Kamis, 28 Mei 2015

Depresi dan Hubungan antara Kesehatan mental dengan kecerdasan emosional

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 01.29
Fenomena Depresi

Menurut Woodworth dalam Syamsu Yusuf & Juntika Nurihsan (2007: 3-4) kepribadian yaitu kualitas 14 tingkah laku total individu.

Menurut E.B. Hurlock dalam bukunya Syamsu Yusuf &  Juntika Nurihsan (2007:12-14) mengemukakan bahwa karakteristik kepribadian yang sehat ditandai dengan:

1) mampu menilai diri secara realistik;

2) mampu menilai situasi secara realistik;

3) mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik;

4) mampu menerima tanggung jawab;

5) kemandirian;

6) dapat mengontrol emosi;

7) berorientasi tujuan;

8) berorientasi keluar (extrovert);

9) penerimaan sosial, dinilai positif oleh orang lain;

10) memiliki filsafat hidup; dan

11) berbahagia.

Adapun kepribadian yang tidak sehat ditandai dengan  karakteristik seperti berikut.

1) mudah marah (tersinggung)

2) menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan;

3) sering merasa tertekan (stress atau depresi)

4) bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang (hewan)

5) ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum;

6) mempunyai kebiasaan berbohong

7) hiperaktif

8) bersikap memusuhi semua bentuk otoritas;

9) senang mengkritik/mencemooh orang lain;

10)sulit tidur;

11) kurang memiliki rasa tanggung jawab;

12)sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan bersifat organis);

13) kurang memiliki kesadaran untuk menaati ajaran agama;

14) bersikap pesimis dalam menghadapi kehidupan; dan kurang bergairah dalam menjalani kehidupan

  • Jadi dari penjabaran di atas dalam buku teori kepribadian bahwa depresi adalah gangguan karena jika seseorang mengalami depresi berarti orang tersebut memiliki kepribadian yang tidak sehat.


 Pada Zaman modern ini, banyak manusia yang mengalami stress, kecemasan,dan kegelisahan. Sayangnya, masih saja ada orang yang berpikir bahwa stress dan depresi bukan suatu penyakit. padahal, dibandingkan AIDS stres dan depresi jauh lebih bertanggung jawab terhadap banyak kematian.
Salah satu contoh depresi. 
Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental utama saat ini, yang sedang mendapat perhatian serius di negara-negara berkembang, WHO memprediksikan bahwa pada tahun  2020 nanti depresi akan menjadi salah satu penyakit mental yang banyak dialami oleh masyarakat dan menjadi penyebab kedua kematian setelah serangan jantung. Berdasarkan data WHO pada tahun 1980 hampir 20%-30%  dari pasien rumah sakit di 3 negara berkembang mengalami gangguan mentalemosional seperti depresi.



Definisi depresi

Menurut Rice PL (1992), depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan.

  • Menurut saya Depresi adalah gangguan mod yaitu kondisi emosional yang berkepanjangan yang terjadi pada proses mental berpikir., berperasaan dan berperilaku dan kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Mengapa sulit? Karena orang yang depresi merasa  ada penghalang yang tampak atau timbul tanpa alasan yang jelas. Jadi orang yang depresi akan  mengalami stress yang tidak kunjung reda.

Orang yang depresi akan kesulitan untuk berkomunikasi.
  • Teori Depresi 

    a. Teori Psikodinamika

    Teori psikodinamika klasik menegenai depresi dari Freud (1917/1957) meyakini bahwa depresi mewakili kemarahan yang diarahkan ke dalam diri sendiri dan bukan terhadap orang-orang yang dikasihi.


    Freud mempercayai bahwa mourning
    (berduka) adalah proses yang sehat karena dengan berduka seseorang akhirnya dapat melepaskan dirinya sendiri secara psikologis dari seseorang yang hilang karena kematian, perpisahan, perceraian, atau alasan lainnya. Namun, rasa duka yang patologis tidak mendukung perpisahan yang sehat. Malahan, hal ini akan memupuk depresi yang tak berkesudahan. Rasa duka yang patologis cenderung terjadi pada orang yang memiliki perasaan ambivalen yang kuat (suatu kombinasi dari perasaan positif (cinta) dan negatif (marah, permusuhan)) terhadap orang yang telah pergi atau ditakutkan kepergiannya. Freud menteorikan bahwa saat orang merasa kehilangan, atau bahkan takut kehilangan, figure penting dari orang yang kepadanya mereka miliki perasaan ambivalen, perasaan marah mereka terhadap orang tersebut berubah menjadi kemarahan yang ekstrem. Namun, kemarahan yang ekstrem tersebut memicu rasa bersalah, yang justru mencegah mereka untuk mengarahkan rasa marah secara langsung kepada orang yang telah pergi.mereka mengintrojeksikan, atau membawa ke dalam, suatu representasi mental dari objek itu. Mereka kemudian menyatukan orang lain tersebut ke dalam self. Sekarang kemarahan terarah ke dalam, berhadapan dengan bagian dari self yang mewakili representasi di dalam dari orang yang hilang. Hal ini menimbulkan self-hatred,yang akan menimbulkan depresi.

    b.Teori Humanistik

    Orang menjadi depresi saat mereka tidak dapat mengisi keberadaan mereka dengan makna dan tidak dapat membuat pilihan-pilihan autentik yang menghasilkan self-fulfillment. Bila kita menganggap kehidupan kita menjemukan mungkin saja kita telah mencegah tercapainya kebutuhan kita akan self-actualization.

    Teoritikus humanistik juga berfokus pada hilangnya self-esteem yang dapat muncul saat orang kehilangan teman atau anggota keluarga, atupun mengalami kemunduran atau kehilangan dalam pekerjaan. Kita cenderung menghubungkan identitas personal dan rasa self-worth kita dengan peran-peran social kita sebagai orangtua, pasangan, pelajar, atau pekerja. Bila identitas peran ini hilang, melalui kematian seorang pasangan, perginya anak-anak untuk kuliah, atau hilangnya suatu pekerjaan, sense of purpose dan self-worth kita dapat terguncang. 




    c.Teori Belajar
    1. 1. Reinforcement dan Depresi
    Peter Lewinsohn (1974), seorang teoritikus belajar menyatakan bahwa depresi dihasilkan dari ketidakseimbangan antara output perilaku dan input reinforcement yang berasal dari lingkungan. Kurangnya reinforcement untuk usaha seseorang dapat menurunkan motivasi dan menyebabkan perasaan depresi. Ketidakaktifan dan penarikan diri dari lingkungan social menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan reinforcement; dan reinforcement yang berkurang akan memperburuk penarikan diri. Tingkat aktivitas yang rendah yang menjadi cirri depresi juga dapat menjadi sumber dari hasil sekunder atau reinforcement sekunder. 

    Reinforcement sosial dapat hilang saat orang yang dekat dengan kita, yang menjadi pemberi reinforcement, meninggal atau meninggalkan kita. Orang yang menderita kehilangan social lebih cenderung untuk menjadi depresi bila mereka kurang memilki keterampilan social dalam membentuk hubungan baru. Namun, adalah mungkin bahwa depresi cenderung menyebabkan dan bukan disebabkan oleh suatu pengurangan reinforcement (J.M. Williams, 1984). Dengan kata lain, depresi dapat menyebabkan seseorang menarik diri dari aktivitas yang memberikan reinforcement sosial.
    1. 2. Teori Interaksi
    Teori interaksional, dikembangkan oleh psikolog James Coyne (1976), menyatakan bahwa penyesuaian pada kehidupan bersama dengan orang yang depresi dapat sangat menekan hingga semakin lama reinforcement yang diberikan pasangan atau anggota keluarga kepada orang yang depresi tersebut menjadi semakin berkurang.

    Teori interaksi didasarkan pada konsep interaksi timbal balik. Perilaku seseorang mempengaruhi, dan sebaliknya dipengaruhi oleh perilaku orang lain. Teori ini meyakini bahwa orang yang mudah depresi bereaksi terhadap stress dengan menuntut diberi keyakinan dan dukungan sosial yang lebih besar. Awalnya, orang yang menjadi depresi dapat sukses dalam mengumpulkan dukungan. Namun setelah beberapa waktu, tuntutan dan perilaku mereka mulai menimbulkan kemarahan dan kejengkelan. Meski orang tercinta mereka dapat menyimpan perasaan negatifnya untuk diri sendiri, agar tidak membuat orang yang depresi menjadi lebih kesal, perasaan-perasaan ini dapat muncul ke permukaan dalam cara halus yang menyatakan penolakan. Orang yang depresi dapat bereaksi terhadap penolakan dengan depresi yang lebih dalam dan tuntutan yang lebih tinggi, memicu penolakan yang lebih lanjut dan depresi yang lebih parah. Mereka juga dapat merasa bersalah karena membuat anggota keluarga lain tertekan, yang dapat memperburuk perasaan negative mereka tentang diri sendiri.
    d. Teori Kognitif
    Teori Kognitif dari Aaron Beck
    Psikiater Aaron Beck menghubungkan pengembangan depresi dengan adopsi dari cara berpikir yang bias atau terdistorsi secara negative di awal kehidupan—segi tiga kognitif dari depresi (cognitive triad of depression):
    Segi Tiga Kognitif dari Depresi
    Pandangan Negatif tentang Diri Sendiri
    Memandang diri sendiri sebagai tidak berharga, penuh kekurangan, tidak adekuat, tidak dapat dicintai, dan sebagai kurang memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai kebahagiaan.
    Pandangan Negatif tentang Lingkungan
    Memandang lingkungan sebagai memaksakan tuntutan yang berlebihan dan/atau memberikan hambatan yang tidak mungkin diatasi, yang terus-menerus menyebabkan kegagalan dan kehilangan.
    Pandangan Negatif tentang Masa DepanMemandang masa depan sebagai tidak ada harapan dan meyakini bahwa dirinya tidak punya kekuatan untuk mengubah hal-hal menjadi lebih baik. Harapan orang ini terhadap masa depan hanyalah kegagalan dan kesedihan yang berlanjut serta kesulitan yang tidak pernah usai.
    Teori kognitif meyakini bahwa orang yang mengadopsi cara berpikir yang negatif ini memiliki resiko yang lebih besar untuk menjadi depresi bila dihadapkan pada pengalaman hidup yang menekan atau mengecewakan, seperti mendapat nilai buruk atau kehilangan pekerjaan.
    e.Teori Ketidakberdayaan (Atribusional) yang dipelajari
    Model learned helplessness mengajukan pandangan bahwa orang dapat menjadi depresi karena ia belajar untuk memandang dirinya sendiri sebagai tidak berdaya dalam mengontrol reinforcement-reinforcement di lingkungannya atau untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Orang pertama yang menyusun konsep ketidakberdayaan yang dipelajari Martin Seligman (1973, 1975) mengubah teori ketidakberdayaan dalam kerangka psikologi sosial atas attributional styke (gaya atribusional). Gaya atribusional adalah suatu gaya personal dalam menjelaskan sesuatu.
    Saat kekecewaan atau kegagalan muncul, kita mungkin menjelaskannya dalam berbagai cara yang memiliki berbagai karakteristik.
    Kita dapat menyalahkan diri kita sendiri (atribusi internal), atau kita dapat menyalahkan situasi yang kita hadapi (atribusi eksternal). Kita dapat melihat pengalaman buruk sebagai kejadian-kejadian yang melekat dengan karakteristik kepribadian (atribusi stabil) atau sebagai peristiwa yang terpisah (atribusi tidak stabil). Kita dapat melihatnya sebagai bukti dari masalah yang lebih luas (atribusi global) atau sebagai suatu bukti dari kelemahan tertentu yang terbatas (atribusi spesifik).

    Tiga tipe atribusi yang paling rentan terhadap depresi:
    1. Faktor-faktor internal, atau keyakinan bahwa kegagalan merefleksikan ketidakmampuan pribadi, dan bukan faktor-faktor eksternal, atau keyakinan bahwa kegagalan disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan.
    2. Faktor-faktor global, atau keyakinan bahwa kegagalan merefleksikan seluruh kesalahan dalam kepribadian dan bukan factor-faktor spesifik, atau keyakinan bahwa kegagalan merefleksikan area yang terbatas dari kemampuan berfungsi.
    3. Faktor-faktor stabil, atau keyakinan bahwa kegagalan merefleksikan factor kepribadian yang menetap dan bukan faktor-faktor yang tidak stabil, atau keyakinan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan dapatlah diubah.
    4. Gabungan Berbagai Pandangan

    Depresi dan gangguan mood lain melibatkan berbagai factor yang saling mempengaruhi. Konsisten dengan model diathesis-stres, depresi dapat merefleksikan interaksi antara faktor-faktor biologis, factor psikologis, serta stressor social dan lingkungan.Faktor-faktor sosiokultural dapat menjadi sumber-sumber utama stress yang mempengaruhi pengembangan gangguan mood. Faktor-faktor ini melibatkan kemiskinan; kepadatan; pemaparan terhadap rasisme, diskriminasi gender, dan prasangka; kekerasan dalam rumah atau dalam komunitas; beban stress yang tidak setara yang ditimpakan pada wanita; dan perpecahan keluarga. Faktor-faktor ini jelas terlibat baik dalam memicu gangguan mood atau menjadi penyebab dari kambuhnya gangguan tersebut.
    Penyebab Depresi 
    1.Faktor genetik.
    Seseorang yang dalam keluarganya diketahui menderita depresi berat memiliki resiko lebih besar menderita gangguan depresi daripada masyarakat pada umumnya, tetapi ada banyak gen di dalam tubuh kita dan tidak ada seorangpun peneliti yang mengetahui secara pasti bagaimana gen bekerja. Tidak ada bukti langsung bahwa ada penyakit depresi yang disebabkan oleh faktor keturunan.


    2. Sususnan kimia otak dan tubuh.
    Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi kita. "ada orang yang depresi ditemukan adanya perubahan dalam jumlah bahan kimia tersebut. Hormon adenalin yang memegang peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktifitas tubuh,tampaknya berkurang pada
    mereka yang mengalami depresi. Pada wanita, perubahan hormon 
    dihubungkan dengan kelahiran anak dan menopause juga dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi.


    3.Faktor usia.
    Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal ini dapat terjadi karena pada usia tersebut terdapat tahap-tahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja dari masa remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas hingga ke pernikahan. Sini usia ratarata penderita depresi semakin menurun, yang menunjukkan bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak yang terkena depresi. Survei masyarakat terakhir melaporkan adanya prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depresi pada golongan usia dewasa muda yaitu 18 sampai 44 tahun.



    4.Gender
     Wanita dua kali lebih sering terdiagnosis menderita depresi daripada pria. Bukan berarti wanita lebih mudah terserang depresi, bisa saja karena wanita lebih sering mengakui adanya depresi daripada pria. Misalnya, seorang diri dirumah dengan anak-anak kecil lebih jarang ditemui daripada pria dan wanita. Sedangkan  juga perubahan hormonal dalams iklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dan juga menopause yang membuat wanita lebih rentan menjadi depresi atau menjadi pemicu penyakit depresi.


    5.Gaya Hidup
    Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat berdampak pada penyakit misalnya penyakit jantung juga dapat memicu kecemasan dan depresi. Tingginya tingkat stress dan kecemasan digabung dengan makanan yang tidak sehat dan kebiasaan tidur serta tidak olahraga untuk jangka waktu yang lama dapat menjadi depresi. Gaya hidup yang tidak sehat pada pasien berisiko penyakit jantung gaya hidup yang tidak sehat misalnyatidur tidak teratur, makan tidak teratur, pengawet dan 
    pewarna buatan,kurang berolahraga, merokok, dan minum-minuman keras.


    6. Penyakit Fisik.
    Penyakit fisik dapat menyebabkan depresi. Perasaan terkejut karena mengetahui kita memiliki penyakit serius dapat mengarahkan pada hilangnya kepercayaandiri dan penghargaan diri, juga depresi, Misalnya, depresi sering terjadi setelah serangan jantung, mungkin karena mereka merasa baru saja mengalami kejadian yang dapat menyebabkan kematian atau karena mereka tiba-tiba menjadi orang yang tidak  berdaya. 

    7. Obat-obatan
     Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapat menyebabkan depresi. Namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi, dan menghentikan pengobatan dapat lebih berbahaya daripada depresi.


    8. Obat-obatan terlarang.
    Terlalu banayk mengkonsumnsi obat-obata terlarang dapat menjadikan kita depresi seperti mengkonsumsigGanja,kokain dan sabu-sabu


    9. Sinar Matahari.
    Kebanyakan dari kita merasa lebih baik dibawah sinar matahari daripada mendung, tetapi hal ini sangat berpengaruh pada beberapa individu. Mereka baik-baik saja ketika musim panas tetapi menjadi depresi ketika musim dingin.Mereka disebut menderita seasonal affective disorder

    Analisis Depresi 

     Stres Berat, Ganguan Jiwa Marshanda Kambuh

    BERITA mengejutkan datang dari mantan artis cilik Marshanda. Ia diberitakan dipaksa dan dipasung masuk rumah sakit Abdi Waluyo oleh ibunya. Hal tersebut pun mengundang keprihatinan dari psikolog Oriza Sativa.


    Menurut Oriza, mantan istri Ben Kasyafani ini tengah karena gangguan kejiwaan yang dahulu pernah dialaminya.

    Marshanda yang sudah tenar sejak kecil, ketika dewasa bukan prestasi yang dibawanya melainkan sejumlah pemberitaan negatif tentang dirinya, sejak video youtubenya menyebar banyak pemberitaan negatif tentang dirinya, ditambah masalah perceraian dengan Ben. 

    Derita Chacha tak sampai disitu saja, masyarakat pun mencibir saat dirinya melepas hijab hingga dimasukkan ke dalam rumah sakit lantaran stres berat.

    Psikolog Oriza Sativa, mengatakan bahwa Marshanda ada kemungkinan mengalami gangguan kejiwaan yang pernah dialaminya beberapa tahun yang lalu. Saat ini penyakit gangguan kejiwaan Marshanda sedang kambuh karena banyaknya permasalahan yang menimpanya.

    “Kalau kita flash back, dulu dia pernah sempat histeris di youtube, mencaci maki banyak orang. Mungkin saat ini dia sedang kambuh, karena banyak permasalahan yang dialami,” tuturnya kepada Okezone yang diwawancarai langsung lewat sambungan telefon, Senin 4 Agustus 2014.

    Memang, beberapa tahun yang lalu, Marshanda sempat membuat heboh masyarakat dengan mengunggah video histerisnya sambil menangis dan mencaci sahabatnya di Youtube. Psikolog Oriza mengatakan perlu ada pendekatan psikologis kepada Marshanda, mengapa dia melakukan hal tersebut. 


    Dia menambahkan, Marshanda diprediksi mengalami gangguan jiwa histerionik, yang menyebabkan dirinya histeris akibat depresi yang hebat paska perceraian. Dia menilai bahwa Marshanda sangat rentan dan ringgih terhadap berbagai hal yang terkait kejiwaan. Oleh sebab itu, mantan istri Ben Kasyafani bisa dibilang tengah kambuh 
    gangguan kejiwaannya.

    “Dia diprediksi mengalami gangguan dengan golongan histerionik, karena itu depresi dan ada hal yang membuatnya sakit hati. Saya melihat Marshanda itu sosok yang rentan, mudah rapuh dan kepribadiannya lemah, jadi bisa gangguan kejiwaan dan bisa kambuh kapanpun,” tutupnya. 

    sumber:http://lifestyle.okezone.com/read/2014/08/04/196/1019965/stres-berat-ganguan-jiwa-marshanda-kambuh

    Ibu Marshanda Alami Sindrom Tendensi Histerionik

    DERITA tengah dialami oleh mantan istri Ben Kasyafani, Marshanda. Di tengah problema rumah tangga, Marshanda pun ditimpa masalah dengan sang bunda, Rianti Sofyan. Sang bunda diduga telah menyekap Marshanda di sebuah rumah sakit, padahal ibu satu anak tidak mengalami sakit apa pun.


    Melihat fenomena tersebut, psikolog RA. Oriza Sativa, S.Psi, Psi, CH,CCR, menganalisa bahwa ibu Marshanda mengidap sindrom tendensi histerionik yang histeris saat anaknya memutuskan untuk meninggalkan rumah.

    Sang ibu merasa putri kecilnya yang sudah dewasa tidak bisa hidup mandiri tanpa dirinya, sehingga ia histeris dengan bersikap tendensius yang kurang tepat. Untuk itu, dia mengambil pilihan untuk membawa anaknya ke rumah sakit untuk mendapatkan Marshanda kembali.

    “Saya rasa ibunya juga mengidap tendensi histerionik, enggak mau putrinya masih dianggap kecil padahal sudah dewasa pergi meninggalkannya. Apalagi paska perceraian, dia takut Marshanda kembali depresi seperti dahulu yang dilakukannya,” jelasnya kepada Okezone yang diwawancarai langsung lewat sambungan telefon, Selasa, 5 Agustus 2014.

    Oriza selaku psikolog ingin mengetahui secara detil permasalahan yang dialami anak dan ibu ini. Sehingga dia dapat mendeteksi siapa yang salah dan siapa yang benar. Meski, keduanya membenarkan diri, belum tentu kedua benar, ada maksud di balik semua permasalahan Marshanda.

    Dia melihat bahwa sikap ibunda dari Marshanda terlalu ekstrem tanpa mengindahkan pribadi mantan istri Ben Kasyafani tersebut. Oriza menilai adanya perilaku menyimpang dari keluarga Marshanda baik dari sang ibu maupun keluarga besarnya.

    “Bisa jadi ada perilaku menyimpang dari orangtuanya, makanya dia berbuat seperti itu, mana kita tahu, pasti ada modus tertentu di balik semua ini,” tutupnya.
    (ren)
    Sumber :
    http://lifestyle.okezone.com/read/2014/08/05/196/1020496/ibu-marshanda-alami-sindrom-tendensi-histerionik

    Analisis kasus 

    Peran keluarga adalah peran yang sangat penting. keluarga merupakan tempat pertama anak-anak untuk mendapatkan pengalaman atau bekal yang akan di gunakan untuk masa depannya atau kehidupannya dengan orang lain atau masyarakat lain. Seperti juga yang dikatakan oleh Malinowski (Megawangi, 1999) tentang “principle of legitimacy” sebagai basis keluarga, struktur sosial (masyarakat) harus diinternalisasikan sejak individu dilahirkan agar seorang anak mengetahui dan memahami posisi dan kedudukannya, dengan harapan agar mampu menyesuaikannya dalam masyarakat kelak setelah ia dewasa. 

    Namun jika keluarga tidak utuh atau ada perceraian antara kedua orang tua, maka akan ada dampak negatif yang akan berpengaruh pada kedua belah pihak, anggota keluarga lainnya terutama anak. Misalnya efek yang merusak perkembangan psikologis anak seperti  depresi, menarik diri dari pergaulan sosial, kompetensi sosial yang rendah, persoalan kesehatan yang terabaikan, performasi akademik yang menurun dan rendah, serta berbagai persoalan gangguan perilaku anak yang terkait dengan kesukaran emosional yang dihadapi anak-anak yang berada dalam kondisi konflik marital (Sadarjoen, 2005). Mengapa hal tersebut terjadi? karena kita sebagai anak mempunyai panutan yaitu orang tua, jika orang tua kita saja tidak mengajarkan sesuatu yang positif terhadap kita maka kita akan ragu untuk bisa melakukan sesuatu yang bersifat positif. 


    Sawitri Supardi Sadarjoen (2005) dalam bukunya mengatakan bahwa, hasil penelitian yang dilakukan oleh banyak pakar tentang perkawinan menghasilkan data empirik yang membuktikan adanya hubungan yang erat antara hancurnya perkawinan dengan hancurnya sistem keluarga. Hal ini terkait dengan perkembangan perilaku deliquency, kemiskinan, kekerasan, kegagalan pendidikan formal, depresi, ketergantungan zat-zat psikotropika, tingkat kesehatan dan bahkan produktivitas kerja. Kondisi ini akan cepat diserap oleh anak sebagai gambaran ketidaknyamanan yang kelak menjadi dasar dari gejala-gejala maladjustment.

    Contohnya adalah pada kasus marshanda.

    Dalam salah satu videonya Marshanda mengatakan bahwa:
    Anak-anak yang berpikir dirinya broken home, itu mereka yang milih sebenarnya. Mereka memilih untuk dianggap orang yang broken home. Latar belakang keluarga gue rusak. Kaya gue salah satunya. Tapi jangan kaya gitu, kita tuh harus percaya kalau bisa sembuh dari trauma-trauma masa kecil dan trauma-trauma yang diakibatkan bokap nyokap lu, struggle, cari cita-cita...jangan cari duit, cari teman boleh, tapi nggak usah... lebay, (INILAH.com).

    Jelas sekali marshanda terlihat depresi karena mungkin ia tidak merasa memiliki perlindungan oleh kedua orang tuanya, di samping itu faktor lingkungan seperti teman sebayanya yang juga mengejeknya membuat ia merasa makin terpojokkan. Anak-anak dari hasil perceraian adalah
    bentuk torture atau penyiksaan dan menimbulkan traumatis serta luka mendalam.Apalagi, bila sang anak kerap melihat pertengkaran ayah dan ibunya.Kelihatannya kondisi anak memang baik-baik saja dalam menghadapi kondisikeluarga seperti ini. Namun luka yang dialami anak korban broken home sulitsembuh. Anak-anak itu akan membawa luka seumur hidupnya dan bisa saja membangun luka yang sama di kemudian hari. inilah yang akan mempengaruhi bagaimana cara dia dalam menggambarkan mengenai dirinya yang akan mempengaruhi konsep diri si anak. 
    Hal ini juga terlihat pada mashanda ia kembali depresi atas kasus yang di alaminya karena ketidakmampuannya menyelesaikan masalah dengan baik maka dirinya kembali depresi ketika bercerai dengan ben kasyafani di tambah dengan kasusnya terhadap sang ibunda. 


    Marshanda seperti ini karena mungkin ada masalah yang terjadi pada masa remajanya, hal ini dibuktikan ketika ia mengungah sebuah video di youtube yang tentang kekesalannya terhadap teman-temannya, keluarga dan mantannya 

    Marshanda mulai mengalami kasus seperti ini pada masa remaja, karena masa remaja adalah masa yang penting karena remaja sedang berada dalam masa peralihan. Dalam masa peralihan ini remaja membutuhkan pengertian dan bantuan dari orang yang dicintai dan dekat dengannya terutama orang tua atau keluarganya. Sebab dalam masa yang kritis seseorang kehilangan pegangan yang memadai dan pedoman hidupnya. Begitupun remaja yang berada dalam kondisi keluarga broken home. Begitu besar peran keluarga dalam pembentukan konsep diri anak. 


    Daftar Pustaka :
    http://a-research.upi.edu/operator/upload/s_a5051_0606910_chapter1.pdf (artikel)

    Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2014). Experience human development 12th ed. Jakarta: Salemba Humanika.
    Feist, G. J., & Feist, J. (2010). Theories of personality 7th ed. Jakarta: Salemba Humanika


    Hubungan antara Kesehatan Mental dengan Kecerdasan Emosional 

    Kesehatan mental atau 
    Kesehatan mental merupakan sehat secara mental, sehat psikologis (penyesuaian diri terhadap psikis) seperti perasaan, pikiran, dan kehendak yang berjalan secara seimbang. Berasal dari istilah Mental hygiene. Ilmu kesehatan mental : ilmu yg memperhatikan perawatan mental/jiwa, objek kajian, kondisi mental manusia dengan memandang manusia sebagai totalitas psikofisik yang kompleks.
    Jadi seseorang itu dapat dikatakan meiliki kesehatan mental yang baik jika seseorang  tersebut dapat menyesuaikan diri sesuai tuntutan kenyataan di sekitarnya. Orang yang sehat melihat masalah nyata, apa yang dihadapinya dan bagaimana kondisi dirinya berkaitan dengan masalah itu sebelum menentukan tindakan yang akan diambil.

    Kecerdasan emosional (EQ)

    Emosi merupakan suatu kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, napsu, setiap keadaan mental yang merujuk pada suatu pikirisan yang khas (Daniel Goleman). Ada beberapa macam ekspresi dalam emosi, diantaranya :

    1. Ekspresi verbal : emosi yang dituang dalam menulis kata-kata, berbicara tentang emosi yang dialami.
    2. Ekspresi non verbal : ekspresi dengan mimik wajah, vocal, perubahan fisiologis, gerak dan isyarat tubuh, dan tindakan-tindakan emosi.
    Kecerdasan Emosional 
    Menurut Goleman (2007) kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenai perasaan diri sendiri dan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan hubungan dengan orang lain. Kecerdasan emosi merupakan kualitas untuk mengenali emosi pada diri sendiri kemudian emosi tersebut di kelola dan digunakan untuk memotivasi sendiri dan memberi manfaat dalam hubungannya dengan orang lain sehingga individu dapat berinteraksi dengan baik.
    Goleman (2007) menyatakan bahwa individu yang mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi akan lebih luas pengalaman dan pengetahuannya daripada individu yang lebih rendah kecerdasan emosinya. Individu yang kecerdasan emosinya lebih tinggi akan lebih kritis dan rasioal dalam menghadapi berbagai macam masalah. Dengan demikian, orang yang kecerdasan emosinya tinggi akan memikirkan pula akibat-akibat yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang untuk kelangsungan hidupnya.


    Dalam buku teks psikiatri Psychosomatic Medicine yang ditulis Michael Blumenfield (2006), yang membahas kondisi mental-emosional yang meningkatkan penyakit/serang jantung.

    Depresi misalnya dapat meningkatkan kadar C-reactive protein (CRP) dalam aliran darah yang berkiatan dengan inflamasi atau penggumpalan atau koagulasi darah. Amarah selain meningkatkan tekanan darah juga diidentifikasi sebagai salah satu pemicu yang paling lazim dan paling menentukan bagi munculnya myocardial ischemia (berkurangnya suplai darah ke otot jantung) dalam aktivitas harian.

    Stres dan rasa waswas yang kronis dapat memengaruhi sistem biologi dalam tubuh kita sedemikian rupa sehingga menjadi pemicu penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Penyebabnya karena orang yang mengalami stres serius terbukti mengalami peningkatan kadar kolesterol dan gula darah. Ini menurut dr Nalini terbukti dari studi terhadap para pasien yang menghadapi operasi besar yang biasanya tegang dan cemas.

    Laura Kubzansky, guru besar Harvard School of Public Health (HSPH) menyatakan, ”Emosi-emosi negatif hanyalah separuh dari persamaan. Tampaknya ada manfaat kesehatan mental yang positif yang membuat Anda tidak mengalami depresi. Apa itu, masih sebuah misteri. Namun jika kita memahami rangkaian proses yang terlibat, kita akan memiliki wawasan tentang bagaimana kesehatan bekerja.”


    Jadi dapat di simpulkan : Bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dimana psikologis (penyesuaian diri terhadap psikis) seperti perasaan, pikiran, dan kehendak yang berjalan secara seimbang. Dan kecerdasan emosi merupakan suatu peristiwa untuk lebih mengerti keadaan orang lain. Dimana ketika kita bisa bisa menyeimbangkan perasaan ( sehat mental ) maka kita akan mampu untuk mengerti keadaan orang lain ( kecerdasan emosi). Apabila kondisi psikis nya sehat maka akan mudah menyesuaikan diri dan kecerdasan emosi ialah suatu peristiwa dimana seseorang lebih mengerti keadaan orang lain. Jadi bisa dikatakan orang-orang yang punya sikap optimis, inisiatif, atau hal-hal yang menyangkut suara hatinya ialah orang-orang yang sehat mentalnya. Orang yang sehat mentalnya tentunya akan cerdas pula emosinya.  
    Jadi pribadi yang memiliki kesehatan mental yang baik maka ia juga memiliki kecerdasaan emosional yang baik karena ia dapat mengontrol dirinya, sedangkan orang yang kesehatan mentalnya terganggu maka ia akan susah mengontrol emosinya atau kecerdasaan emosinya rendah salah satu contohnya adalah 
    pada kasus depresi. 


    Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2014). Experience human development 12th ed. Jakarta: Salemba Humanika.
    Feist, G. J., & Feist, J. (2010). Theories of personality 7th ed. Jakarta: Salemba Humanika

0 komentar:

Posting Komentar

 

Hasna putri anggraini Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos