Nama Anggota :
- Anisa Alyela 19513947
- Dima Septiana Putri 12513466
- Hasna Putri anggraini 13513977
- Nadya Laksmitha D.W 16513296
- Silvi Rahmadianti 18513486
Kelas: 3PA02
I.
LEADERSHIP
1.
DEFINISI LEADERSHIP (KEPEMIMPINAN)
- Ralph M. Stogdill dalam Sutarto (1998) memberikan pengertian kepemimpinan sebagai suatu proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan sekelompok orang yang terorganisasi dalam usaha mereka menetapkan dan mencapai tujuan.
- Menurut Hemphill and Coons (1957) bahwa kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang akan dicapai bersama.
- Menurut Janda (1960) kepemimpinan adalah suatu jenis hubungan kekeuasaan yang ditandai oleh persepsi anggota kelompok bahwa anggota kelompok yang lain mempunyai hak untuk merumuskan pola perilaku dari anggota yang pertama dalam hubungannya dengan kegiatannya sebagai anggota kelompok.
- Menurut Rauch and Behling (1984) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasikan kearah pencapaian tujuan.
- Menurut Jacobs and Jacques (1990) kepemimpinan adalah interaksi antarmanusia dimana salah satunya menyajikan suatu jenis informasi tertentu sedemikian rupa sehingga yang lain yakin bahwa hasilnya akan lebih baik jika ia berperilaku sesuai dengan cara-cara yang dianjurkan atau diharapkan.
- Sedangkan Sutarto (1998) mendefinisikan kepemimpian sebagai rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dari
uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah suatu
proses, perilaku atau hubungan yang menyebabkan suatu kelompok dapat bertindak
secara bersama-sama atau secara bekerja sama atau sesuai dengan aturan atau
sesuai dengan tujuan bersama.
2.
TEORI KEPEMIMPINAN PARTISIPATIF
Kepemimpinan partisipatif adalah pemimpin meminta dan menggunakan saran-saran bawahannya, tetapi tetap berperan dalam pengambilan dan pembuatan keputusan.
A.
Teori X & Y dari Douglas McGregor
Asumsi
yang dikembangkan dalam teori X pada dasarnya cenderung negatif dan gaya
kepemimpinan yang diterapkan dalam suatu organisasi adalah gaya kepemimpinan
petunjuk (derective leadership style). Sementara itu, asumsi yang dikembangkan
dalam teori Y pada dasarnya cenderung positif dan gaya kepemimpinan yang
diterapkan adalah gaya kepemimpinan partisipatif (participative leadership
style).
Dalam
teori X dan Y Douglas McGregor berusaha mengungkapkan bagaimana perilaku
karyawan dalam bekerja dan sekaligus bagaimana gaya kepemimpinan yang dapat
diterapkan dalam situasi lingkungan kerja yang berbeda, termasuk bagaimana
komunikasi antarpribadi (manajer dan bawahan) tersebut dikembangkan dalam
libgkungan kerjanya.
B. Teori Sistem 4 dari Sistem Likert
- Sistem Otokratis Eksploitif
Pada
sistem Otokratis Eksploitif ini, pemimpin membuat semua keputusan yang
berhubungan dengan kerja dan memerintah para bawahan untuk melaksanakannya.
Standar dan metode pelaksanaan juga secara kaku ditetapkan oleh pemimpin.
Pemimpin tipe ini sangat otoriter, mempunyai kepercayaan yang rendah terhadap
bawahannya, memotivasi bawahan melalui ancaman atau hukuman. Komunikasi yang dilakukan
satu arah ke bawah .
- Sistem Otokratis Paternalistic
Pada
sistem ini, Pemimpin tetap menentukan perintah-perintah, tetapi memberi bawahan
kebebasan untuk memberikan komentar terhadap perintah-perintah tersebut.
Berbagai fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam batas-batas
dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan. Pemimpin mempercayai bawahan
sampai tingkat tertentu, memotivasi bawahan dengan ancaman atau hukuman tetapi
tidak selalu dan memperbolehkan komunikasi ke atas. Pemimpin memperhatikan ide bawahan
dan mendelegasikan wewenang, meskipun dalam pengambilan keputusan masih
melakukan pengawasan yang ketat.
- Sistem Konsultatif
Pada
sistem ini, Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan dan memberikan perintah-perintah
setelah hal-hal itu didiskusikan dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat
keputusan–keputusan mereka sendiri tentang cara pelaksanaan tugas. Penghargaan
lebih digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman.Pemimpin
mempunyai kekuasaan terhadap bawahan yang cukup besar. Pemimpin menggunakan balasan
(insentif) untuk memotivasi bawahan dan kadang-kadang menggunakan ancaman atau hukuman.
Komunikasi dua arah dan menerima keputusan spesifik yang dibuat oleh bawahan.
- Sistem Partisipatif
Sistem
partisipatif adalah sistem yang paling ideal menurut Likert tentang cara
bagaimana organisasi seharusnya berjalan. Tujuan-tujuan ditetapkan dan
keputusan-keputusan kerja dibuat oleh kelompok. Bila pemimpin secara formal
yang membuat keputusan, mereka melakukan setelah mempertimbangkan saran dan
pendapat dari para anggota kelompok. Untuk memotivasi bawahan, pemimpin tidak
hanya mempergunakan penghargaan-penghargaan ekonomis tetapi juga mencoba
memberikan kepada bawahan perasaan yang dibutuhkan dan penting. Pemimpin
mempunyai kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahan, menggunakan insentif ekonomi
untuk memotivasi bawahan. Komunikasi dua arah dan menjadikan bawahan sebagai
kelompok kerja.
Kesimpulan
:
Menurut
kelompok kami ada empat sistem kepemimpinan menurut likert :
- Otokratis eksploitif pemimpin ini memerintah bawahan, pemimpin ini kepercayaannya rendah terhadap bawahannya, memotivasi bawahan dengan ancaman dan hukuman.
- Otokratis Paternalistic pemimpin ini bekerja menurut prosedur dan memberikan kebebasan kepada bawahannya. Memperbolehkan bawahan berkomunikasi langsung dengan atasan. Pemimpin memperhatikan ide bawahan dan mendelegasikan wewenang.
- System Konsultatif pemimpin ini mendiskusikan setiap perintah yang akan diberikan kebawahannya, Penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman. Disini lebih mementingkan komunikasi dua arah antara pemimpin dan bawahan.
- System konsultatif pemimpin disini memberikan hak kepada bawahan untuk membuat keputusan, penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan.
Jadi, pemimpin selalu meminta saran atau nasihat dari bawahannya, pemimpin tipe ini tidak membatasi komunikasi antar bawahan dan atasannya, pemimpin tidak memiliki batasan pada bawahannya dalam membuat suatu keputusan.
C.
Theory Of Leadership Pattern Choice (Tannenbaum dan Schmidt)
Tujuh
“pola kepemimpinan” yang diidentifikasi oleh Tannenbaum dan Schmidt. Demokrasi
(hubungan berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan
wewenang oleh bawahan. Otoriter (tugas berorientasi) pola kepemimpinan yang
ditandai oleh penggunaan wewenang oleh pemimpin.Perhatikan bahwa sebagai
penggunaan kekuasaan oleh bawahan meningkat (gaya demokratis) penggunaan
wewenang oleh pemimpin berkurang secara proporsional.
- Kepemimpinan Pola 1: “Pemimpin izin bawahan berfungsi dalam batas-batas yang ditentukan oleh superior.” Contoh: Pemimpin memungkinkan anggota tim untuk memutuskan kapan dan seberapa sering untuk bertemu.
- Kepemimpinan Pola 2: “Pemimpin mendefinisikan batas-batas, dan meminta kelompok untuk membuat keputusan.” Contoh: Pemimpin mengatakan bahwa anggota tim harus memenuhi setidaknya sekali seminggu, tetapi tim bisa memutuskan mana hari adalah yang terbaik.
- Kepemimpinan Pola 3: “Pemimpin menyajikan masalah, mendapat kelompok menunjukkan, maka pemimpin membuat keputusan.” Contoh: Pemimpin meminta tim untuk menyarankan hari-hari baik untuk bertemu, maka pemimpin memutuskan hari apa tim akan bertemu.
- Kepemimpinan Pola 4: “Pemimpin tentatif menyajikan keputusan untuk kelompok. Keputusan dapat berubah oleh kelompok.” Contoh: Pemimpin kelompok bertanya apakah hari Rabu akan menjadi hari yang baik untuk bertemu. Tim menyarankan hari-hari lain yang mungkin lebih baik.
- Kepemimpinan Pola 5: “Pemimpin menyajikan ide-ide dan mengundang pertanyaan.” Contoh: Pemimpin tim mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan membuat hari Rabu untuk pertemuan tim. Pemimpin kemudian meminta kelompok jika mereka memiliki pertanyaan.
- Kepemimpinan Pola 6 : “Para pemimpin membuat keputusan kemudian meyakinkan kelompok bahwa keputusan yang benar.” Contoh: Pemimpin mengatakan kepada anggota tim bahwa mereka akan bertemu pada hari Rabu. Pemimpin kemudian meyakinkan anggota tim bahwa Rabu adalah hari-hari terbaik untuk bertemu.
- Kepemimpinan Pola 7: “Para pemimpin membuat keputusan dan mengumumkan ke grup.” Contoh: Pemimpin memutuskan bahwa tim akan bertemu pada hari Rabu apakah mereka suka atau tidak, dan mengatakan bahwa berita itu kepada tim.
Kesimpulan
:
Menurut
kelompok kami pola kepemimpinan yang diidentifikasi oleh Tannenbaum dan Schmidt
seorang bawahan memiliki wewenang yang sama dengan atasannya, bawahan dapat
mengutarakan isi pikirannya secara bebas terhadap atasannya, bawahan juga dapat
membuat keputusan atas suatu permasalahan. Jadi, bawahan memiliki hak untuk
mengutarakan isi pikirannya, dan bawahan tidak sungkan-sungkan untuk
mengutarakannya, karena atasannya tidak membatasinya.
D. Modern
Choice Approach to Participation (Vroom & Yetton)
Menurut
teori ini gaya kepemimpinan yang tepat ditentukan oleh corak persoalan yang
dihadapi
oleh macam keputusan yang harus diambil. Model teori ini dapat digunakan untuk:
- Membantu mengenali berbagai jenis situasi pemecahan persoalan secara berkelompok (group problem solving situation).
- Menyarankan gaya kepemimpinan mana yang dianggap layak untuk setiap situasi. Ada tiga perangkat parameter yang penting yaitu klasifikasi gaya kepemimpinan, kriteria efektifitas keputusan, kriteria penemukenalan jenis pemecahan persoalan.Misalnya seorang dokter yang mengambil keputusan untuk melakukan operasi terhadap pasien yang mengalami kecelakaan tanpa dia harus berkonsultasi terlebih dahulu terhadap staf-stafnya dengan menggunakan informasi yang pada waktu itu diketahuinya.Dari sini dapat dilihat bahwa gaya pengambilan keputusan yang diambil oleh dokter tersebut merupakan gaya pengambilan keputusan A-1 yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang dimana dia mengambil keputusannya sendiri dalam memecahkan persoalan dengan menggunakan informasi yang pada waktu itu diketahuinya
Kesimpulan
:
Menurut
kelompok kami keputusan dilakukan berdasarkan macam sebab. Salah satunya
berdasarkan
situasi
saat itu dan bedasarkan cara pemimpin memutuskan masalah.
E. Contingency Theory
of Leaderhip dari Fiedler
Kepemimpinan tidak akan terjadi dalam satu kevakuman sosial atau lingkungan. Para pemimpin mencoba melakukan pengaruhnya kepada anggota kelompok dalam kaitannya dengan situasi-situasi yg spesifik. Karena situasi dapat sangat bervariasi sepanjang dimensi yang berbeda, oleh karenanya hanya masuk akal untuk memperkirakan bahwa tidak ada satu gaya atau pendekatan kepemimpinan yang akan selalu terbaik. Namun, sebagaimana telah kita pahami bahwa strategi yg paling efektif mungkin akan bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya.
Teori-teori kontingensi berasumsi bahwa berbagai pola perilaku pemimpin (atau ciri) dibutuhkan dalam berbagai situasi bagi efektivitas kepemimpinan. Asumsi sentral teori ini adalah bahwa kontribusi seorang pemimpin kepada kesuksesan kinerja oleh kelompoknya adalah ditentukan oleh kedua hal yakni karakteristik pemimpin dan dan oleh berbagai variasi kondisi dan situasi. Untuk dapat memahami secara lengkap efektifitas pemimpin, kedua hal tersebut harus dipertimbangkan.
Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power).
Hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader member relations) menjelaskan sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin.
Misalnya :
* Meminta orang tertentu untuk bekerja dalam kelompok
* Memindahkan bawahan tertentu ke luar dari unit
* Sukarela mengarahkan, mengajarkan dan menegur bawahan yang bandel atau sulit diatur
Struktur tugas (the task structure) menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku.
Misalnya :
* Memberikan tugas baru atau tidak biasa pada kelompok
* Bagi tugas menjadi sub tugas yang lebih kecil sehingga lebih terstruktur
Kekuatan posisi (Position power) menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan, promosi dan penurunan pangkat (demotions).
Misalnya :
* Tunjukkan pada bawahan siapa yang berkuasa dengan menerapkan seluruh otoritas yang Anda miliki
* Pastikan informasi pada kelompok hanya dapat diperoleh melalui anda
* Biarkan bawahan berpartisipasi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan
Kesimpulan :
Menurut kelompok kami Contingency
Theory of Leadership dari Fiedler adalah
kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara
atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the
favourableness of the situation) yang dihadapinya. Jadi kepemimpinan akan berhasil
jika kelompok dapat bekerja dengan baik, kelompok dapat bekerja dengan baik
jika kelompok tersebut di pimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki gaya
kepemimpinan yang baik.
Menurut Fiedler, ada
tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini
selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah
hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas
(the task structure) dan kekuatan posisi (position power). Jadi menurut
kelompok kami apabila pemimpin dapat dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan bawahan tersebut mengikuti petunjuk pemimpin serta
mereka dapat menyelesaikan tugas-tugas yang telah diberikan berarti gaya
kepemimpinan tersebut berjalan dengan baik.
F.
Konsep Path Goal Theory of Leadership
Menurut model ini, pemimpin menjadi
efektif karena efek positif yang mereka berikan terhadap motivasi kinerja dan
kepuasan. Teori ini dianggap sebagai path-goal karena terfokus pada bagaimana
pemimpin mempengaruhi persepsi dari
pengikutnya tentang tujuan pekerjaan, tujuan pengembangan diri, dan jalur yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan (Ivancevich, dkk, 2007:205).
Dasar dari path goal adalah teori
motivasi ekspektansi. Teori awal dari path goal menyatakan bahwa pemimpin
efektif adalah pemimpin yang bagus dalam memberikan imbalan pada bawahan dan
membuat imbalan tersebut dalam satu kesatuan (contingent) dengan pencapaian
bawahan terhadap tujuan sepsifik.
Perkembangan awal teori path goal
menyebutkan empat gaya perilaku spesifik dari seorang pemimpin meliputi
direktif, suportif, partisipatif, dan berorientasi pencapaian dan tiga sikap
bawahan meliputi kepuasan kerja, penerimaan terhadap pimpinan, dan harapan
mengenai hubungan antara usaha –kinerja-imbalan.
Model kepemimpinan jalur tujuan
(path goal) menyatakan pentingnya pengaruh pemimpin terhadap persepsi bawahan
mengenai tujuan kerja, tujuan pengembangan diri, dan jalur pencapaian tujuan.
Dasar dari model ini adalah teori motivasi eksperimental. Model kepemimpinan
ini dipopulerkan oleh Robert House yang berusaha memprediksi ke-efektifan
kepemimpinan dalam berbagai situasi.
Kesimpulan
:
Menurut
kelompok kami konsep path goal theory of leadership adalah bagaimana cara pimpinan ikut
mengamati atau berpartisipasi dalam mengamati sikap bawahan seperti kepuasan
kerja pada karyawan, penerimaan karyawan kepada atasannya dan agar hubungan
antara bawahan dan atasannya dapat berlangsung dengan baik.
Sarwono, S.W. (2005). Psikologi Sosial: Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.
Tangkilisan, H.N. (2005). Manajemen Publik. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Purwanto, D. (2006). Komunikasi Bisnis. Jakarta: Erlangga.
Sehfudin, Arif. 2011. Dalam Skripsi: Pengaruh Gaya Kepemimpinan Komunikasi Organisasi Dan Motivasi kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada PT. ****************************** Cabang Semarang). Skripsi: Semarang












0 komentar:
Posting Komentar