan wewenang oleh pemimpin berkurang secara proporsional.
  • Kepemimpinan Pola 1: “Pemimpin izin bawahan berfungsi dalam batas-batas yang ditentukan oleh superior.” Contoh: Pemimpin memungkinkan anggota tim untuk memutuskan kapan dan seberapa sering untuk bertemu.
  • Kepemimpinan Pola 2: “Pemimpin mendefinisikan batas-batas, dan meminta kelompok untuk membuat keputusan.” Contoh: Pemimpin mengatakan bahwa anggota tim harus memenuhi setidaknya sekali seminggu, tetapi tim bisa memutuskan mana hari adalah yang terbaik.
  • Kepemimpinan Pola 3: “Pemimpin menyajikan masalah, mendapat kelompok menunjukkan, maka pemimpin membuat keputusan.” Contoh: Pemimpin meminta tim untuk menyarankan hari-hari baik untuk bertemu, maka pemimpin memutuskan hari apa tim akan bertemu.
  • Kepemimpinan Pola 4: “Pemimpin tentatif menyajikan keputusan untuk kelompok. Keputusan dapat berubah oleh kelompok.” Contoh: Pemimpin kelompok bertanya apakah hari Rabu akan menjadi hari yang baik untuk bertemu. Tim menyarankan hari-hari lain yang mungkin lebih baik.
  • Kepemimpinan Pola 5: “Pemimpin menyajikan ide-ide dan mengundang pertanyaan.” Contoh: Pemimpin tim mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan membuat hari Rabu untuk pertemuan tim. Pemimpin kemudian meminta kelompok jika mereka memiliki pertanyaan.
  • Kepemimpinan Pola 6 : “Para pemimpin membuat keputusan kemudian meyakinkan kelompok bahwa keputusan yang benar.” Contoh: Pemimpin mengatakan kepada anggota tim bahwa mereka akan bertemu pada hari Rabu. Pemimpin kemudian meyakinkan anggota tim bahwa Rabu adalah hari-hari terbaik untuk bertemu.
  • Kepemimpinan Pola 7: “Para pemimpin membuat keputusan dan mengumumkan ke grup.” Contoh: Pemimpin memutuskan bahwa tim akan bertemu pada hari Rabu apakah mereka suka atau tidak, dan mengatakan bahwa berita itu kepada tim.

Kesimpulan :
Menurut kelompok kami pola kepemimpinan yang diidentifikasi oleh Tannenbaum dan Schmidt seorang bawahan memiliki wewenang yang sama dengan atasannya, bawahan dapat mengutarakan isi pikirannya secara bebas terhadap atasannya, bawahan juga dapat membuat keputusan atas suatu permasalahan. Jadi, bawahan memiliki hak untuk mengutarakan isi pikirannya, dan bawahan tidak sungkan-sungkan untuk mengutarakannya, karena atasannya tidak membatasinya. 

D. Modern Choice Approach to Participation (Vroom & Yetton)

Menurut teori ini gaya kepemimpinan yang tepat ditentukan oleh corak persoalan yang
dihadapi oleh macam keputusan yang harus diambil. Model teori ini dapat digunakan untuk:
  •  Membantu mengenali berbagai jenis situasi pemecahan persoalan secara berkelompok (group problem solving situation).
  •  Menyarankan gaya kepemimpinan mana yang dianggap layak untuk setiap situasi. Ada tiga perangkat parameter yang penting yaitu klasifikasi gaya kepemimpinan, kriteria efektifitas keputusan, kriteria penemukenalan jenis pemecahan persoalan.Misalnya seorang dokter yang mengambil keputusan untuk melakukan operasi terhadap pasien yang mengalami kecelakaan tanpa dia harus berkonsultasi terlebih dahulu terhadap staf-stafnya dengan menggunakan informasi yang pada waktu itu diketahuinya.Dari sini dapat dilihat bahwa gaya pengambilan keputusan yang diambil oleh dokter tersebut merupakan gaya pengambilan keputusan A-1 yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang dimana dia mengambil keputusannya sendiri dalam memecahkan persoalan dengan menggunakan informasi yang pada waktu itu diketahuinya

Kesimpulan :
 Menurut kelompok kami keputusan dilakukan berdasarkan macam sebab. Salah satunya berdasarkan
 situasi saat itu dan bedasarkan cara pemimpin memutuskan masalah.

E. Contingency Theory of Leaderhip dari Fiedler


Kepemimpinan tidak akan terjadi dalam satu kevakuman sosial atau lingkungan. Para pemimpin mencoba melakukan pengaruhnya kepada anggota kelompok dalam kaitannya dengan situasi-situasi yg spesifik. Karena situasi dapat sangat bervariasi sepanjang dimensi yang berbeda, oleh karenanya hanya masuk akal untuk memperkirakan bahwa tidak ada satu gaya atau pendekatan kepemimpinan yang akan selalu terbaik. Namun, sebagaimana telah kita pahami bahwa strategi yg paling efektif mungkin akan bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya.

Teori-teori kontingensi berasumsi bahwa berbagai pola perilaku pemimpin (atau ciri) dibutuhkan dalam berbagai situasi bagi efektivitas kepemimpinan. Asumsi sentral teori ini adalah bahwa kontribusi seorang pemimpin kepada kesuksesan kinerja oleh kelompoknya adalah ditentukan oleh kedua hal yakni karakteristik pemimpin dan dan oleh berbagai variasi kondisi dan situasi. Untuk dapat memahami secara lengkap efektifitas pemimpin, kedua hal tersebut harus dipertimbangkan.

Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power).

Hubungan antara pemimpin dan bawahan  (leader member relations) menjelaskan  sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin.

Misalnya :
* Meminta orang tertentu untuk bekerja dalam kelompok
* Memindahkan bawahan tertentu ke luar dari unit
* Sukarela mengarahkan, mengajarkan dan menegur bawahan yang bandel atau sulit diatur


Struktur tugas (the task structure) menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku.

Misalnya :
* Memberikan tugas baru atau tidak biasa pada kelompok
* Bagi tugas menjadi sub tugas yang lebih kecil sehingga lebih terstruktur

Kekuatan posisi (Position power) menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat (demotions).

Misalnya :
* Tunjukkan pada bawahan siapa yang berkuasa dengan menerapkan seluruh otoritas yang Anda miliki
* Pastikan informasi pada kelompok hanya dapat diperoleh melalui anda
* Biarkan bawahan berpartisipasi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan

Kesimpulan :
Menurut kelompok kami Contingency Theory of  Leadership dari Fiedler adalah kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Jadi kepemimpinan akan berhasil jika kelompok dapat bekerja dengan baik, kelompok dapat bekerja dengan baik jika kelompok tersebut di pimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan yang baik.
Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). Jadi menurut kelompok kami apabila  pemimpin dapat  dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan  bawahan tersebut mengikuti petunjuk pemimpin serta mereka dapat menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan berarti gaya kepemimpinan tersebut berjalan dengan baik. 

F. Konsep Path Goal Theory of Leadership



Menurut model ini, pemimpin menjadi efektif karena efek positif yang mereka berikan terhadap motivasi kinerja dan kepuasan. Teori ini dianggap sebagai path-goal karena terfokus pada bagaimana pemimpin  mempengaruhi persepsi dari pengikutnya tentang tujuan pekerjaan, tujuan pengembangan diri, dan jalur yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan (Ivancevich, dkk, 2007:205).

 Dasar dari path goal adalah teori motivasi ekspektansi. Teori awal dari path goal menyatakan bahwa pemimpin efektif adalah pemimpin yang bagus dalam memberikan imbalan pada bawahan dan membuat imbalan tersebut dalam satu kesatuan (contingent) dengan pencapaian bawahan terhadap tujuan sepsifik.

Perkembangan awal teori path goal menyebutkan empat gaya perilaku spesifik dari seorang pemimpin meliputi direktif, suportif, partisipatif, dan berorientasi pencapaian dan tiga sikap bawahan meliputi kepuasan kerja, penerimaan terhadap pimpinan, dan harapan mengenai hubungan antara usaha –kinerja-imbalan.

 Model kepemimpinan jalur tujuan (path goal) menyatakan pentingnya pengaruh pemimpin terhadap persepsi bawahan mengenai tujuan kerja, tujuan pengembangan diri, dan jalur pencapaian tujuan. Dasar dari model ini adalah teori motivasi eksperimental. Model kepemimpinan ini dipopulerkan oleh Robert House yang berusaha memprediksi ke-efektifan kepemimpinan dalam berbagai situasi.

Kesimpulan :
Menurut kelompok kami konsep path goal theory of  leadership adalah bagaimana cara pimpinan ikut mengamati atau berpartisipasi dalam mengamati sikap bawahan seperti kepuasan kerja pada karyawan, penerimaan karyawan kepada atasannya dan agar hubungan antara bawahan dan atasannya dapat berlangsung dengan baik.

Daftar Pustaka :
Sarwono, S.W. (2005). Psikologi Sosial: Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.
Tangkilisan, H.N. (2005). Manajemen Publik. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Purwanto, D. (2006). Komunikasi Bisnis. Jakarta: Erlangga.
Sehfudin, Arif. 2011. Dalam Skripsi: Pengaruh Gaya Kepemimpinan Komunikasi Organisasi Dan Motivasi kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada PT. ****************************** Cabang Semarang). Skripsi: Semarang


 

Hasna putri anggraini Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos