Rabu, 29 Oktober 2014

Review Jurnal

Diposting oleh Hasna putri anggraini di 05.59
#Pinternet

DAMPAK POSITIF dan NEGATIF PENGGUNAAN INTERNET

Jurnal pertama


Judul :  Subjective well being mahasiswa yang mengunakan internet secara berlebihan.  
Penulis : Novrita Ade Putri 
Tahun :   2009
Abstrak :  Pada saat ini internet merupakan media yang hampir digunakan oleh semua orang dari berbagai kalangan usia. Terdapat dampak positif dan negatif yang dihasilkan dari penggunaan internet. Salah satu dampak negatifnya adalah penggunaan internet yang berlebihan membuat individu menjadi ketergantungan pada internet. Individu yang mengalami problematic internet use akan cenderung menunjukkan emosi yang negatif di dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga diduga akan berkaitan dengan subjective well being. Penelitian ini dilakukan kepada 70 mahasiswa semester 7 Fakultas Psikologi Universitas Surabaya yang tergolong pengguna internet berlebihan.Penelitian ini bersifat deskriptif dan bertujuan untuk mengetahui subjective well being pada mahasiswa yang menggunakan internet secara berlebihan. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis cluster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjective well being tidak berkaitan dengan problematic internet use. Motif penggunaan internet karena tuntutan akademis dan level of problematic internet use masing-masing simptom pada seluruh kelompok yang tidak tergolong tinggi merupakan faktor pendukung yang dapat menjelaskan penggunaan internet berlebihan subjek tidak berkaitan dengan subjective well being. 
Pendahuluan : Jumlah pengguna internet meningkat dari tahun ke tahun. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet di Indonesia, pada tahun 2005 pengguna internet di Indonesia mencapai 1.2 juta dan pada tahun 2006 meningkat hingga mencapai hampir 2.4 juta (dalam Saputra, 2008). Pada tahun 2011, Indonesia menduduki peringkat ke-8 pengguna internet terbanyak di dunia dan pengguna internet di Indonesia mencapai 39 juta orang (Edutechnolife, 2011). Internet memberikan dampak yang positif maupun negatif bagi penggunanya. Dampak positif dari internet digolongkan menjadi empat kategori antara lain sebagai media komunikasi, media pertukaran data, media mencari informasi atau data, dan untuk manfaat komunitas (Herring, 1996). Dampak negatif dari internet salah satunya adalah membuat tidak sedikit individu menjadi sangat bergantung pada internet sehingga menjadi kecanduan terhadap internet.
Menurut Young (2007), internet addiction dapat disebut juga dengan compulsive internet use atau pathological internet use. Internet addiction adalah ketidakmampuan individu untuk mengontrol penggunaan internetnya, yang dapat menyebabkan terjadinya masalah psikologis, sosial, dan pekerjaan pada kehidupan individu (Young, 2005). Individu dapat menggunakan internet lebih dari 20 jam dalam satu minggunya (Childnet, 2009). Faktor-faktor yang memengaruhi internet addiction digolongkan menjadi 2 yaitu faktor eksternal dan internal (sitat dalam Budiwan, 2011). Faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sosial dan budaya. Faktor internal adalah kepribadian, kontrol diri, minat, motif, pengetahuan dan usia. Menurut Young (2007), faktor psikologis merupakan penyebab individu mengalami internet addiction. 
Hasil survei awal secara online yang dilakukan oleh peneliti (N=69) pada mahasiswa semester 4 hingga semester 7 Fakultas Psikologi Universitas Surabaya menunjukkan bahwa sebagian besar subjek yang menggunakan internet di atas 5 jam tiap harinya adalah mahasiswa semester 7. Sebanyak 64.7% menggunakan internet 5 hingga 6 jam tiap harinya dan sebanyak 23.53% menggunakan internet lebih dari 6 jam tiap harinya. Hal ini mengindikasikan adanya problematic internet use. 
Metode penelitian : Fokus penelitian ini adalah subjective well being mahasiswa yang menggunakan internet secara berlebihan. Subjective well being mahasiswa yang menggunakan internet secara berlebihan dalam penelitian ini adalah bagaimana mahasiswa akan mengevaluasi kehidupannya, baik secara kognitif yaitu dalam bentuk kepuasan hidup dan secara afektif yaitu dalam bentuk reaksi emosi dan suasana hati yang positif maupun negatif. Subjective well being mahasiswa juga terkait dengan bagaimana domain satisfaction terhadap berbagai area dalam kehidupan mahasiswa. Individu dapat dikatakan mengalami problematic internet use ketika individu menggunakan internet minimal 3 jam setiap harinya dan menunjukkan simptom-simptom problematic internet use pada kognisi dan perilaku individu yaitu mood alteration, perceived social benefits, perceived social control, withdrawal, compulsivity, excessive internet use, dan negative outcomes. 
SubjekSubjek penelitian ini adalah mahasiswa semester 7 Fakultas Psikologi Universitas Surabaya yang berusia antara 18-25 tahun, berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, pengguna internet berlebihan dengan lama penggunaan internet minimal 3 jam/hari, dan bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian ini
Hasil: Berdasarkan hasil analisis cluster, diperoleh empat kelompok yang memiliki karakteristik yang sama pada tiap kelompoknya. Kelompok-kelompok tersebut telah diberi nama untuk membedakan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Nama kelompok tersebut dibuat berdasarkan bagaimana subjective well being pada masing-masing kelompok, yang diketahui berdasarkan komponen dari subjective well being. Menurut Diener (1999) tiga komponen utama dari subjective well being adalah life satisfaction, presence of frequent positive affect, dan relative absence of negative affect. Nama keempat kelompok tersebut adalah kelompok well being sangat tinggi, well being tinggi, well being sedang, dan well being rendah.
Kesimpulan : Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjective well being tidak berkaitan dengan problematic internet use. Motif dari penggunaan internet terkait dengan tuntutan akademis, level of problematic internet use seluruh kelompok yang tidak tergolong tinggi, dan negative outcomes seluruh kelompok yang tergolong rendah ini dapat menjelaskan problematic internet use subjek tidak berkaitan dengan subjective well being, akan tetapi lebih berkaitan pada domain satisfaction subjek pada area-area kehidupan.
Saran : Sebaiknya menggali mengenai data-data terkait dengan subjective well being, sehingga akan mempermudah peneliti ketika membahas hasil penelitian dan sebaiknya tidak hanya dibatasi dengan karakteristik subjek tertentu seperti halnya dalam penelitian ini yaitu mahasiswa, sehingga dapat memperoleh gambaran yang lebih umum dan representatif.

Referensi : http://download.portalgaruda.org/article.php?article=119278&val=5455

Jurnal kedua 
Judul   :  Perilaku Penggunaan Internet pada Kalangan Remaja di Perkotaan
Penulis : Astutik Nur Qomariyah
Tahun :  -
Abstrak : The easiness of internet access facilities and the more sophisticated the facilities  offered by the internet in the era of Information and Communication Technology (ICT) today was accompanied by the emergence of phenomena that shows high interests to urban youth in using the Internet. From this phenomenon the researchers wanted to know the true pictures of how internet use behavior in urban adolescents today. Some researches had been done earlier on the internet use among urban youth in Indonesia, which are outdated in the sense of the time conducting the researches and the topics. The researches had done in the time when the internet access was rare for public and even not available at schools. The topics are about relations between motives of the internet use and customers satisfaction, the influence of the internet as an interactive communications media, the negative impact of the internet use on social life or of the psychological points of view. In contrast, this research, I would like to specifically identify how urban adolescents know and use the internet at the first time to take advantage internet which includes the intensity of the internet use, Internet activities what 
they are doing in using the internet, including for the benefit of what they are doing online activities are. The research findings show that peer group is one of the influencial factor to the youth to utilise the internet for the first time. The peer group acts as the mentor on how to utilise the internet just for fun or academic purposes. The youth usually utilise the internet at home rather than at public/rental internet. They utilise the internet for information searching, leisure activities,communication and financial transaction purposes. The most usage of the internet for them are for leisure and searching articles regarding to their academic assignments. 
Pendahuluan : Sejak pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat dunia dalam suatu demonstrasi di International Computer Communication Conference (ICCC) pada bulan oktober 1972, internet telah mengalami perkembangan pesat. Dari yang semula hanya beberapa node di lingkungan ARPANET (Advanced Research Projects Agency NETwork), internet diperkirakan mempunyai lebih dari 100 juta pengguna pada Januari 1997. Pada akhir tahun 2000, diperkirakan terdapat lebih dari 418 juta pengguna yang terus naik menjadi 945 juta pengguna di akhir tahun 2004 (Pendit, 2005: 104). Dan, berdasarkan sebuah situs yang bernama Internet World Stats, diketahui bahwa jumlah pengguna internet di dunia hingga bulan Maret 2008 mencapai angka 1.407.724.920. Hal ini mengindikasikan bahwa kehadiran internet sebagai media informasi dan komunikasi semakin diterima dan dibutuhkan oleh masyarakat dunia. Tak terkecuali di Indonesia, pentingnya penggunaan internet juga makin disadari oleh masyarakatnya dari berbagai kalangan. Terbukti dari data statistik Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengenai jumlah pengguna internet di Indonesia yang terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan, mulai dari 512.000 di tahun 1998 menjadi 500.000 di tahun 2002. Bahkan sampai di akhir tahun 2007, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai angka 25.000.000. Di samping itu, dapat dilihat juga fenomena makin meluasnya fasilitas-fasilitas yang menyediakan akses internet di kota-kota besar Indonesia saat ini, dimana tempat akses internet tidak hanya bisa ditemui di warung internet (warnet) saja, tapi juga di sekolah, perpustakaan-perpustakaan. 
Metode penelitian : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan format deskriptif survei dengan sampel 96 orang. Lokasi penelitian dilakukan di SMP dan SMA Surabaya, dengan pemilihan 
lokasi menggunakan multistage random sampling. Dan, lokasi yang terpilih dalam penelitian ini adalah SMP dan SMA di kecamatan Genteng wilayah Surabaya Pusat, yakni SMP Negeri 37 Surabaya, SMP IMKA /YMCA-I Surabaya, SMA Negeri 5 Surabaya, dan SMA Trisila 
Surabaya. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel acak atau random sampling/probability sampling, dengan teknik pengambilan sampel sistematis atau systematic sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah data primer (kuesioner dan teknik ”probing”), sekunder (data yang diperoleh dari institusi terkait), studi kepustakaan, dan 
observasi. Semua data primer yang terkumpul dalam penelitian ini diolah secara komputerisasi, yakni dengan menggunakan SPSS 16.0 untuk statistik deskriptif. Secara umum terdapat tiga hal yang akan dianalisa dalam penelitian ini, yakni berkaitan dengan pengenalan dan penggunaan internet pertama kalinya pada kalangan remaja di perkotaan, intensitas penggunaan internet pada kalangan remaja di perkotaan, dan kepentingan-kepentingan penggunaan internet pada kalangan remaja di perkotaan. Peneliti menganalisa sepenuhnya dengan menggunakan interpretasi teoritik, di mana data yang diperoleh dari hasil penelitian di lapangan (kuantitatif maupun kualitatif) dibandingkan atau dikaitkan dengan beberapa teori yang ada, pendapat para ahli, atau temuan dari penelitian sebelumnya.
Hasil: Dari hasil analisa tabel silang yang menyilangkan temuan usia pertama kali responden 
menggunakan internet dengan alasan yang mendorong responden saat pertama kali menggunakan internet diketahui bahwa alasan yang memiliki presentase terbanyak bagi responden yang pertama kali menggunakan internet berusia 12 tahun adalah untuk mencari bahan atau sumber untuk menyelesaikan tugas sekolah (37,1%), namun diketahui juga bahwa terdapat sejumlah alasan lain yang sebenarnya lebih mendorong mereka untuk menggunakan internet pertama kalinya. Alasan-alasan ini muncul disebabkan karena pengaruh atau ajakan teman-temannya, seperti: ingin chatting, ingin bermain game online, ingin mengunjungi situs-situs pornografi atau ingin membuat account di salah satu situs social networking karena banyak teman yang memiliki. Sedangkan dari hasil analisa tabel silang yang yang 
menyilangkan temuan sumber pembelajaran pertama kali responden dalam menggunakan internet dengan alasan yang mendorong responden saat pertama kali menggunakan internet diketahui bahwa teman cenderung memang dijadikan sebagai sumber belajar pertama kali berinternet bagi responden, baik untuk bisa melakukan aktivitas-aktivitas intenet tertentu yang lebih bersifat kesenangan (seperti: chatting, bermain game online, membuat account disalah satu situs social networking atau bahkan mengunjungi situs-situs pornografi) maupun membantu mereka untuk kepentingan akademis yakni mencari bahan atau sumber untuk menyelesaikan tugas sekolah dengan jumlah masing-masing responden yang mengakui pun lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang menyatakan di luar teman, khususnya orangorang yang lebih tua terdekat di sekitarnya (orang tua atau saudara) sebagai sumber belajar pertama kali mereka dalam berinternet. Dari apa yang diungkapkan beberapa responden yang mayoritas mengenal dan menggunakan internet ketika memasuki masa remaja awal ini mengenai alasan yang mendorong mereka pertama kalinya mengenal dan menggunakkan internet pertama kalinya mereka yang lebih disebabkan oleh pengaruh atau ajakan teman-teman sebayanya dan juga 
lebih menjadikan teman sebayanya tersebut sebagai sumber belajar pertama kali dalam menggunakan internet tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa ini ada kaitannya dengan pengaruh peer groups (teman sebaya) yang selalu melingkupi kehidupan sosial mereka, dimana remaja lebih menjadikan teman sebayanya untuk mempelajari segala sesuatu atau hal-hal baru yang sebelumnya tidak ditemui dalam hidupnya, termasuk dengan kecanggihan teknologi internet, dari pada orang yang lebih tua di sekitarnya (seperti guru, orang tua, atau saudara). 
Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti mengenai perilaku penggunaan internet pada kalangan remaja di perkotaan dengan berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah diajukan, maka peneliti dapat menyimpulkan tiga hasil temuan penelitian. Pertama, usia responden saat pertama kali mengenal dan menggunakan internet ialah 12 tahun. Rata-rata saat itu mereka telah memasuki kelas VII SMP, dimana tugas-tugas sekolah yang diberikan mulai mengharuskan mereka mencari sumber atau bahan-bahannya di internet sehingga mereka dituntut harus bisa menggunakan internet. Sebagian besar remaja perkotaan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa teman sebaya (peer groups) dijadikan sebagai sumber belajar pertama kali berinternet bagi mereka, baik untuk bisa melakukan aktivitas-aktivitas intenet tertentu yang lebih bersifat kesenangan (seperti: chatting, bermain game online, membuat account di salah satu situs social networking atau bahkan mengunjungi situs-situs pornografi) maupun membantu mereka untuk kepentingan akademis yakni mencari bahan 
atau sumber untuk menyelesaikan tugas sekolah. Berdasarkan aspek intensitas penggunaan internet, sebagian besar remaja perkotaan lebih sering mengakses internet di warnet meskipun di sekolah mereka terdapat fasilitas internet yang dapat dimanfaatkan secara free (baik di laboratorium komputer atau 
perpustakaan sekolah). Frekuensi internet yang digunakan bagi remaja perkotaan yang sering mengakses internet di rumah cenderung lebih sering dengan durasi setiap kali mengakses internet lebih lama dibandingkan dengan remaja perkotaan yang sering mengakses internet di tempat lainnya, seperti: warnet, sekolah atau wifi area. Dari jumlah waktu penggunaan  internet per bulan menunjukkan bahwa pada umumnya kalangan remaja di perkotaan yang  sering mengakses internet di rumah termasuk dalam kategori heavy users (pengguna internet  yang menghabiskan waktu lebih dari 40 jam per bulan). Sedangkan remaja di perkotaan yang sering mengakses internet di warnet dan memanfaatkan wifi area publik sebagai tempat akses  internet mereka dikategorikan sebagai medium users (pengguna internet yang menghabiskan  waktu antara 10 sampai 40 jam per bulan). Sementara itu, bagi remaja di perkotaan yang  sering mengakses internet dengan memanfaatkan layanan internet yang tersedia di sekolah menunjukkan bahwa pada umumnya mereka tergolong sebagai light users (pengguna internet yang menghabiskan waktu kurang dari 10 jam per bulan). Kalangan remaja di perkotaan menggunakan internet untuk untuk empat dimensi kepentingan, yaitu informasi (information utility), aktivitas kesenangan (leisure/fun activities), komunikasi (communication), dan transaksi (transactions). Meskipun dari keempat kepentingan penggunaan internet tersebut aktivitas-aktivitas internet yang dilakukan kalangan remaja di perkotaan lebih banyak ditujukan untuk aktivitas kesenangan (leisure/fun activities) dari pada untuk kepentingan lainnya, namun aktivitas internet yang paling banyak dilakukan mereka adalah mencari sumber atau bahan terkait dengan tugas atau pelajaran 
sekolah. 
saran : Berdasarkan temuan-temuan dari penelitian, ada beberapa saran yang akan dikemukakan oleh  peneliti. Pertama, berdasarkan hasil penelitian penulis diketahui bahwa para responden yang 
pada umumnya remaja tingkat SMP dan SMA melakukan aktivitas mengakses internet untuk hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan untuk kepentingan lain. Untuk hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan ini berarti mereka melakukan segala sesuatu guna menunjang segala tugas dan prestasi mereka di sekolah. Sedangkan untuk kepentingan lain adalah aktivitas selain untuk tujuan kepentingan pendidikan. Mengakses internet untuk tujuan kepentingan lain inilah yang sering disoroti para orang tua karena hanya bersifat fun/leisure activities. Para orang tua seringkali khawatir jika putra-putri mereka meminta izin untuk melakukan mengakses internet. Kekhawatrian mereka seringkali dipicu oleh banyaknya informasi tentang pengaruh buruk dari internet. Kekhawatiran ini memang wajar mengingat 
internet memang seperti pisau bermata dua. Artinya di satu sisi internet membawa pengaruh yang positif dan juga negatif secara bersamaan tergantung pelakunya. Terlebih bagi putaputri mereka yang notabenenya adalah pelaku pemula yang baru mengenal di dunia maya. Tetapi kekhawatiran itu tidak boleh terlalu berlebihan mengingat peran internet memang sangat dibutuhkan oleh para pelajar di era globalisasi ini. Dari data yang kami peroleh diketahui bahwa aktivitas-aktivitas internet yang bersifat fun atau leisure yang dilakukan para responden seringkali masih mempunyai keterkaitan dengan masalah pendidikan mereka. Keterkaitan tersebut memang tidak secara langsung berkaitan dengan dunia pendidikan, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa aktivitas-aktivitas internet yang bersifat fun atau leisuretersebut menunjang perkembangan pergaulan mereka yang pada akhirnya juga mempengaruhi perkembangan diri mereka. Seperti halnya, aktivitas mengakses situs jejaring sosial, men-download lagu/video dan mencari informasi lainnya terkait hobi atau hiburan. Kegiatan-kegiatan tersebut ternyata mempunyai pengaruh yang cukup baik bagi mereka jika digunakan dengan benar. Mereka akan mempunyai jaringan yang luas dan kemampuan yang lebih baik berkaitan dengan hobi mereka karena mereka mempunyai sumber yang bisa menunjang hal tersebut. Sehingga para orang tua harus lebih bijaksana dalam menghadapi keinginan putra-putrinya untuk mengakses internet. Selain harus mengawasi putra-putrinya mengakses internet, para orang tua setidaknya juga harus mengetahui atau mengenal internet. Para orang tua seyogyanya juga harus mengetahui bagaimana atau cara-cara untuk 
melakukan kegiatan online. Contohnya, jika putra-putrinya mengakses suatu situs maka 
orang tua juga harus bisa. Sehingga peran orang tua di sini lebih maksimal karena mereka bisa menjadi teman berbagi atau bertanya jika mendapat kesulitan.
Kedua, berdasarkan hasil penelitian penulis diketahui bahwa ketergantungan siswasiswi pada internet untuk mencari sumber atau bahan terkait dengan tugas atau pelajaran sekolah kini semakin meningkat. Untuk itu, para professional informasi, khususnya yang terkait dengan dunia internet dan pendidikan, sebaiknya lebih memanfaatkan situasi ini dengan menyediakan situs-situs edukatif yang memiliki content informasi yang relevan dengan kurikulum sekolah. Di samping itu, perlunya dilakukan sosialisasi situs-situs tersebut di sekolah-sekolah.
Ketiga, bagi para akademisi yang tertarik dengan kajian di bidang perilaku penggunaan internet pada kalangan remaja di perkotaan, ada beberapa aspek yang belum dibahas lebih lanjut dalam penelitian ini. Sehingga peneliti lain diharapkan dapat mengkaji lebih lanjut dari apa yang telah dihasilkan dalam penelitian ini agar pada akhirnya kajian di bidang ini diharapkan bisa semakin menarik dan lengkap. Beberapa aspek yang mungkin dapat diteliti lebih lanjut antara lain adalah: (a) perbedaan perilaku penggunaan internet pada kalangan remaja di perkotaan antara remaja awal dan remaja akhir, (b) pencarian informasi untuk tujuan sekolah, dan (c) perilaku penggunaan situs social networking pada kalangan remaja di perkotaan. 
Referensi : http://palimpsest.fisip.unair.ac.id/images/pdf/astutik.pdf

Jurnal ketiga 
JudulPengaruh Pemanfaatan Internet, Lingkungan dan Motivasi Belajar terhadap Prestasu Belajar Siswa SMK
Penulis : Anggoro Dwi Listyanto
Tahun: -
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang 1) pemanfaatan internet, lingkungan, dan motivasi belajar; 2) pengaruh pemanfaatan internet, lingkungan dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan kompetensi keahlian teknik audio video SMK Negeri se-Kabupaten Gunungkidul. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah kuesioner dan tes. Teknik analisa data dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif dan analisis regresi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) kecenderungan pemanfaatan internet siswa terdapat pada kategori cukup; 2) lingkungan siswa terdapat pada kategori cukup; 3) motivasi belajar siswa terdapat pada kategori cukup; 4) prestasi belajar siswa terdapat pada kategori cukup. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa 1) terdapat pengaruh antara pemanfaatan internet terhadap prestasi belajar siswa; 2) terdapat pengaruh antara lingkungan terhadap prestasi belajar siswa; 3) terdapat pengaruh antara motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa; 4) terdapat pengaruh antara pemanfaatan internet, lingkungan, dan motivasi belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan kompetensi keahlian teknik audio video SMK Negeri se-Kabupaten Gunung kidul
Pendahuluan : Pendidikan merupakan hal yang utama dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan seseorang akan mendapatkan bekal dalam menghadapi kehidupan di masa mendatang karena dengan pendidikan kehidupan seseorang diharapkan akan lebih baik. Usaha yang dilakukan adalah dengan mendirikan lembaga pendidikan. Se-kolah merupakan lembaga pendidikan formal yang memegang peranan sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Selain itu sekolah sebagai lembaga formal juga berusaha semaksimal mungkin dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Prestasi menentukan berhasil tidaknya pendidikan, karena itu prestasi memiliki fungsi yang penting bagi siswa dalam dunia pendidikan. Menurut Hamalik (2003: 152) “prestasi belajar adalah hasil atas kepandaian atau keterampilan yang dicapai oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru, secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksinya dengan lingkungan”, sedangkan menurut Sukmadinata (2003:101) “prestasi belajar adalah realisasi dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki sese-orang”. Pada dasarnya prestasi merupakan hasil dari usaha belajar siswa yang aktif dalam meningkatkan prestasinya. Prestasi belajar pada hakekatnya merupakan pencerminan dari usaha belajar. Semakin baik usaha belajar semakin baik pula prestasi belajar yang dicapai. Jadi prestasi merupakan tolok ukur atas keberhasilan prestasi siswa setelah melakukan proses belajar. Dalam kegiatan belajar mengajar yang ada di sekolah, prestasi belajar dinyatakan dalam bentuk angka-angka, begitu juga di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Prestasi belajar yang diperoleh oleh siswa dituangkan dalam sebuah buku laporan hasil belajar siswa. Nilai laporan hasil belajar siswa bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan prestasi belajar siswa. Selain dari nilai laporan hasil belajar siswa, nilai Ujian Nasional merupakan salah satu penentu kelulusan. Nilai rata-rata Ujian Nasional teori kejuruan tahun pelajaran 2011/2012 untuk Kabupaten Gunungkidul memperoleh peringkat ke-5 di Daerah Istime-wa Yogyakarta yang berarti peringkat yang paling rendah.
Metode penelitian : Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Ditinjau dari wujud data dan teknik analisisnya termasuk dalam pendekatan kuantitatif karena data yang diperoleh berupa angka-angka dan diselesaikan dengan metode statistika. Penelitian ini merupakan jenis penelitian ex post facto karena pada penelitian ini peneliti tidak memberikan perlakuan, pe-neliti hanya mengungkap fenomena yang ter-jadi dan menelusuri penyebab-penyebab ter-jadinya variabel pada penelitian ini, serta mengumpulkan fakta-fakta berdasarkan peng-ukuran terhadap gejala yang telah ada atau yang terjadi secara wajar pada diri responden.
Kesimpulan : Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Gambaran umum tentang pemanfaatan internet siswa kompetensi keahlian teknik audio video SMK Negeri se-Kabupaten Gunungkidul mempunyai kecenderungan dalam kategori cukup dengan rata-rata skor sebesar 75,87; lingkungan siswa kom-petensi keahlian teknik audio video SMK Negeri se-Kabupaten Gunungkidul mem-punyai kecenderungan dalam kategori cukup dengan rata-rata skor sebesar 81,10; motivasi belajar siswa kompetensi keahlian teknik audio video SMK Negeri se-Kabupaten Gunungkidul mempunyai ke-cenderungan dalam kategori cukup dengan rata-rata skor sebesar 102,62 dan prestasi belajar siswa kompetensi keahlian teknik audio video SMK Negeri se-Kabupaten Gunungkidul mempunyai kecenderungan dalam kategori cukup dengan rata-rata skor sebesar 15,23. 
2. Pemanfaatan internet mempunyai peng-aruh terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan kom-petensi keahlian teknik audio video SMK Negeri se-Kabupaten Gunungkidul, ling-kungan mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan kompetensi keahlian teknik audio video SMK Negeri se-Kabupaten Gunungkidul, motivasi belajar mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran dasar kom-petensi kejuruan kompetensi keahlian teknik audio video SMK Negeri se-Kabu-paten Gunungkidul, pemanfaatan internet, lingkungan dan motivasi belajar secara bersama-sama mempunyai pengaruh ter-hadap prestasi belajar siswa mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan kompetensi keahlian teknik audio video SMK Negeri se-Kabupaten Gunungkidul.
Saran: Berdasarkan hasil penelitian maka terdapat beberapa saran yang dapat dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan kompetensi keahlian teknik audio video SMK Negeri se-Kabupaten Gunung-kidul, yaitu: 
1. Sarana dan prasarana untuk mengakses internet khususnya di sekolah agar diper-baiki supaya siswa dan guru dapat me-manfaatkan internet untuk kegiatan pem-belajaran dengan optimal. Guru mata pel-ajaran dasar kompetensi kejuruan kom-petensi keahlian teknik audio video lebih dapat mengoptimalkan dalam memanfaat-kan internet untuk pembelajaran misalnya untuk mencari materi pelajaran melalui search engine, memberikan tugas pada siswa di internet, download software ten-tang teknik audio video sehingga internet dapat dijadikan sebagai salah satu sumber belajar yang tak terbatas. 
2. Orang tua harus mendukung dan men-dorong anak-anaknya untuk lebih giat lagi belajar pada saat siswa berada di rumah. Selain itu orang tua juga harus mengetahui dan selalu mengawasi teman sepergaul-annya supaya siswa terhindar dengan pergaulan yang salah di masyarakat serta adanya kerjasama dari semua pihak untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, khu-susnya orang tua dengan guru, misalnya orang tua selalu berkonsultasi dengan pihak sekolah tentang perkembangan mau-pun prestasi belajar anak-anaknya. 
3. Guru pada mata pelajaran dasar kompe-tensi kejuruan kompetensi keahlian teknik audio video agar lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan materi pelajaran agar siswa lebih aktif dan antusias dalam meng-ikuti dan mempelajari tentang teknik audio video. 


Sumber : https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=31&cad=rja&uact=8&ved=0CBwQFjAAOB4&url=http%3A%2F%2Fjournal.uny.ac.id%2Findex.php%2Fjpv%2Farticle%2Fdownload%2F1844%2F1522&ei=KttQVLjtDcLn8AWrkYGoAg&usg=AFQjCNGRk3xFNG-htfEvv9tikJLEYJ3Gtw&sig2=fXvlup4LJnaimL6omfxh5w&bvm=bv.78597519,d.dGc


Dari ketiga review jurnal tersebut maka dapat di simpulkan :

  Di zaman modern seperti ini penggunaan internet di kalangan masyarakat sudah bukan merupakan hal yang asing lagi. Internet bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan masarakat dunia. Apa yang tidak temukan di lingkungan sekitar kita dapat kita temukan di sebuah alat-alat elektronik yang terhubung dengan jaringan internet. Selain iu, pengunaan internet yang mudah juga dapat memungkinkan semua orang dapat menggunakannya bahkan anak kecil dapat merasakan kemudahan yang di sediakan oleh internet. Hal ini membuat jumlah pengguna internet dari tahun ke tahun makin meningkat. Dengan maraknya penggunaan internet di kalangan masyarakat maka banyak pula dampak positif dan negatif yang ditimbulkan.
  • Dampak positif penggunaan internet

·          Memudahkan dalam komunikasi.
Internet dapat memudahkan semua orang untuk dapat berkomunikasi menggunakan pesan, suara ataupun video tanpa memandang adanya perbedaan jarak dan waktu. Lewat jejaring sosial seperti twitter,path, instagram dan lain-lain kita juga dapat saling berkenalan dan mempunyai banyak teman karena terciptanya komunikasi yang baik antar sesama.


·         Menambah wawasan.
Dengan menggunakan jasa internet dapat memudahkan seseorang mencari informasi-informasi baik di dalam negeri ataupun luar negeri, dengan begitu kita dapat lebih mempunyai wawasan atau pengetahuan lebih


·         Sebagai sarana untuk mendapatkan dan menyampaikan informasi
Dengan internet kita dapat memperoleh informasi maupun menyampaikan informasi kepada orang lain dengan cepat, murah dan mudah.


Mengurangi biaya distribusi atau biaya kertas,
Dengan adanya internet kita tidak lagi membutuhkan banyak kertas untuk mencatat, mengirim surat dan lain sebagainya dengan hanya mengetik dan mengirimnya lewat jejaring sosial maka semua urusan atau keperluan kita terselesaikan, dengan hal tersebut kita juga dapat mengurangi penebangan pohon yang marak terjadi.

Dapat digunakan sebagai media promosi,
Internet juga dapat menjadi wadah untuk bisnis, dimana seseorang tidak lagi mempromosikan suatu instansinya dengan mengumpulkan banyak masa hal tersebut sudah tidak banyak dilakukan, dengan munculnya internet seseorang yang ingin memulai bisnisnya hanya tinggal meng-upload foto updatean barang yang mereka punya dan hanya menunggu respon atau pesanan dari masyarakat atau pembeli.

Konektivitas dan jangkauan global

Internet bukan hanya mencakup wilayah dalam negeri tapi juga dapat mencakup wilayah luar negeri dan bersifat universal atau menyeluruh.

Dapat diakses 24 jam

Jaman dahulu sebelum internet mucul jika kita ingin mengirimkan surat kepada kerabat maka kita memerlukan kantor pos, namun dijaman modern seperti ini kita tidak usah lagi khawatir jika ketinggalan mengirimkan surat kita ke kantor pos karena dengan adanya internet penggunaan e-mail dapat memudahkan kita untuk mengaksesnya kapan saja.

  • Dampak Negatif penggunaan internet

Membuat individu bergantung dengan internet
Menurut young (2007) orang yang ketergantunga internet atau internet addiction adalah ketidakmampuan individu untuk mengontrol penggunaan internet sehingga menjadi ketergantungan terhadap internet. Hal tersebut dapat menimbulkan masalah psikologis, sosial, dan pekerjaan pada kehidupan individu


Kejahatan lewat jejearing internet
Dengan banyaknya orang yang menggunakan internet, maka kejahatan yang terjadi semakin marak, modus pertemanan pun di jadikan alat untuk dapat menjalankan niat jahat yang dilakukan para pelaku.

·         Menjadi boros
Menjadi boros disini adalah ketika kita melihat online shop atau toko-toko online yang menyediakan berbagai keperluan yang kita inginkan dapat membuat kita ingin membelinya karena tampilan gambar dan resolusi gambar yang baik yang digunakan oleh online shop tersebut.

·         Berdampak pada fisik
Dampak fisik ini biasanya terjadi pada mata karena mata kita adalah organ tubuh yang selalu menatap layar sehingga terkadang mata kita menjadi lelah,pusing dan ngantuk.

·          Acuh terhadap lingkungan sosial dan dunia nyata.
Ketika seseorang sudah menjadi internet addict atau kecanduan dengan media sosial biasanya mereka akan menjadi acuh terhadap lingkungan sosial dan dunia nyata dan terkdadang menjadi lupa waktu sehingga tugas-tugas kuliah yang di berikan tidak di kerjakan.

Sumber : https://www.google.com/

Dampak negatif dari penggunaan internet 



Dampak Positif daripenggunaan internet 


#Pinternet 

INTERNET ADDICTION 

Jurnal pertama 

Judul : Hubungan antara self control dengan internet addiction pada mahasiswa.
Tahun : -
Penulis: Sari Dewi Yuhanan Ningtyas 
Abstrak: Internet addiction merupakan fenomena yang mencemaskan dan menarik perhatian internet
telah membuat remaja kecanduan, karena menawarkan berbagai informasi, permainan, dan hiburan. Hal ini ditandai rasa senang dengan internet, durasi penggunaan internet terus meningkat, menjadi cemas dan bosan ketika harus melalui beberapa hari tanpa internet. Pecandu internet tidak dapat menghentikan keinginan untuk online sehingga kehilangan kontrol dari penggunaan internet dan kehidupannya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat self control dan internet addiction pada mahasiswa FIP semester 5 UNNES serta hubungan antara self control dengan internet addiction pada mahasiswa FIP semester 5 UNNES. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Subjek penelitian ini adalah 65 mahasiswa FIP semester 5 dengan teknik sampling proportional sampling. Self control diukur dengan skala self control, koefisien reliabilitas sebesar 0,850 terdiri dari 31 aitem valid, rentang koefisien validitas dari 0,252 sampai dengan 0,680. Internet addiction diukur denga skala internet addiction, koefisien reliabilitas sebesar 0,868 terdiri dari 33 item valid, rentang koefisien validitas dari 0,267 sampai dengan 0,731. Uji korelasi menggunakan teknik korelasi product moment dengan program SPSS 12.0 for windows. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil : 1) ada hubungan negatif antara self control dengan internet addiction pada mahasiswa FIP semester 5 UNNES ditunjukkan dengan r = -0,752 p = 0,000 dimana p < 0,01. 2) kategori self control tergolong rendah 93,85% berarti bahwa mahasiswa kurang mampu mengontrol perilaku, mengambil keputusan atau suatu tindakan yang cukup baik terhadap internet. 3) kategori internet addiction tergolong tinggi 96,92% berarti bahwa mahasiswa mengalami kecanduan terhadap internet ditandai dengan perhatian yang selalu tertuju pada internet, kurang dapat dalam mengontrol penggunaan internet. Adapun saran yang dapat penulis berikan bagi mahasiswa FIP sebagai pengguna internet harus lebih mampu memperbaiki self control agar tidak sampai taraf candu, sehingga dapat beraktivitas dengan baik dan seimbang. 
Pendahuluan : Internet merupakan salah satu media yang sekarang ini banyak digemari oleh remaja. Internet menjadi suatu kegemaran tersendiri bagi remaja dalam mencari informasi terbaru dan menjalin hubungan dengan orang lain di beda tempat. Di zaman yang modern ini, penggunaan internet sangatlah diperlukan. Perkembangan pengguna internet dari tahun ke tahun sangatlah tinggi. Sekarang lebih dari jutaan manusia di seluruh Indonesia telah menggunakan internet. Namun ada beberapa orang yang saat ini terkena salah satu dampak negatif dari penggunaannya. Tidak sedikit orang yang sangat bergantung pada internet sehingga individu kecanduan. Kecanduan internet bagi pelajar dapat diketahui melalui kegiatannya yang setiap hari setelah pulang sekolah atau malam hari banyak dijumpai remaja di depan komputer untuk melakukan internet. Internet telah membuat remaja kecanduan, karena di internet menawarkan berbagai fasilitas informasi, mainan, dan hiburan yang membuat remaja tidak ingin meninggalkan internet. Tanda-tanda remaja yang kecanduan internet, antara lain remaja merasa senang dengan internet, durasi penggunaan internet terus meningkat, menjadi cemas dan bosan ketika harus melalui beberapa hari tanpa internet. Internet addiction adalah pemakaian internet secara berlebihan yang ditandai dengan gejala-gejala klinis kecanduan, seperti keasyikan dengan objek candu, pemakaian yang lebih sering terhadap objek candu, tidak memperdulikan dampak fisik maupun psikologis pemakaian dan sebagainya. Internet Addiction sebagaimana kecanduan obat-obatan, alkohol dan judi akan mengakibatkan kegagalan akademis, menurunkan kinerja, perselisihan dalam perkawinan bahkan perceraian. (Young, 1996b:20) Internet Addiction Disorder (IAD) atau gangguan kecanduan internet meliputi segala macam hal yang berhubungan dengan internet seperti jejaring sosial, email, pornografi, judi online, game online, chatting dan lain-lain. Jenis gangguan ini memang tidak tercantum pada manual diagnostik dan statistik gangguan mental, atau yang biasa disebut dengan DSM, namun secara bentuk dikatakan dekat dengan bentuk kecanduan akibat judi, selain itu badan himpunan psikolog di Amerika Serikat secara formal menyebutkan bahwa kecanduan ini termasuk dalam salah satu bentuk gangguan. (Herlina Siwi, 2004:2) 
Metode penelitian : Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan UNNES Semester 5 tahun 2010/2011 sejumlah 639 mahasiswa. Subjek penelitian ditetapkan untuk diambil 10% secara random sebagai sampel dari populasi yang berjumlah 639 mahasiswa yaitu 65 mahasiswa dengan menggunakan teknik proportional sampling. 
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala self control dengan aitem yang dibuat adalah 50 item dari aspek behavioral control, cognitive control, decisional control. Skala kedua yaitu skala internet addiction yang dibuat adalah 51 aitem dari aspek compulsive use, loss of control, continued use despite adverse consequences. Alternatif jawaban yang tersedia ada empat, yaitu Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). 
Hasil : Self control diukur dengan skala Self control dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,850. Skala self control terdiri dari 31 aitem valid dengan rentang koefisien validitas dari 0,252 sampai dengan 0,680. Internet addiction di ukur dengan menggunakan skala internet addiction. Skala internet addiction mempunyai koefisien reliabilitas sebesar 0,868. Skala internet addiction terdiri dari 33 item valid dengan rentang koefisien validitas dari 0,267 sampai dengan 0,731. Uji korelasi menggunakan teknik korelasi product moment yang dikerjakan menggunakan bantuan program SPSS 12.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan variabel self control tergolong rendah dengan persentasi 93,85%, berrati bahwa mahasiswa kurang mampu mengontrol perilaku, mengambil keputusan atau suatu tindakan yang cukup baik terhadap internet. Variabel internet addiction tergolong tinggi dengan persentasi 96,92%, hal ini berarti mahasiswa mengalami kecanduan dalam berinternet, yang ditandai dengan mahasiswa selalu tertuju pada internet, kurang dapat dalam mengontrol penggunaan internet. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan negatif antara self control dengan internet addiction pada mahasiswa FIP semester 5 UNNES,. Hal ini ditunjukkan dengan hasil korelasi product moment r = -0,752 dengan signifikansi atau p = 0,000 dimana p < 0,01. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan hipotesis yang diajukan bahwa terdapat hubungan negatif antara self control dengan internet addiction pada mahasiswa FIP semester 5 UNNES. Semakin rendah self control maka semakin tinggi internet addiction. Terujinya hipotesis dalam penelitian ini disebabkan oleh tingginya pemakaian internet secara berlebihan, sehingga dalam mengendalikan perilaku kurang baik atau rendah. Pengguna internet yang mempunyai self control yang tinggi akan mampu memandu, mengarahkan dan mengatur perilaku online. Kebiasaan didefinisikan sebagai suatu bentuk perilaku otomatis kurang kesadaran, perhatian, intensionalitas, dan / atau pengendalian. Namun, empat dimensi tersebut adalah independen (Saling & Phillips, 2007). Jadi individu mungkin sangat menyadari perilaku online yang berlebihan dan bahkan berniat untuk menghentikan, tapi masih bisa dikatakan memiliki kebiasaan berdasarkan perilaku kurangnya pengendalian, atau kekurangan reaksi diri dalam hal ini. Demikian juga, individu mungkin kurang kesadaran, perhatian, atau intensionalitas tapi masih merasa mengendalikan perilaku media online, atau setidaknya memiliki kegagalan dalam mengontrolnya (Young, 1996:65). 
Kesimpulan: self control terhadap internet addiction pada mahasiswa Fakulatas Ilmu Pendidikan berada pada kategori rendah, hal ini berarti mahasiswa kurang mampu mengontrol perilaku dalam bermain internet yang berlebihan (waktu yang tidak terkontrol), kurang mampu dalam mengambil keputusan atau suatu tindakan yang cukup baik terhadap internet. 
Internet addiction mahasiswa FIP tergolong tinggi, hal ini berarti mahasiswa FIP mengalami kecanduan dalam berinternet, yang ditandai dengan mahasiswa selalu tertuju pada internet, kurang dapat dalam mengontrol penggunaan interenet, dan dalam penggunaan internet digunakan untuk melarikan diri dari masalah. Uji hipotesis antara self control dengan internet addiction diterima. Hal tersebut dapat diartikan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara self control dengan internet addiction pada mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan semester 5 Universitas Negeri Semarang tahun 2010/2011. 

