Rabu, 30 April 2014

Tugas Review Jurnal

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 06.59
REVIEW JURNAL 



Disusun oleh:

Nama          :        Hasna Putri Anggraini 
Npm           :        13513977
Kelas          :        1PA09
Tugas         :       Kreatifitas dan keberbakatan 


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2013/2014

Judul Penelitian : Upaya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa melalui    pengajuan masalah
Peneliti : Tatag Yuli Eko Siswono
Tahun : 2005
Penerbit : -
Pendahuluan :
Salah satu masalah dalam pembelajaran matematika di SMP adalah rendahnya
kemampuan siswa dalam memecahkan masalah terutama memecahkan masalah dalam soal cerita. Biasanya yang menjadi permasalahan adalah kurangnya pemahaman kalimat ketika membaca dan mengerjakan soal seperti tidak dapat membedakan informasi yang diketahui dengan soal yang diberikan.
penyebab kelemahan siswa tersebut, antara lain:
1. Selama ini dalam mengajarkan pemecahan masalah seperti soal cerita siswa tidak berlatih dan memahami bagaimana memecahkan masalah dalam soal tersebut karena biasanya guru hanya mengajarkan dengan memberi contoh soal dan menyelesaikannya secara langsung, serta tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk mengerjakannya sendiri.
2.  Pola pengajaran selama ini masih dengan tahapan memberikan
informasi tentang materi-materi seperti : memberikan contoh dan latihan-latihan, tetapi jarang memberikan soal cerita. Hal ini karena guru beranggapan bahwa
soal cerita pasti akan sulit untuk dipahami siswa , sehingga tidak diprioritaskan untuk
diajarkan/diberikan.
3. Dalam merencanakan penyelesaian masalah tidak diajarkan strategi-strategi untuk mendorong ketrampilan berpikir kreatif siswa dalam menemukan jawaban masalah.
Ketika kita tahu apa saja penyebab siswa tidak paham dengan soal cerita yang diberikan perlu adanya cara mengatasi hal tersebut agar tidak terjadi lagi yaitu dengan cara menitik beratkan pada pelatihan cara berpikir dan bernalar siswa dalam mengembangkan kreatifitasnya seperti yang tertera pada tujuan kurikulum 2004. Selain itu mengembangkan kemampuan dengan memecahkan masalah dan mengkomunikasi gagasan juga dapat menjadi alternatif dalam menyelesaikan soal cerita tersebut,sehingga dalam proses pembelajaran diperlukan penyelesain masalah (Problem Posing) yang bertujuan untuk meminta siswa agar mengajukan atau membuat masalah (soal) baru sebelum, selama atau sesudah menyelesaikan masalah awal yang diberikan. Hal ini berfungsi untuk membantu siswa dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan terhadap matematika. Pengajuan masalah merupakan tugas kegiatan yang mengarah pada sikap kritis dan kreatif. Sebab dalam pengajuan masalah siswa diminta untuk membuat pertanyaan dari informasi yang diberikan. Padahal bertanya merupakan pangkal semua kreasi. Orang yang memiliki kemampuan mencipta (berkreasi) dikatakan memiliki sikap kreatif (Nasoetion,1991:28). Moses (Dunlap, 2001:5) membicarakan berbagai cara yang dapat mendorong berpikir kreatif siswa yaitu dengan menggunakan pengajuan masalah. Pertama, memodifikasi masalah-masalah dari buku teks. Kedua, menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang mempunyai jawaban ganda. Masalah yang hanya mempunyai jawaban tunggal tidak mendorong berpikir matematika dengan
kreatif, siswa hanya menerapkan algoritma yang sudah diketahui.

Metode penelitian :
Penelitian yang dilakukan adalah dengan melakukan penelitian langsung ke lapangan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 2 siklus yang bertujuan untuk dapat melihat kemampuan berpikir kreatif pada  siswa dalam memecahkan masalah. Sebelumnya siswa diberikan tes diagnostik yang berfungsi sebagai evaluasi awal (initial evaluation). Prosedur penelitian meliputi :
1. Perencanaan (planning)
2. Pelaksanaan tindakan (action)
3. Observasi (obsevation)
4. Refleksi (reflection) dalam setiap siklus.

Faktor-faktor
Penelitian

Instrumen
Metode Analisis
Indikator
Kemampuan
berpikir kreatif
siswa.

Lembar Penilaian
(Tertulis dan Kinerja)
LKS
Kuantitatif .
Meningkat bila banyak siswa yang mempunyai
kemampuan berpikir kreatif pada tiap siklus
berikutnya lebih tinggi dari sebelumnya atau
persentase seluruh siswa yang mengalami
keadaan itu makin lebih banyak dari sebelumnya.
Nilai kinerja siswa tiap pertemuan mengalami
kenaikan.
Aktivitas siswa

Lembar Pengamatan
Pembelajaran dengan
pengajuan masalah dan Handycam
Kualitatifdeskriptif

Siswa aktif jika sering atau selalu menunjukkan
aspek-aspek pengamatan.
Aktivitas Guru
Lembar Pengamatan
Pembelajaran dengan
pengajuan masalah
(Instrumen 2)
_ Handycam
Kualitatifdeskriptif
Guru melakukan langkah pembelajaran dengan
tepat jika sering menunjukkan aspek-aspek
pengamatan.
Pengelolaan
Pembelajaran
• Lembar Pengamatan
Pembelajaran langsung
(Instrumen 3)
• Handycam
Kualitatifdeskriptif
Guru melakukan langkah pembelajaran dengan
tepat jika sesuai dengan langkah pengajaran
langsung dan sesuai
Respon siswa
Kualitatifdeskriptif
Angket Pendapat Siswa
(instrument 4)
Kualitatif deskriptif
Memberikan respon positif terhadap pembelajaran,
jika banyak siswa yang setuju atau sangat setuju
lebih banyak daripada siswa yang tidak atau
sangat tidak setuju.
Respon guru

Angket Pendapat Guru
Kualitatifdeskriptif
Memberikan respon positif terhadap pembelajaran,
jika aspek yang disetujui atau sangat setujui lebih
banyak daripada yang tidak atau sangat tidak
disetujui.
Refleksi diri
jurnal
Kualitatif deskriptif
(Untuk mendukung pertimbangan siklus
berikutnya)





Hasil penelitian :

Perubahan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Perubahan kemampuan berpikir kreatif siswa tiap siklus dapat dilihat pada tabel C.1
berikut.

Tabel C.1: Perubahan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Kemampuan berpikir kreatif
Berpikir kreatif
Tes awal
Siklus 1
Siklus 2
Paham Informasi
53,87 %
77,78%
91,43%
Kefasihan
0,00%
50,00%
65,71%
Fleksibilitas
0,00%
22,22%
14,29%
kebaruan
0,00%
19,44%
22,86%

Bila memperhatikan tabel C.1. maka banyak siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif pada siklus pertama dan mengalami peningkatan untuk tiap aspek, tetapi pada siklus kedua untuk aspek fleksibilitas mengalami penurunan. Jadi dapat disimpulkan berdasar kriteria yang dibuat,secara keseluruhan siswa belum mengalami peningkatan kemampuan berpikir kreatifnya.Pembelajaran dengan pengajuan masalah hanya meningkatkan pada aspek pemahaman informasi terhadap masalah, kefasihan dan kebaruan menghasilkan jawaban.

Perubahan Kemampuan Memecahkan Masalah

Perubahan siswa dalam memecahkan masalah pada tiap siklus pada tabel C.2 berikut.
Tabel C.2: Perubahan Kemampuan Memecahkan Masalah
Siklus/pertemuan
Siklus 1
pertemuan 1
pertemuan 1
siklus 2
Tugas 1
Tugas 2
pertemuan 4
Banyak Siswa mampu
6 siswa
13 siswa
24 siswa
mencapai skor lebih dari
15,79%
36,11%
64,87%
65% dari skor

maksimum.


Kemampuan memecahkan masalah mengalami kemajuan meskipun kenaikan siswa yang telah mencapai skor lebih dari 65% dari skor maksimal tidak terlalu banyak. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif yang tidak meningkat. Selain itu, kondisi ini menunjukkan sulitnya mengatasi kesulitan siswa dalam memecahkan masalah.

 Perubahan siswa dalam mengajukan masalah tiap siklus dapat dilihat pada tabel C.3 berikut.
Tabel C.3: Perubahan Kemampuan Mengajukan Masalah
Siklus/pertemuan
siklus 1
Siklus 2
pertemuan 1
pertemuan 2
Pertemuan 4
9 siswa
24 siswa
32 siswa
Banyak Siswa mampu
mengajukan masalah
dengan benar dan dapat
menyelesaikan nya..
23,68%
64,86%
88,89%

Kemajuan siswa dalam mengajukan masalah seperti pada tabel C.3 di atas ternyata selaras dengan kemajuan kemampuan memecahkan masalah. Hasil ini memberi gambaran tentang adanya hubungan antara kemampuan pengajuan masalah dan pemecahan masalah, seperti dikatakan English (1997:173).

Contoh pengajuan soal yang benar dibuat siswa (DPS). Dalam mengajukan masalah pada siklus pertama siswa mengalami kesalahan-kesalahan sebagai
Berikut:
(1) tidak meyebutkan pertanyaan soal (7 siswa)
(2) Soal benar tetapi penyelesaian salah (1 siswa)
(3) Tidak diketahui gambar atau sudut /kurang informasi (12 siswa)




Kesimpulan :
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan pengajuan masalah belum meningkatkan. empat aspek kemampuan berpikir kreatif siswa, terutama fleksibilitas dalam memecahkan masalah. Tetapi untuk aspek pemahaman terhadap informasi masalah, kebaruan dan kefasihan dalam menjawab soal mengalami peningkatan. Hasil lain menunjukkan bahwa :
1. Kemampuan memecahkan masalah mengalami kemajuan/peningkatan dengan ditunjukkan semakin banyaknya siswa yang mencapai skor lebih dari 65% dari skor maksimum pada tiap siklus.
2.Kemampuan pengajuan masalah siswa juga meningkat dengan ditunjukkan semakin banyaknya siswa yang dapat membuat soal sekaligus penyelesaiannya dengan benar.
3. Kinerja siswa dalam memecahkan masalah mengalami perkembangan yang naik turun dari semula rata-rata pada tingkat cukup menjadi baik dan turun lagi menjadi cukup. Kategori yang belum dipenuhi atau kurang dipenuhi adalah dalam menunjukkan kemampuan berpikir kreatif.
4. Siswa dan guru memberi respon positif terhadap pembelajaran yang dilakukan dengan pengajuan masalah. Hambatan terutama ketika menghadapi siswa yang heterogen dan memerlukan penanganan berbeda-beda ketika penerapan pembelajaran dengan pengajuan masalah.



0 komentar:

Posting Komentar

 

Hasna putri anggraini Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos