Pengertian Kesehatan Mental
Pasien dalam perawatan
kesehatan mental adalah orang-orang yang kurang mampu merawat diri sendiri,
memiliki keberfungsian diri yang rendah sehingga mereka cenderung pasif dan
terisolasi (Tungpunkom &
Nicol, 2008).
Kesehatan mental bukanlah
hitam-atauputih, telah berkembang pende katan yang lebih holistik untuk
kesehatan mental dan kesehatan pribadi yang melibatkan psikologi positif, yang
mencakup program-program kesehatan. Psikologi
positif memperlakukan seluruh
pikiran, tubuh, dan jiwa (Kienlen, 2007)
Almeida (2001) mengatakan
bahwa kesehatan mental bukan sekedar terbebasnya individu dari berbagai macam
gangguan psikologis, tetapi lebih dari itu, kesehatan mental berkaitan dengan
kapasitas dan kualitas dimana individu mampu beradaptasi dengan perubahan,
memanajemen situasi yang krisis, mendemonstrasikan hubungan yang bermakna
dengan individu lain dan menikmati kehidupan.
Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa
kesehatan mental merupakan status keseimbangan
dan harmoni pada internal
individu. Order maupun disorder adalah satu sistem yang terbuka sehingga
menyebabkan keduanya bukan merupakan kutub yang berlawanan dalam satu kontinum
atau kondisi satu merupakan kebalikan dari yang lain. Order dan disorder adalah
dimensi dalam satu proses yang sama dengan hubungan yang sangat kompleks. Makna
kesehatan mental mulai berubah.jika pendekatan lama melihat bahwa seseorang
dianggap memiliki kesehatan mental yang optimal hanya jika mereka tidak
menunjukkan tanda-tanda atau gejala penyakit mental, pada kurun waktu terakhir
ini, telah terjadi pergeseran ke arah pendekatan yang lebih holistik untuk
kesehatan mental. Kesehatan mental
adalah bagaimana
seseorang berpikir, merasa,
dan bertindak ketika dihadapkan dengan situasi-situasi kehidupan. Kesehatan
mental adalah bagaimana orang melihat diri mereka sendiri, kehidupan mereka,
dan orang-orang lain dalam kehidupan mereka; mengevaluasi tantangan dan
permasalahan
mereka; dan sekaligus
mengeksplorasi pilihan mereka secara sadar. Ini termasuk menangani stres,
berhubungan dengan orang lain, dan membuat keputusan.
Sejarah Kesehatan Mental
PERKEMBANGAN
KESEHATAN MENTAL PRA ILMIAH
1. Masa Animisme
Sejak zaman dulu,
sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep
primitif animisme. Ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh
roh-roh atau dewa-dewa. Orang primitif percaya bahwa angin bertiup, ombak
mengalun, batu berguling, dan pohon tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal
dalam benda-benda tersebut. Orang Yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi
karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya,
maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dari korban3 yang
mereka persembahkan.Praktik-praktik semacam tersebut berlangsung mulai dari
abad 7-5 SM. Setelah kemunculan naturalisme, maka praktik semacam itupun kian
berkurang, walaupun kepercayaan tentang penyakit mental tersebut berasal dari
roh-roh jahat tetap bertahan sampai abad pertengahan.
2. Kemunculan
Naturalisme
Perubahan sikap
terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrate (460-467). Dia dan
pengikutnya mengembangkan pandangan revolusioner dalam pengobatan, yaitu dengan
menggunakan pendekatan ”Naturalisme”. Aliran ini berpendapat bahwa gangguan
mental atau fisik merupakan akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh,
dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Dia menyatakan: ”Jika Anda
memotong batok kepala, maka Anda akan menemukan otak yang basah, dan memicu bau
yang amis, tetapi Anda tidak akan melihat roh, dewa atau hantu yang melukai
badan Anda.”Ide naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang
tabib dalam lapangan pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan.Dalam
perkembangan selanjutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi
di kalangan orang-orang Kristen. Seorang dokter Perancis, Philipe
Pinel(1745-1826) menggunakan filasafat politik dan sosial yang baru untuk
memecahkan problem penyakit mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah
Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniak)
dirantai, diikat di tembok dan di tempat tidur. Para pasien yang telah dirantai
selama 20 tahun atau lebih karena dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan
di sekitar rumah sakit. Akhirnya, di antara mereka banyak yang berhasil. Mereka
tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya
sendiri.
PERKEMBANGAN
KESEHATAN MENTAL ERA MODERN
Perubahan yang
sangat berarti dalam sikap dan pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme
(irrasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi
pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat,
yaitu pada tahun 1783. Ketika itu, Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota
staff medis di rumah sakit Pensylvania. Di rumah sakit ini, ada 24 pasien yang
dianggap sebagai lunatics(orang-orang gila atau sakit ingatan).Pada waktu itu,
sedikit sekali pengetahuan tentang penyakit kegilaan tersebut, dan kurang
mengetahui cara menyembuhkannya. Sebagai akibatnya, pasien-pasien tersebut
didukung dalam sel yang kurang sekali alat ventilasinya, dan mereka
sekali-sekali diguyur dengan air.
Rush melakukan
usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan
mental tersebut. Cara yang ditempuhnya adalah dengan melalui penulisan
artikel-artikel dalam koran, ceramah, dan pertemuan-pertemuan lainnya.
Akhirnya, setelah usaha itu dilakukan (selama 13tahun), yaitu pada tahun 1796,
di rumah mental, ruangan ini dibedakan untuk pasien wanita dan pria. Secara
berkesenimbungan, Rush mengadakan pengobatan kepada para pasien dengan
memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari
kesenangan.Perkembangan psikologi abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh
kepada lahirnya ”mental hygiene” yang berkembang menjadi suatu ”Body of
Knowledge”beserta gerakan-gerakan yang terorganisir.Perkembangan kesehatan
mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli, terutama
dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde Dixdan Clifford Whittingham
Beers. Kedua orang ini banyak mendedikasikan hidupnya dalam bidang pencegahan
gangguan mental dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah. Dorthea
Lynde Dix lahir pada tahun 1802 dan meninggal dunia tanggal 17 Juli 1887. Dia
adalah seorang guru sekolah di Massachussets, yang menaruh perhatian terhadap
orang-orang yang mengalami gangguan mental. Sebagian perintis (pioneer), selama
40 tahun, dia berjuang untuk memberikan pengorbanan terhadap orang-orang gila
secara lebih manusiawi, Usahanya, mula-mula diarahkan pada para pasien mental
di rumah sakit. Kemudian diperluas kepada para penderita gangguan mental yang
dikurung di rumah-rumah penjara. Pekerjaan Dix ini merupakan faktor penting
dalam membangun kesadaran masyarakat umum untuk memperhatikan kebutuhan para
penderita gangguan mental. Berkat usahanya yang tak kenal lelah, di Amerika
Serikat didirikan 32 rumah sakit jiwa. Dia layak mendapat pujian sebagai salah
seorang wanita besar di
abad ke-19. Pada
tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai muncul. Selama dekade
1900-1909, beberapa organisasi kesehatan mental telah didirikan, seperti
American Social Hygiene Associatin(ASHA), dan American Federation for Sex
Hygiene.
Perkembangan
gerakan-gerakan di bidang kesehatan mental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham
Beers (1876-1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, dia dinobatkan sebagai
”The Founder Of The Mental Hygiene Movement”. Dia terkenal karena pengalamannya
yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara
yang sangat manusiawi.Dedikasi Beers yang begitu kuat dalam kesehatan mental
dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai pasien di beberapa rumah sakit jiwa yang
berbeda. Selama di rumah sakit, dia mendapatkan pelayanan atau pengobatan yang
keras dan kasar (kurang manusiawi). Kondisi seperti ini terjadi karena pada
masa itu belum ada perhatian terhadap masalah gangguan mental, apalagi
pengobatannya.Setelah dua tahun mendapatkan perawatan di rumah sakit, dia mulai
memperbaiki dirinya. Selama tahun terakhirnya sebagai pasien, dia mulai
mengembangkan gagasan untuk membuat gerakan untuk melindungi orang-orang yang
mengalami gangguan mental atau orang gila (insane). Setelah dia kembali dalam
kehidupan yang normal (sembuh dari penyakitnya), pada tahun 1908, dia
menindaklanjuti gagasannya dengan mempublikasikan tulisan autobiografinya yang
berjudul A Mind That Found It Self. Kehadiran buku ini disambut baik oleh
Willian James, sebagai seorang pakar psikologi. Dalam buku ini, dia memberikan
koreksi terhadap program pelayanan, perlakuan atau ”treatment”yang diberikan
kepada para pasien di rumah sakit yang dipandangnya kurang manusiawi. Di
samping itu, dia merupakan reformator terhadap lembaga yang memberikan
perawatan gangguan mental. Program Beers ini ternyata mendapat respon positif
dari kalangan masyarakat, terutama kalangan para ahli seperti William James dan
seorang psikiatris ternama, Adolf Mayer. Begitu tertariknya terhadap gagasan
Beers, Adolf Mayer menyarankan untuk menamai gerakan itu dengan nama ”Mental
Hygiene”. Dengan demikian, yang mempopulerkan istilah ”Mental Hygiene” adalah
Mayer.
Belum lama
setelah buku itu diterbitkan pada tahun 1908, sebuah organisasi pertama
didirikan, bernama ”Connectievt Society For Mental Hygiene”.Satu tahu kemudian,
didirikanlah ”National Commite Society For Mental Hygiene”, dan Beers diangkat
menjadi sekretarisnya. Organisasi ini bertujuan:
1. Melindungi
kesehatan mental masyarakat;
2. Menyusun
standard perawatan para pengidap gangguan mental;
3. Meningkatkan
studi tentang gangguan mental dalam segala bentuknya dan berbagi aspek yang
terkait dengannya;
4. Menyebarkan
pengetahuan tentang kasus gangguan mental, pencegahan dan penobatannya
5.
Mengkoordinasikan lembaga-lembaga perawatan yang ada.
Terkait dengan
perkembangan gerakan kesehatan mental ini, Deutsch mengemukakan bahwa pada
masanya dan pasca
Perang Dunia I,
gerakan kesehatan mental ini mengkonsentarsikan programnya untuk membantu
mereka yang mengalami masalah serius. Setelah perang usai, gerakan kesehatan
mental semakin berkembang dan cakupan garapannya meliputi berbagai bidang
kegiatan, seperti pendidikan, kesehatan masyarakat, pengobatan umum, industri,
kriminologi, dan kerja sosial.Secara hukum, gerakan kesehatan mental ini
mendapatkan pengukuhannya pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden
Amerika Serikat menandatangani ”The National Mental Helath Act.4
Beberapa tujuan
yang terkandung dalam dokumen tersebut meliputi:
1. Meningkatkan
kesehatan mental seluruh warga masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian,
inevestigasi, eksperimen penanganan kasus-kasus, diagnosis dan pengobatan
2. Membantu
lembaga-lembaga pemerintah dan swasta yang melakukan kegiatan penelitian dan
meningkatkan koordinasi antara para peneliti dalam melakukan kegiatan
penelitian dan meningkatkan kegiatan dan mengaplikasikan hasil-hasil
penelitiannya
3. Memberikan
latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental.
4. Mengembangkan
dan membantu negara dalam menerapkan berbagai metode pencegahan, diagnosis, dan
obat terhadap para pengidap gangguanmental.
Pada tahun 1950,
organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National
Association For Mental Health”yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya
masyarakat lainnya, yaitu ”National Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental
Health Foundation”, dan”Psychiatric Foundation”.Gerakan kesehatan mental ini
terus berkembang sehingga pada tahun 1075 di Amerika Serikat terdapat lebih
dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya,
gerakan ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health”
dan“The World Health Organization”
Konsep Sehat
Menurut World
Health Organization (1947), Sehat merupakan suatu keadaan yang sempurna baik
fisik, mental dan sosial, sehingga tidak hanya bebas dari penyakit atau
kelemahan.
Pender (1982)
Sehat merupakan perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam
berhubungan dengan orang lain (Aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan
perawatan diri yang kompeten. Sedangkan penyesuaian diperlukan untuk
mempertahankan stabilitas dan integritas struktural.
Menurut
Undang-Undang Kesehatan RI No.23 (1992), Sehat adalah keadaan sejahtera, tubuh,
jiwa, sosial, yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara
sosial dan ekonomis.
Mengandung 3
karakteristik :
a. Merefleksikan
perhatian pada individu sebagai manusia.
b. Memandang
sehat dalam konteks lingkungan internal dan eksternal.
c. Sehat
diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif.
Konsep sehat
berdasarkan 5 dimensi dapat ditinjau dari :
1. Dimensi
Emosi
Emosional sehat
tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya
takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya. Dan sehat emosional adalah
seseorang yang dapat menjaga atau mengontrol amarahnya ketika dia sedang kesal.
2. Dimensi
Intelektual
Dikatakan sehat
secara intelektual yaitu jika seseorang memiliki kecerdasan dalam kategori yang
baik mampu melihat realitas. Memiliki nalar yang baik dalam memecahkan masalah
atau mengambil keputusan.
3. Dimensi
Sosial
Sehat yang dimana
orang tersebut memiliki jiwa sosial yang baik. Dapat Nampak baik apabila
seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik,
tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayaan, status sosial, ekonomi,
politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
4. Dimensi
Fisik
Sehat secara
fisik yaitu sehat yang orang tersebut tidak mengalami cacat atau sebagainya.
Terwujud apabila seseorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya
keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh
berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
5. Dimensi
Mental
Kesehatan mental
(jiwa) mencakup 3 komponen, yaitu:
a. Pikiran
sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
b. Emosional
sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya,
misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
c. Spiritual
sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian,
kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan
Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan
seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana
seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang
dianutnya.
6. Dimensi
Spiritual
Sehat yang sangat
penting juga sehat tidaklah hanya jasmani, sehat dalam rohani pun juga sangat
penting. Spiritual sehat terlihat dari cara seseorang dalam mengekspresikan
rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam
fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat
dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah
keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang
dianutnya.
1. Model
Biomedis (Barat)
Model Biomedis
berakar jauh pada pengobatan tradisional Yunani. Perkembangan ilmu biologi yang
pesat dengan ditemukannya virus dan bakteri sebagai sumber penyakit menyebabkan
model Biomedis berkembang sangat pesat. Dalam model Biomedis penyakit dan
kesehatan semata-mata dihubungkan dengan tubuh saja. Model Biomedis
memiliki 5 asumsi, yaitu :
a. terdapat
perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada
pada suatu bagian tubuh tertentu.
b. penyakit
dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, baik secara biokimia atau
neurofisiologis.
c. setiap
penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat
diidentifikasi.
d. melihat
tubuh sebagai suatu mesin.
e. konsep
tubuh adalah objek yang perlu diatur dan dikontrol.
2. Model
Psikiatris (Barat)
Model Psikiatris
merupakan model yang berkaitan dengan model biomedis. Model ini masih
mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu penyakit dan
penggunaan treatment fisik obat-obatan atau pembedahan untuk
mengoreksi abnormalitas. Namun model ini menunjukkan dengan jelas adanya
pertentangan-pertentangan di antara para psikiater yang berbeda dalam
menjelaskan gangguan psikosis. Model-model itu meliputi model
organik yang menekankan pada perubahan fisik dan biokimia di otak, model
psikodinamik yang berkonsentrasi pada faktor perkembangan dan
pengalaman, model behavioral yang mengatakan bahwa psikosis terjadi
karena kemungkinan-kemungkinan lingkungan, dan model sosial yang
menekankan gangguan dalam kerangka performansinya (Helman, 1990 dalam Siswanto,
2007).
3. Model
Psikosomatis (Barat)
Model
Psikosomatis merupakan model yang muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap
model biomedis. Model ini menyatakan bahwa tidak ada penyakit somatik yang
tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau sosial. Sebaliknya tidak
ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik. Menurut
model Psikosomatik, penyakit berkembang melalui saling keterkaitan yang
berkesinambungan antara faktor fisik dengan faktor mental, yang saling memperkuat
satu sama lain melalui jaringan yang kompleks. Penyembuhan penyakit diasumsikan
terjadi melalui cara yang sama.
4. Model
Holistik (Timur)
Siswanto (2007)
mengatakan bahwa dalam dunia kedokteran, Holisme dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit, Holisme melihat
organisme manusia sebagai suatu sistem kehidupan yang semua komponennya saling
terkait dan saling tergantung. Dalam arti luas, Holisme melihat sistem Holisme
dalam arti sempit itu merupakan suatu bagian integral dari sistem-sistem yang
lebih luas, di mana organisme individual berinteraksi terus-menerus dengan
lingkungan fisik dan sosialnya, yaitu terpengaruh oleh lingkungan tetapi juga
mempengaruhi dan mengubah lingkungannya.
Referensi :
Siswanto.
2007. Kesehatan Mental: Kesehatan Mental-Konsep, Cakupan dan
Perkembangannya.Yogyakarta: Penerbit Andi.
M. Noor Rochman
Hadjam, Wahyu Widhiarso . 2011.Kesehatan Mental : Pengujian Model Peranan
Kecakapan Hidup terhadap Kesehatan Mental. Fakultas Psikologi
Universitas
Gadjah Mada. VOLUME 38, NO. 1







0 komentar:
Posting Komentar