REVIEW JURNAL
Disusun
oleh:
Nama : Hasna Putri
Anggraini
Npm : 13513977
Kelas : 1PA09
Tugas : Kreatifitas dan keberbakatan
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2013/2014
Judul
Penelitian : Upaya
meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa melalui pengajuan masalah
Peneliti : Tatag Yuli Eko Siswono
Tahun : 2005
Penerbit : -
Pendahuluan :
Salah
satu masalah dalam pembelajaran matematika di SMP adalah rendahnya
kemampuan siswa dalam
memecahkan masalah terutama memecahkan masalah dalam soal cerita. Biasanya yang
menjadi permasalahan adalah kurangnya pemahaman kalimat ketika membaca dan
mengerjakan soal seperti tidak dapat membedakan informasi yang diketahui dengan
soal yang diberikan.
penyebab kelemahan siswa
tersebut, antara lain:
1. Selama ini dalam
mengajarkan pemecahan masalah seperti soal cerita siswa tidak berlatih dan
memahami bagaimana memecahkan masalah dalam soal tersebut karena biasanya guru
hanya mengajarkan dengan memberi contoh soal dan menyelesaikannya secara
langsung, serta tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk mengerjakannya
sendiri.
2. Pola pengajaran selama ini masih dengan
tahapan memberikan
informasi tentang materi-materi
seperti : memberikan contoh dan latihan-latihan, tetapi jarang memberikan soal
cerita. Hal ini karena guru beranggapan bahwa
soal cerita pasti akan sulit
untuk dipahami siswa , sehingga tidak diprioritaskan untuk
diajarkan/diberikan.
3. Dalam merencanakan
penyelesaian masalah tidak diajarkan strategi-strategi untuk mendorong
ketrampilan berpikir kreatif siswa dalam menemukan jawaban masalah.
Ketika
kita tahu apa saja penyebab siswa tidak paham dengan soal cerita yang diberikan
perlu adanya cara mengatasi hal tersebut agar tidak terjadi lagi yaitu dengan
cara menitik beratkan pada pelatihan cara berpikir dan bernalar siswa dalam
mengembangkan kreatifitasnya seperti yang tertera pada tujuan kurikulum 2004.
Selain itu mengembangkan kemampuan dengan memecahkan masalah dan mengkomunikasi
gagasan juga dapat menjadi alternatif dalam menyelesaikan soal cerita tersebut,sehingga
dalam proses pembelajaran diperlukan penyelesain masalah (Problem Posing) yang
bertujuan untuk meminta siswa agar mengajukan atau membuat masalah (soal) baru
sebelum, selama atau sesudah menyelesaikan masalah awal yang diberikan. Hal ini
berfungsi untuk membantu siswa dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan
terhadap matematika. Pengajuan masalah merupakan tugas kegiatan yang mengarah
pada sikap kritis dan kreatif. Sebab dalam pengajuan masalah siswa diminta
untuk membuat pertanyaan dari informasi yang diberikan. Padahal bertanya
merupakan pangkal semua kreasi. Orang yang memiliki kemampuan mencipta
(berkreasi) dikatakan memiliki sikap kreatif (Nasoetion,1991:28). Moses
(Dunlap, 2001:5) membicarakan berbagai cara yang dapat mendorong berpikir
kreatif siswa yaitu dengan menggunakan pengajuan masalah. Pertama, memodifikasi
masalah-masalah dari buku teks. Kedua, menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang
mempunyai jawaban ganda. Masalah yang hanya mempunyai jawaban tunggal tidak
mendorong berpikir matematika dengan
kreatif, siswa hanya
menerapkan algoritma yang sudah diketahui.
Metode penelitian :
Penelitian
yang dilakukan adalah dengan melakukan penelitian langsung ke lapangan.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 2 siklus yang bertujuan untuk dapat
melihat kemampuan berpikir kreatif pada siswa dalam memecahkan masalah. Sebelumnya
siswa diberikan tes diagnostik yang berfungsi sebagai evaluasi awal (initial
evaluation). Prosedur penelitian meliputi :
1. Perencanaan (planning)
2. Pelaksanaan tindakan
(action)
3. Observasi (obsevation)
4. Refleksi (reflection)
dalam setiap siklus.
Faktor-faktor
Penelitian
|
Instrumen
|
Metode Analisis
|
Indikator
|
Kemampuan
berpikir
kreatif
siswa.
|
Lembar
Penilaian
(Tertulis
dan Kinerja)
LKS
|
Kuantitatif
.
|
Meningkat
bila banyak siswa yang mempunyai
kemampuan
berpikir kreatif pada tiap siklus
berikutnya
lebih tinggi dari sebelumnya atau
persentase
seluruh siswa yang mengalami
keadaan
itu makin lebih banyak dari sebelumnya.
Nilai
kinerja siswa tiap pertemuan mengalami
kenaikan.
|
Aktivitas
siswa
|
Lembar
Pengamatan
Pembelajaran
dengan
pengajuan
masalah dan Handycam
|
Kualitatifdeskriptif
|
Siswa
aktif jika sering atau selalu menunjukkan
aspek-aspek
pengamatan.
|
Aktivitas
Guru
|
Lembar
Pengamatan
Pembelajaran
dengan
pengajuan
masalah
(Instrumen
2)
_
Handycam
|
Kualitatifdeskriptif
|
Guru
melakukan langkah pembelajaran dengan
tepat
jika sering menunjukkan aspek-aspek
pengamatan.
|
Pengelolaan
Pembelajaran
|
•
Lembar Pengamatan
Pembelajaran
langsung
(Instrumen
3)
•
Handycam
|
Kualitatifdeskriptif
|
Guru
melakukan langkah pembelajaran dengan
tepat
jika sesuai dengan langkah pengajaran
langsung
dan sesuai
|
Respon
siswa
Kualitatifdeskriptif
|
Angket
Pendapat Siswa
(instrument
4)
|
Kualitatif
deskriptif
|
Memberikan
respon positif terhadap pembelajaran,
jika
banyak siswa yang setuju atau sangat setuju
lebih
banyak daripada siswa yang tidak atau
sangat
tidak setuju.
|
Respon
guru
|
Angket
Pendapat Guru
|
Kualitatifdeskriptif
|
Memberikan
respon positif terhadap pembelajaran,
jika
aspek yang disetujui atau sangat setujui lebih
banyak
daripada yang tidak atau sangat tidak
disetujui.
|
Refleksi
diri
|
jurnal
|
Kualitatif
deskriptif
|
(Untuk
mendukung pertimbangan siklus
berikutnya)
|
Hasil penelitian :
Perubahan
Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Perubahan kemampuan berpikir
kreatif siswa tiap siklus dapat dilihat pada tabel C.1
berikut.
Tabel C.1:
Perubahan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Kemampuan berpikir kreatif
|
Berpikir kreatif
|
||
Tes awal
|
Siklus 1
|
Siklus 2
|
|
Paham Informasi
|
53,87 %
|
77,78%
|
91,43%
|
Kefasihan
|
0,00%
|
50,00%
|
65,71%
|
Fleksibilitas
|
0,00%
|
22,22%
|
14,29%
|
kebaruan
|
0,00%
|
19,44%
|
22,86%
|
Bila memperhatikan tabel C.1.
maka banyak siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif pada siklus pertama dan
mengalami peningkatan untuk tiap aspek, tetapi pada siklus kedua untuk aspek
fleksibilitas mengalami penurunan. Jadi dapat disimpulkan berdasar kriteria
yang dibuat,secara keseluruhan siswa belum mengalami peningkatan kemampuan
berpikir kreatifnya.Pembelajaran dengan pengajuan masalah hanya meningkatkan
pada aspek pemahaman informasi terhadap masalah, kefasihan dan kebaruan
menghasilkan jawaban.
Perubahan
Kemampuan Memecahkan Masalah
Perubahan siswa dalam
memecahkan masalah pada tiap siklus pada tabel C.2 berikut.
Tabel C.2: Perubahan
Kemampuan Memecahkan Masalah
Siklus/pertemuan
|
Siklus 1
|
||
pertemuan 1
|
pertemuan 1
|
siklus 2
|
|
Tugas 1
|
Tugas 2
|
pertemuan 4
|
|
Banyak Siswa mampu
|
6 siswa
|
13 siswa
|
24 siswa
|
mencapai skor lebih dari
|
15,79%
|
36,11%
|
64,87%
|
65% dari skor
|
|||
maksimum.
|
|||
Kemampuan memecahkan masalah
mengalami kemajuan meskipun kenaikan siswa yang telah mencapai skor lebih dari
65% dari skor maksimal tidak terlalu banyak. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan
berpikir kreatif yang tidak meningkat. Selain itu, kondisi ini menunjukkan
sulitnya mengatasi kesulitan siswa dalam memecahkan masalah.
Perubahan
siswa dalam mengajukan masalah tiap siklus dapat dilihat pada tabel C.3 berikut.
Tabel C.3:
Perubahan Kemampuan Mengajukan Masalah
Siklus/pertemuan
|
siklus 1
|
Siklus 2
|
||
pertemuan 1
|
pertemuan 2
|
Pertemuan 4
|
||
9 siswa
|
24 siswa
|
32 siswa
|
||
Banyak Siswa mampu
|
||||
mengajukan masalah
|
||||
dengan benar dan dapat
|
||||
menyelesaikan nya..
|
23,68%
|
64,86%
|
88,89%
|
|
Kemajuan siswa dalam
mengajukan masalah seperti pada tabel C.3 di atas ternyata selaras dengan kemajuan
kemampuan memecahkan masalah. Hasil ini memberi gambaran tentang adanya
hubungan antara kemampuan pengajuan masalah dan pemecahan masalah, seperti
dikatakan English (1997:173).
Contoh pengajuan soal yang
benar dibuat siswa (DPS). Dalam mengajukan masalah pada siklus pertama siswa
mengalami kesalahan-kesalahan sebagai
Berikut:
(1) tidak meyebutkan
pertanyaan soal (7 siswa)
(2) Soal benar tetapi
penyelesaian salah (1 siswa)
(3) Tidak diketahui
gambar atau sudut /kurang informasi (12 siswa)
Kesimpulan :
Hasil
penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran dengan pengajuan masalah belum
meningkatkan. empat aspek kemampuan berpikir kreatif siswa, terutama
fleksibilitas dalam memecahkan masalah. Tetapi untuk aspek pemahaman terhadap
informasi masalah, kebaruan dan kefasihan dalam menjawab soal mengalami
peningkatan. Hasil lain menunjukkan bahwa :
1. Kemampuan memecahkan
masalah mengalami kemajuan/peningkatan dengan ditunjukkan semakin banyaknya
siswa yang mencapai skor lebih dari 65% dari skor maksimum pada tiap siklus.
2.Kemampuan pengajuan masalah
siswa juga meningkat dengan ditunjukkan semakin banyaknya siswa yang dapat
membuat soal sekaligus penyelesaiannya dengan benar.
3. Kinerja siswa dalam
memecahkan masalah mengalami perkembangan yang naik turun dari semula rata-rata
pada tingkat cukup menjadi baik dan turun lagi menjadi cukup. Kategori yang
belum dipenuhi atau kurang dipenuhi adalah dalam menunjukkan kemampuan berpikir
kreatif.
4. Siswa dan guru memberi
respon positif terhadap pembelajaran yang dilakukan dengan pengajuan masalah.
Hambatan terutama ketika menghadapi siswa yang heterogen dan memerlukan
penanganan berbeda-beda ketika penerapan pembelajaran dengan pengajuan masalah.








0 komentar:
Posting Komentar