Referensi : http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Jurnal%20IIK%20Novianto.pdf


Jurnal kedua 

Judul: Adiksi bermain game online pada anak usia sekolah di warung internet penyedia game online jatinangor sumedang. 
Penulis: Winsen Sanditaria, Siti Yuyun Rahayu Fitri, Ai Mardhiyah. 
Tahun: -
Abstrak : Aktivitas bermain game online yang dilakukan secara berlebihan yang dapat membawa pengaruh negatif pada anak. Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya tingkat adiksi bermain game online pada orang dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran adiksi bermain game online pada anak usia sekolah di warung internet penyedia game online Jatinangor Sumedang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner baku oleh Lemmens dengan 7 kriteria adiksi terhadap 71 responden anak usia sekolah di warung internet penyedia game online Jatinangor Sumedang. Responden yang termasuk kategori tidak adiksi jika memiliki <4 kriteria adiksi dan yang termasuk kategori adiksi jika memiliki ≥4 kriteria adiksi. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 38% responden termasuk dalam kategori tidak adiksi dan 62% responden termasuk dalam kategori adiksi. Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa tingkat adiksi dapat terjadi pada anak usia sekolah. Oleh karena itu, diperlukan penanganan baik dari orang tua maupun guru di sekolah untuk pendidikan kesehatan mengenai bermain pada anak yang dibantu oleh pihak kesehatan terkait misalkan perawat atau psikolog melalui workshop atau seminar di sekolah dan family therapy.
Pendahuluan : Bermain adalah unsur yang penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental, intelektual, kreativitas, dan sosial (Soetjiningsih, 1998). Anak usia sekolah adalah usia berkelompok atau sering disebut sebagai usia penyesuaian diri (Church & Stone dalam Hurlock, 2008). Pada masa perkembangan anak usia sekolah, permainan yang paling diminati adalah permainan yang bersifat persaingan (Hurlock, 2008). Anak-anak masa sekolah mengembangkan kemampuan melakukan permainan (game) dengan peraturan, (Desmita, 2008). Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi internet, game online juga mengalami perkembangan yang pesat. Game online adalah game yang berbasis elektronik dan visual (Rini, 2011). Game online mempunyai perbedaan yang sangat besar dengan game lainnya yaitu pemain game tidak hanya dapat bermain dengan orang yang berada di sebelahnya namun juga dapat bermain dengan beberapa pemain lain di lokasi lain, bahkan hingga pemain di belahan bumi lain (Young, 2007). Anak dianggap lebih sering dan rentan terhadap penggunaan permainan game online daripada orang dewasa (Griffiths & Wood, 2000 dalam Lemmens, 2009). Adiksi game online ditandai oleh sejauh mana pemain game bermain game secara berlebihan yang dapat berpengaruh negatif bagi pemain game tersebut.
Metode penelitian: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Variabel dalam penelitian ini adalah adiksi bermain game online yaitu salience, tolerance, mood modification, relapse, withdrawal, conflict, dan problems (Lemmens, 2009). Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah yang sedang bermain game online di warung internet penyedia game online Jatinangor dengan jumlah yaitu 100 anak usia sekolah dan penelitian ini menggunakan pengambilan sampel berupa accidental sampling. Kriteria sampel pada penelitian ini adalah anak usia sekolah di kecamatan Jatinangor yang sedang bermain game online di warung internet penyedia game online selama minimal 6 bulan terhitung dari pertama kali pemain mulai bermain game online dan telah memenuhi kriteria tertentu (Young, 1998 dalam Lemmens, 2009). 
Hasil: Hasil penelitian ini diketahui bahwa dari 71 responden terdapat 62% yang adiksi bermain game online dan sebanyak 38% responden tidak mengalami adiksi bermain game online. Maka gambaran penelitian ini sebagian besar dari responden anak usia sekolah mengalami adiksi bermain game online di warung internet penyedia game online Jatinangor Sumedang. 
Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh simpulan bahwa sebagian besar dari responden anak usia sekolah mengalami adiksi bermain game online di warung internet penyedia game online Jatinangor Sumedang dan terdapat dampak negatif baik fisik maupun psikologi dari bermain game online yang dilakukan secara berlebihan. 
Saran : Bagi Sekolah Pihak sekolah memberikan kepercayaan kepada konselor sekolah untuk mengadakan workshop atau seminar tentang adiksi game online dan masalah yang akan ditimbulkan. Bekerjasama dengan pihak kesehatan terkait misalkan perawat dengan penanganan secara preventif. Sekolah merupakan wadah yang tepat bagi anak dalam menimba wawasan dan ilmu termasuk ilmu teknologi. 
Bagi Keperawatan Komunitas 
Keperawatan komunitas dalam melaksanakan perannya terhadap masyarakat dapat bekerjasama dengan keluarga untuk menerapkan teknik family therapy dalam penanganan adiksi bermain game online yang berlebihan pada anak. Teknik ini berfokus pada beberapa bidang utama yaitu terdiri dari. 
1. Mendidik keluarga tentang bagaimana timbulnya adiksi internet 
2. Mengurangi perilaku menyalahkan bermain game online pada anak 
3. Meningkatkan komunikasi terbuka pada keluarga 
4. Mendorong anak untuk menemukan hobi baru 
5. Mengambil waktu liburan lebih lama untuk anak bersama orang tua 
6. Mendengarkan curahan hati perasaan anak 

Bagi Peneliti Selanjutnya Penelitian ini dapat dijadikan dasar penelitian lanjutan tentang hubungan adiksi bermain game online pada anak usia sekolah dengan kebutuhan dasar manusia (kebutuhan istirahat dan tidur, kebutuhan nutrisi, dan kebutuhan aktivitas) dengan menggunakan sampel penelitian yang lebih banyak. 

Referensi : https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=13&cad=rja&uact=8&ved=0CC0QFjACOAo&url=http%3A%2F%2Fjurnal.unpad.ac.id%2Fejournal%2Farticle%2Fdownload%2F745%2F791&ei=-OhQVIXqH4vz8gXSrIHoDA&usg=AFQjCNGcL81ayOh7wb_IKHl_fzE0KwU9rg&sig2=cW7LfUJUJrofjamS_HrrZQ&bvm=bv.78597519,d.dGc

Jurnal Ketiga 

Judul : Pengujian Validitas Konstruk Kriteria Kecanduan Internet
Penulis : Helly P. Soetjipto
Tahun :
Abstrak :  Sejak dikembangkannya perangkat lunak Netscape  pada awal dekade 1990an, internet menjadi bagian dari gaya hidup baru di seluruh dunia. Perangkat lunak tersebut memungkinkan para pengguna internet yang semula berbasis teks (textbased internet)  untuk beralih menikmati kecanggihan pertukaran informasi berbasis gambar (graphicbased internet ). Perkembangan perangkat keras dan perangkat lunak komputer berbasis gambar yang sangat pesat menjadikan pengguna jasa internet menjadi semakin dimanjakan dengan tampilan, isi informasi, fasilitas, serta unjuk kerja internet. Pengguna internet dapat memanfaatkan perangkat lunak web browsing untuk mengakses beraneka
ragam informasi. Keragaman informasi inilah yang tampaknya menjadikan mereka tahan berlama lama di depan komputer. Mereka dapat melakukan browsing  beragam informasi dari yang
berkaitan dengan pekerjaan, pendidikan, hobi, bisnis, dan bahkan situs yang dikategorikan sebagai kegiatan yang dianggap negatif seperti misalnya, cybercrime  (hacking , cracking , dan carding ),
internet gambling,  dan cybersex  atau  cyberporn. Sebagian dari para pengguna juga menggunakan internet untuk melakukan suratmenyurat ( e mail), diskusi kesejawatan melalui fasilitas mail list ( news group),  chatting atau ngobrol dengan  cyberfriends, dan melakukan teleconferencing melalui vasilitas VOIP (voice over internet protocol). Keragaman dan kemudahan yang ditawarkan internet menjadikan curahan waktu untuk menggunakannya menjadi semakin meningkat. Peningkatan curahan waktu
dan penggunaan internet yang sangat intensif ini menimbulkan berbagai permasalahan yang di kalangan para ahli psikologi dikenal antara lain sebagai kecanduan internet ( internetaddiction). Sebagai sebuah topik kajian yang relatif baru, istilah kecanduan internet atau internet addiction  memperoleh
tanggapan yang serius dari kalangan akademik setelah istilah tersebut dimunculkan oleh Kimberly Young pada tahun 1996 (Young, 1999). Meskipun pada periode sebelumnya telah banyak perhatian para ahli psikologi untuk mengkaji masalah interaksi antara komputer dengan manusia (humancomputer
interaction ), namun kontroversi timbul justru karena digunakannya istilah
addiction  (kecanduan) oleh Young.
Pendahuluan :  Young (1999) didasarkan atas jenis aktivitas yang dilakukan para pengguna
internet. Kategorisasi yang searah dengan Young (1996) ini justru semakin berkembang. Young membagi kecanduan internet ke dalam lima kategori, yaitu:
a. Cybersexual addiction,  yaitu seseorang yang melakukan penelusuran dalam situs situs porno atau cybersex  secara kompulsif
b. Cyberrelationship addiction , yaitu seseorang yang hanyut dalam pertemanan melalui dunia cyber .
c. Net compulsion , yaitu seseorang yang terobsesi pada situs situs perdagangan (cyber shopping atau daytrading ) atau perjudian (cyber casino ).
d. Information overload , yaitu seseorang yang menelusuri situs situs informasi secara kompulsif.
e. Computer addiction , yaitu seseorang yang terobsesi pada permainan permainan online (online games ) seperti  misalnya Doom, Myst, Counter Strike , Ragnarok  dan lain sebagainya.Davis (2001a) menyebutkan beberapa jenis fasilitas pada internet yang dapat memicu ter jadinya kecanduan. Beberapa fasilitas tersebut antara lain online sex, online games, online casino  (perjudian), online stock trading (bursa efek), dan online auctions  (lelang). Dalam tulisannya yang lain, Davis
(2001) menyebutkan dua j enis kecanduan internet, yaitu kecanduan internet spesifik (specific pathological internet use)  untuk menggambarkan seseorang yang kecanduan hanya pada satu macam fasilitas yang ditawarkan oleh internet, dan kecanduan internet umum (generalized pathological internet
use)  untuk menggambarkan seseorang yang kecanduan semua fasilitas yang ditawarkan oleh internet secara keseluruhan.
Metode penelitian :  Responden
Partisipan penelitian ini adalah pengguna jasa internet yang sebagian besar berasal dari kota Yogyakarta, sebanyak 124 responden yang memiliki kisaran usia antara 14 tahun hingga 35 tahun. Sebagian besar dari mereka adalah pelajar dan mahasiswa. Hanya ada tiga responden yang sudah bekerja dan usia mereka adalah 30, 32, dan 35 tahun. Seluruh responden setidaknya telah menggunakan internet selama 6 bulan secara terus menerus. Dengan demikian mereka dapat dianggap sebagai  existing user (Grohol, 1999) dan telah mengenal dan mampu menggunakan fasilitas yang disediakan oleh internet. Ada sebanyak 63 orang responden lakilaki (50,81 persen) dan 61 responden
perempuan (49,19 persen).

Referensi : https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=50&cad=rja&uact=8&ved=0CGYQFjAJOCg&url=http%3A%2F%2Fjurnal.psikologi.ugm.ac.id%2Findex.php%2Ffpsi%2Farticle%2Fview%2F91%2F81&ei=jexQVKU3hryYBeCWgqgB&usg=AFQjCNE-iCmaSEi0KcQL_Su_BuG3-V139A&sig2=LlOLQCtE2vKrjowTPUUA6g&bvm=bv.78597519,d.dGc


  • Dari ketiga review jurnal tersebut maka dapat di simpulkan :


  Internet Addiction adalah suatu kegiatan yang berada di luar batas yaitu kegiatan pemakaian atau penggunaan internet secara berlebihan sehingga dapat menyebabkan kecanduan,mengapa?  karena internet menawarkan berbagai macam informasi, permainan, dan hiburan. Kemudahan yang di janjikan internetlah yang tampaknya menjadikan mereka para internet addiction dapat  tahan berlama lama di depan komputer.  biasanya mereka merasa senang dengan durasi penggunaan internet , menjadi cemas dan bosan ketika harus melalui beberapa hari tanpa internet. 

  • Fenomena internet addiction 

Bermain games online secara berlebihan.
Salah satu contoh kasusnya di ambil dari warung penyedia game online pada anak sekolah di Jatinangor, Sumedang. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 38% responden termasuk dalam kategori tidak adiksi atau orang dewasa dan 62% responden termasuk dalam kategori adiksi atau anak sekolahan. Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa tingkat terbesar penggunaan game online dapat terjadi pada anak usia sekolah. Oleh karena itu, diperlukan penanganan baik dari orang tua maupun guru di sekolah untuk pendidikan kesehatan mengenai bermain pada anak yang dibantu oleh pihak kesehatan terkait misalkan perawat atau psikolog melalui workshop atau seminar di sekolah dan family therapy.


  • Jenis-Jenis Internet Addiction 

Kategorisasi yang dikembangkan oleh Young (1999) didasarkan atas jenis aktivitas yang dilakukan para pengguna internet. Kategorisasi yang searah dengan Young (1996) ini justru semakin berkembang. Young membagi kecanduan internet ke dalam lima kategori, yaitu:
a. Cybersexual addiction,  yaitu seseorang yang melakukan penelusuran dalam situs situs porno atau cybersex  secara kompulsif


b. Cyberrelationship addiction , yaitu seseorang yang hanyut dalam pertemanan melalui dunia cyber .


c. Net compulsion , yaitu seseorang yang terobsesi pada situs situs perdagangan (cyber shopping atau day trading ) atau perjudian (cyber casino ).

d. Information overload , yaitu seseorang yang menelusuri situs situs informasi secara kompulsif.

e. Computer addiction , yaitu seseorang yang terobsesi pada permainan permainan online (online games ) seperti  misalnya Doom, Myst, Counter Strike , Ragnarok  dan lain sebagainya.


Akibat dari kasus computer addiction.


Sumber : Youtube 

#Pinternet 
PSIKOTERAPI VIA INTERNET 

JURNAL 1 :

KONSELING HIV ONLINE BERBASIS INTERNET
Oleh : Muhammad Sunarto


Kasus HIV/AIDS di Indonesia berawal pada tahun 1987 yang pertama kali ditemukan pada tahun 1987 di Bali yakni seorang turis yang berasal dari Belanda. Namun seiring dengan waktu meningkat sangat tajam. Kasus  tersebut bukan lagi pada turis  asing namun telah menjangkiti warga Negara Indonesia sendiri dan bahkan telah ada di  seluruh wilayah Indonesia. Peningkatan yang sangat tajam banyak dijumpai di daerah -daerah tertentu dan kelompok - kelompok perilaku risiko tinggi terutama pekerja seks dan pelanggannya.  Hasil survei sekitar tahun 2000- 2002 menunjukkan bahwa pro- porsi  pekerja seks yang terinfeksi HIV masing -masing 26% di Merauke, 6% di Sorong, 8% di  Batam/Karimun dan 22% pada waria di Jakarta. Survei pada pekerja seks di Denpasar  juga menunjukkan bahwa dalam waktu 6 bulan proporsi yang terinfeksi HIV meningkat sebanyak 300%, yaitu dari 1% pada bulan Juni - September 2000 menjadi 2% pada bulan Oktober - Desember dan menjadi 7% pada bulan April - Mei 2001. Survei pada lebih dari 800 orang laki - laki kelompok tertentu di Denpasar pada tahun 2001 menunjukkan bahwa 1% dari mereka HIV+. Pada pemakai narkotika suntik proporsinya bahkan jauh lebih  tinggi yaitu 53% di Lembaga Pemasyarakatan Denpasar, 40% di RSKO Jakarta dan 24% di pusat rehabilitasi Bogor. Epidemi HIV diperkirakan sudah menjangkau masyarakat umum. Ini tercermin dari peningkatan proporsi HIV+ pada darah donor sebanyak 10 kali lipat pada tahun 2001 dibanding 3 tahun sebelumnya. Pada tahun 2003, jumlah penduduk Indonesia yang telah terinfeksi HIV diperkirakan sekitar 120.000 orang dan infeksi baru yang akan terjadi tahun 2003 diperkirakan sekitar 80.000 orang dan hingga Juni 2010 kasus AIDS telah mencapai 21.770 kasus dan telah meninggal sejumlah 4128. Di antara kasus tersebut kelompok umur yang terbanyak adalah pada rentang usia 15 –59 tahun 20.354 kasus, kelompok ini merupakan kelompok usia produktif dan aktif secara seksual. (Gunung, 2003; Ditjen PPM & PL Depkes RI, 2010).
Melihat kasus - kasus yang terjadi sangat tinggi pada kelompok usia produktif maka akan memberikan dampak yang sangat luas pada penderita yang bukan hanya masalah kesehatan namun juga akan berdampak pada seluruh aspek kehidupan pada penderita. Diantara dampak tersebut adalah stigmatisasi dan diskriminalisasi dari orang -orang di sekitarnya. Hal ini akan menyurutkan niat dari seorang penderita untuk dapat mengakses layanan kesehatan sehingga memungkinkan seseorang untuk dapat menularkan virusnya kepada orang lain yang semakin hari semakin bertambah. Ketertutupan dari seorang 4 penderita bukan hanya berdampak pada diri sendiri namun juga pada keluarga, dan lingkungan sekitarnya baik secara langsung maupun secara tidak langsung.Penderita memandang bahwa penyakit yang diderita bila diketahui oleh publik maka akan di usir, dianggap telah melakukan perbuatan asusila, melanggar norma - norma dan aturan - aturan yang berlaku dalam keluarga dan masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu seorang penderita akan menutup informasi tentang dirinya secara ketat. Hal ini jelas akan memperburuk kondisi dari seorang penderita. Upaya yang dapat dilakukan dalam meminimalisir dampak yang muncul dan meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan dan keinginan penderita atau orang yang berisiko tertular untuk melakukan konseling dan tes HIV, diperlukan akses yang lebih mudah, terjangkau bagi masyarakat luas serta kerahasiaan terjamin.

Pengertian Konseling, online dan konseling online.

1.     Konseling adalah proses membantu seseorang untuk belajar mencari solusi bagi masalah emosi, interpersonal dan pengambilan keputusan (WHO, 2004). Suatu dialog antara seseorang yang bermasalah (klien) dengan orang yang menyediakan pelayanan konseling ( konselor/perawat/perawat) dengan tujuan untuk memberdayakan klien agar mampu menghadapi permasalahannya dan sanggup mengambil keputusan yang mandiri atas permasalahan tersebut.(Gunung, et al, 2003).
2.     Online adalah Komputer atau perangkat yang terhubung ke jaringan (seperti Internet) dan siap untuk digunakan (atau digunakan oleh) komputer atau perangkat lain.(Business Dictionary, 2010)
3.     Online Konseling adalah konseling melalui internet yang secara umum merujuk pada profesi yang berkaitan dengan layanan kesehatan mental melalui teknologi komunikasi internet. (Amani,2007)

Konsep Online
Online konseling mengacu pada kegiatan konseling yang berbasis hubungan virtual dengan beradasar pada kebutuhan klien yang masih mempunyai jarak dan masih ragu untuk lebih terbuka kepada orang lain ( Hanley T.,2006). Walaupun sebenarnya online konseling merupakan hal yang masih langka di Indonesia namun beberapa negara maju di bidang teknologi telah memanfaatkan teknologi informasi ini dalam memberikan kemudahan akses bagi masyarakatnya.Di Indonesia, hanya ada satu layanan yang memberikan konseling dan tes HIV melalui internet yakni www.mautau.com. Namun layanan ini merupakanlayanan yang diselenggarakan oleg sebuah LSM yang bergerak di bidang HIV/AIDS.
Pada instansi pemerintah hal ini belum akrab digunakan.Keunggulan layanan ini adalah memberikan layanan yang mudah dan murah serta kerahasiaan terjamin dan daya jangkau yang sangat luas di seluruh wilayah yang telah mempunyai akses internet. Namun disamping keunggulan tersebut, layanan ini jelas memiliki kelemahan yakni menyulitkan bagi orang - orang yang tidak memahami  teknologi komputer dan telepon genggam berbasis internet dan chatting serta kesulitan dalam memahami emosi yang muncul dari kedua belah pihak terutama kliennya. diadaptasi darihttp://picsdigger.com/domain/houstonzoo.org/ dengan modifikasi. Pada layanan konseling online ini,  konselor/perawat harus memiliki komputer atau telepon genggam yang terkoneksi dengan internet dan mempunyai fasilitas chatting. Langkah - langkahnya :
1.     Klien menghubungi konselor/perawat melalui koneksi internet melalui fasilitas chatting dan konselor/perawatmelakukan proses konseling online dengan cara chatting kepada klien
2.     Setelah klien merasa telah siap untuk melakukan tes maka klien dapat mengisi form isian yang dapat diunduh dan ditandatangani kemudian klien mendatangi laboratorium untuk melakukan tes
3.     Pihak laboratorium akan memberikan hasil tes kepada konselor melalui fasilitas isian yang telah disediakan oleh konselor.
4.     Klien kemudian melakukan proses konseling kembali, apabila yang bersangkutan dinyatakan negatif dan tidak dalam proses masa periode jendela maka yang bersangkutan bisa dibacakan hasilnya melalui proses chating namun apabila hasilnya positif maka klien diharapkan datang ke klinik untuk proses konseling lebih lanjut. Hal ini dilakukan untuk memberikan rasa aman pada klien atas hasil yang diperolehnya.
5.     Konselor memberikan konseling lanjutan dan rujukan sesuai dengan kebutuhan klien.Konselor/perawat

Penderita/klien atau orang - orang yang berisiko tertular HIV adalah mereka yang mempunyai masalah ketakutan akan diskriminasi dan stigmatisasi dari lingkungannya. Mereka adalah orang-orang yang kemungkinan juga akan menularkan kepada orang - orang di sekitarnya bila mereka tidak mengetahui status HIV -nya. Layanan konseling online hanyalaha segelintir layanan yang dapat diberikan kepada masyarakat luas dalam memberikan kemudahan dan menghilangkan rasa takutnya terdiskriminasi dan terstigmatisasi sampai mereka mampu untuk lebih terbuka kepada orang - orang di sekitarnya dan masyarakat pada umumnya. Kemudahan akses ini pula memungkinkan seorang klien lebih mudah mendapatkan layanan sesuai dengan kebutuhannya akan permasalahan kesehatan yang dihadapi serta masalah - masalah lain yang terkait dengnan penyakit yang dideritanya tersebut.
Layanan ini bukan tidak memiliki kelemahan, namun diharapkan kelemahan ini dapat diperkecil dengan kemampuan konselor dalam menguasai teknologi dan juga kemampuan konselingnya sehingga mereka mampu mengambil langkah - langkah yang tepat dalam meminimalisasi kemungkinan yang akan timbul akibat proses konseling ini. Layanan konseling online ini diharapkan ada dan mampu disediakan oleh pemerintah dalam upaya mencapai target sasaran yang lebih optimal dan meminimalisasi penularan yang semakin hari semakin meningkat.Layanan konseling online ini diharapkan dapat tersedia di semua layanan Klinik VCT
yang telah ada di seluruh Indonesia khususnya rumah sakit -rumah sakit
kabupaten dan beberapa puskesmas di beberapa wilayah yang memiliki risiko tinggi penularan HIV.


Jurnal 2 
Konseling Online: Sebuah Pendekatan Teknologi
Dalam Pelayanan Konseling
Oleh : Zadrian Ardi Frischa Meivilona Yend

Konseling mengandung nilai - nilai pendidikan dan membawa tugas untuk memuliakan kemanusiaan manusia. Secara aplikatif, proses konseling akan membawa seseorang menuju kondisi yang membahagiakan,sejahtera dan berada pada kondisi efektif dalam kehidupan sehari - hari (Prayitno, 2009: 19). Kemudian, konseling didesain untuk menolong klien memahami dan menjelaskan pandangan mereka terhadap kehidupan, dan untuk membantu men¬capai tujuan penentuan diri (self - determinan) mereka melalui pilihan yang telah diinformasikan dengan baik serta bermakna bagi mereka, dan melalui pemecahan masalah emosional atau karakter interpersonal. (Burks dan Stefflre, dalam John McLeod, 2008: 5). Perkembangan konseling juga tidak lepas dari pengaruh perkembangan teknologi. Pada awalnya konseling hanya sebatas pertemuan tatap muka (face to face) antara Konselor dan Klien, namun saat ini konseling juga dapat diselenggarakan dengan berbagai media yang memungkinkan hubungan konseling jarak jauh (Prayitno, 2012: 136). Penghantaran konseling jarak jauh yang dibantu oleh teknologi terus bertumbuh dan mengalami proses evolusi. Bantuan teknologi di dalam bentuk penilaian dengan bantuan komputer dan sistem informasi dengan bantuan komputer telah tersedia dan digunakan secara luas selama beberapa waktu ini. Perkembangan yang pesat dan penggunaan internet untuk meng¬hantarkan informasi dan menyokong komunikasi telah menghasilkan bentuk -bentuk konseling baru, salah satunya adalah konseling jarak jauh yang dibantu teknologi, yang dapat diperbaharui dengan mudah dalam kaitannya dengan evolusi teknologi dan praktiknya.Penggunaan teknologi dalam konseling telah tumbuh dengan sangat cepat. Apa yang semula hanya janji,kini telah menjadi kenyataan, dan “teknologi telah memberikan dampak yang kuat pada hampir semua kehidupan, termasuk pendidikan, bisnis, sains, agama, pemerintahan, pengobatan, dan pertanian” (Hohenshil, dalam Samuel T Gladding, 2012:28)
Perkembangan konseling juga tidak lepas dari pengaruh perkembangan teknologi. Pada awalnya konseling hanya sebatas pertemuan tatap muka (face to face) antara Konselor dan Klien, namun saat ini konseling juga dapat diselenggarakan dengan berbagai media yang memungkinkan hubungan konseling jarak jauh (Prayitno, 2012: 136). Penghantaran konseling jarak jauh yang dibantu oleh teknologi terus bertumbuh dan mengalami proses evolusi. Bantuan teknologi di dalam bentuk penilaian dengan bantuan komputer dan sistem informasi dengan bantuan komputer telah tersedia dan digunakan secara luas selama beberapa waktu ini. Perkembangan yang pesat dan penggunaan internet untuk meng¬hantarkan informasi dan menyokong komunikasi telah menghasilkan bentuk - bentuk konseling baru, salah satunya adalah konseling jarak jauh yang dibantu teknologi, yang dapat diperbaharui dengan mudah dalam kaitannya dengan evolusi teknologi dan praktiknya. Penggunaan teknologi dalam konseling telah tumbuh dengan sangat cepat. Apa yang semula hanya janji, kini telah menjadi kenyataan, dan “teknologi telah memberikan dampak yang kuat pada hampir semua kehidupan, termasuk pendidikan, bisnis, sains, agama, pemerintahan, pengobatan, dan pertanian” (Hohenshil, dalam Samuel T Gladding, 2012:28)
Semula, teknologi digunakan dalam konseling untuk mempermudah penyimpanan rekaman, mengolah data dan mengolah kata. Kini, factor -faktor yang mempengaruhi interaksi teknologi - klien semakin mendapat perhatian, khususnya internet dan telepon (Reese, Conoley, dan Brossart, dalam Samuel T. Gladding, 2012:28) “Jumlah aplikasi komputer berbasis jaringan dalam konseling meningkat sangat cepat” (Sampson, Kolodinsky, dan Greeno, dalam Samuel T. Gladding, 2012:28). E -mail juga digunakan dalam interaksi konselor - klien. Situs web dikelola oleh organisasi konseling, program pendidikan konselor, dan konselor individual (Pachis, Rettman, dan Gotthoffer, dalam Samuel T. Gladding, 2012:28). Bahkan terdapat jurnal konseling profesional online. Kondisi perkembangan internet yang membawa dampak pada pelayanan konseling dibuktikan dengan munculnya lebih dari 200.000 website penyedia layanan konseling di seluruh dunia, dengan menyediakan ribuan konselor yang siap membantu individu dengan berbagai permasalahannya (Pittu Laungani, 2004: 101). Selanjutnya banyak konselor yang telah mengiklankan layanannya melalui website di seluruh dunia, sehingga klien yang berasal dari negara dan lokasi manapun dapat mengakses dan mendapatkan layanan konseling (John McLeod, 2009: 552).

RUANG LINGKUP KONSELING ONLINE
Proses pelaksanaan konseling online akan berhubungan dengan semua perangkat pendukung layanan tersebut, apakah itu hardware, software, ataupun networking infrastructure yang akan memungkinkan konselor dan klien melakukan hubungan konseling. Beberapa hal yang perlu untuk diketahui oleh konselor yang akan terlibat dalam hubungan konseling via internet diantaranya; pertama internet dan web, internet sesuai dengan perkembangannya membawa suatu kode dan bahasa tersendiri sehingga antara satu komputer dengan computer lain dapat saling berkomunikasi satu sama lain dengan lancar dan hampir tidak memiliki permasalahan berkenaan dengan waktu dan jarak tempuh (Hagen Graf, 2008: 8). Terdapat perbedaan mendasar antara internet dan web. Pada dasarnya internet merupakan kumpulan dari jaringan komputer yang tersebar di seluruh dunia, dimana semua komputer tersebut dapat saling bertukar informasi dan data menggunakan communication protocols.Sedangkan web merupakan jutaan dokumen elektronik yang saling berhubungan sehingga dapat diakses menggunakan Internet Protocol (Ron Kraus, George Stricker dan Cedric Speyer, 2010: 73-74). Hal kedua yang perlu diketahui Konselor adalah email dan chat program, email merupakan salah satu komunikasi standar pada internet, sedangkan text chat sedikit berbeda dari email sehingga pengguna (Konselor dan Klien) dapat berkomunikasi dengan keadaan real - time dengan menggunakan internet (Ron Kraus, Jason S. Zack, George Stricker, 2004: 104 - 106). Selanjutnya Ron Kraus, dkk mengemukakan videoconferencing merupakan suatu aplikasi yang hampir sama degan text chat, namun selain mengandung unsur pertukaran informasi melalui text juga terjadi komunikasi melalui tampilan video masing - masing pengguna secara real - time.Selanjutnya, hal penting yang harus dipahami konselor adalah pertukaran data dan informasi klien melalui document sharing and form, sehingga konselor dapat mengetahui data -
data umum dari klien maupun data berkenaan dengan permasalahan klien selama proses konseling berlangsung.
Beberapa keuntungan yang diperoleh melalui konseling online adalah;
1.     terdapat rekaman yang permanen selama proses konseling berlangsung, hal ini akan sangat bermanfaat bagi klien, konselor maupun supervisor konselor,
2.     seni mengetik akan membantu individu untuk merefleksikan pengalamannya, (3) klien dapat mengekspresikan perasaannya dalam kondisi “sekarang”, klien dapat segera mengetik dan mengirimkan email ketika sedang merasa depresi atau mengalami gejala panik tanpa harus menunggu hingga sesi konseling berikutnya (Murphy and Mitchell, dalam John McLeod, 2009: 553).
Namun demikian, permasalahan kode etik dalam pelayanan konseling online perlu mendapat perhatian lebih lanjut dari petugas lapangan maupun pengembang pendekatan ini. Berdasarkan hasil survey Shaw and Shaw (dalam John McLeod, 2009: 553) mengenai permasalahan kode etik pelayanan konseling online bahwa pada tahun 2002 terdapat 88 website konseling, yang hanya 88% diantaranya mencantumkan nama lengkap konselor dengan 75% konselor yang telah berkualifikasi, kemudian 49% menggunakan prosedur penilaian dan hanya 27% menggunakan software pengaman yang telah terenkripsi, hal ini merupakan peringatan bagi konselor yang bergerak dalam ranah konseling online.

Sumber : http://download.portalgaruda.org/article.php?article=66309&val=4796


JURNAL 3 :
Sistem Informasi Manajemen Bimbingan dan Konseling (SIM-BK)
Sekolah Menengah Atas di Kota Bandung
Oleh : Eka Sakti Yudha (Universitas Pendidikan Indonesia)


Dewasa ini dunia tengah berada pada era informasi, hal ini berarti bahwa informasi sudah menyentuh seluruh segi kehidupan dan penghidupan baik pada tingkat individual, tingkat kelompok, dan tingkat organisasi. Pada tingkat individu, misalnya aneka ragam informasi yang dibutuhkan berhubungan dengan pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, bisnis dan sebagainya. Penggunaan teknologi informasi melalui sistem informasi bukan hanya akan meningkatkan kualitas serta kecepatan informasi yang dihasilkan bagi manajemen akan tetapi dengan teknologi informasi yang tepat, akan menciptakan suatu sistem informasi yang mampu meningkatkan integritas di bidang informasi dan operasi diantara berbagai pihak yang ada di suatu organisasi lokal maupun global.  
Sesungguhnya, konsep sistem informasi telah ada sebelum munculnya komputer. Sebelum pertengahan abad ke-20, namun penelitian dan penerapan aplikasi teknologi dalam bidang bimbingan dan konseling dimulai pada tahun 1990's (Edwards, Portman dan Bethea, 2002). Sebagian besar penelitian yang berkaitan dengan penggunaan teknologi dalam konseling dapat dikelompokkan menjadi 3 bidang utama yang digunakan dalam teknologi (1) pencatatan, (2) analisis data, (3) cybercounseling dan cyberlearning. (Yusof, 2009). Di Indonesia sendiri penerapan teknologi dalam bidang bimbingan dan konseling tengah dimulai sejak tahun 1990-an, namun mulai dipublikasikan mulai tahun 2003.
Menurut hasil wawancara yang dilakukan terhadap 40 orang guru BK yang bertugas di SMA negeri Bandung, mengindindikasikan 70% sekolah; lebih spesifiknya menajmen BK (bimbingan dan konseling) belum menggunakan komputer sebagai alat bantu pemanggilan data siswa (Yudha, 2007). Dapat dibayangkan konselor yang bertugas dilapangan sangat disibukkan dengan kendala administratif yang semestinya dapat terkoordinir dengan baik. Terlebih lagi konselor yang bertugas di lapangan tidak dibekali dengan kemapuan/softskill mengoperasikan atau membuat program komputer, untuk mempermudah kinerjanya.
Menurut hasil observasi yang dilakukan pada konselor SMA negeri di kota Bandung, konselor membutuhkan waktu hingga 1 minggu ketika membutuhkan informasi tertentu yang berkenaan dengan siswa (Yudha, 2007),pengelolaan data dan informasi bimbingan dan konseling yang dilakukan secara manual, jika tidak segera dibenahi, maka implikasinya akan berimbas pada diri konselor hingga pada kepuasan pelayanan stakeholders.
Implikasi bagi konselor diantaranya adalah dengan adanya fenomenaburnout di kalangan guru/konselor (Ilfiandra, 2002), menurut survey yang dilakukan majalah Tempo bulan April tahun 2000 tentang masalah yang paling berat dirasakan guru/ konselor diantaranya adalah beban administrasi (Tempo, 2000). Persoalan yang lebih spesifik adalan temuan Arismunandar (1997) bahwa 21,62% konselor mengalami stres kerja ringan, 48,11% stres kerja sedang dan 30,27% mengalami stres kerja serius.
Dukungan sistem dalam layanan bimbingan konseling bertujuan untuk memantapkan, memelihara dan meningkatkan mutu program layanan bimbingan dan konseling (Eric:1990 dalam Nurihsan, 2003:66). Mutu layanan BK akan berkualitas jika dirancang berdasarkan analisa kebutuhanstakeholders di lapangan. Dengan dukungan sistem yang baik analisa kebutuhan tersebut dapat menjadi informasi yang sangat berguna.
Selanjutnya, aktivitas manajemen tersebut diarahkan pada pengembangan program, pengembangan staf, pemanfaatan sumber daya masyarakat, pengembangan dan penataan kebijakan (Nurihsan, 2003:66). Pengembangan program yang dimaksud adalah penyusunan program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kondisi riil siswa di sekolah, pengembangan tersebut sebagai sebuah upaya strategis bagi peningkatan mutu layanan bimbingan dan konseling.
Pengembangan sistem informasi manajemen dilakukan melalui beberapa tahap, dimana masing-masing langkah menghasilkan suatu yang lebih rinci dari tahap sebelumnya. Tahap awal dari pengembangan sistem umumnya dimulai dengan mendeskripsikan kebutuhan pengguna dari sisi pendekatan sistem rencana stratejik yang bersifat makro, diikuti dengan penjabaran rencana stratejik dan kebutuhan organisasi jangka menengah dan jangka panjang, lazimnya untuk periode 3 sampai 5 tahun. Masukan (input) utama yang dibutuhkan dalam tahap ini mencakup: (1) kebutuhan stratejik organisasi; (2) aspek legal pendukung organisasi; (3) masukan kebutuhan dari pengguna (Sutono:2007).
Pendekatan pengembangan sistem informasi manajemen yang sederhana, lebih dikenal sebagai model air terjun (waterfall model). Pekerjaan pengembangan sistem dengan model air terjun dimulai dengan pembuatan spesifikasi kebutuhan suatu sistem. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh orang yang memesan sistem atau pengembang yang bekerja sama dengan pemesannya. Setelah spesifikasi kebutuhan ini selesai, lantas dilakukanlah suatu analisis dan deskripsi logika sistem melalui sebuah penelitian.
Gerakan penelitian besar-besaran untuk mempelajari dampak teknologi dalam konseling dimulai pada tahun 1990's (Edwards, Portman dan Bethea, 2002). Sebagian besar penelitian yang berkaitan dengan penggunaan teknologi dalam konseling dapat dikelompokkan menjadi 3 bidang utama yang digunakan dalam teknologi (1) pencatatan, (2) analisis data, (3) cybercounseling dan cyberlearning (Yusof, 2009). Di Indonesia sendiri penerapan teknologi dalam bidang bimbingan dan konseling tengah dimulai sejak tahun 1990-an, namun mulai dipublikasikan mulai tahun 2003.
Penelitian yang dilakukan Bayuargo (2008) tentang sistem pengolahandata siswa, sistem informasi baru mampu menghasilkan laporan yang lebih lengkap dan dapat diakses dengan cepat, efisien dan akurat. Sangatmengurangi tingkat kesalahan-kesalahan data akibat keteledoran manusia (Human Error).
Sementara dari penelitian Susetyowati (2009) tentang aplikasi sistem informasi bimbingan dan konseling yang telah dilakukan pada SMK Muhammadiyah 1 Salam dapat diambil kesimpulan bahwa sistem lama yang sedang berjalan pada SMK Muhammadiyah 1 Salam masih manual dan human error yang ditimbulkan oleh sistem lama lebih banyak jika dibandingkan dengan sistem baru serta biaya yang dikeluarkan pada sistem lama akan lebih besar dibandingkan dengan sisem yang baru. Sistem baru dengan basis komputer khususnya dengan aplikasi Visual Basic 6.0 informasi yang dihasilkan lebih berkualitas dan dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan. karena sistem komputerisasi mempunyai benyak keuntungan terutama dalam pengolahan data.
Perkembangan teknologi dan informasi, tentunya tidak bisa terpisahkan dari kompetensi konselor selaku pengguna. Kompetensi tersebut merupakan kompetensi teknis yang terkait dengan kemampuan konselor dalam menggunakan berbagai aplikasi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang terkait dengan layanan bimbingan dan konseling.
Informasi yang lengkap, tepat, waktu cepat, akurat dan jelas sangat membantu pemimpin dalam mengambil keputusan dan karyawan dapat melakukan suatu langkah yang mendukung manajemen tanpa harus diperintah secara langsung oleh pimpinan dalam melakukan tindakan operasional.
Sistem informasi yang baik dapat membantu kelancaran, kecepatan dan efisiensi mekanisme kerja dari pengolahan data siswa sehingga informasi dapat diperoleh dengan cepat. 
Sistem perangkat lunak (software) yang kami buat pada SMK Muhammadiyah 2 Yogyakarta sangat memungkinkan untuk meningkatkan efektifitas kerja, mengurangi kesalahan-kesalahan dalam pengolahan data siswa, mempercepat proses pencarian data serta menghemat media penyimpanan data (Indrihastuti, 2008).

SUMBER : file.upi.edu/...BIMBINGAN/.../EKA%20SAKTI%20Y..



0 komentar:

Posting Komentar

 

Hasna putri anggraini Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos